Senin, 20 April 2026, pukul : 16:54 WIB
Surabaya
--°C

Membedah Mandat di Atas Matras: Strategi “Akar Rumput” Bareng Krajan Menakar Pemimpin Lewat Denyut Ekonomi

SIDOARJO-KEMPALAN: Di saat hiruk-pikuk politik sering kali terjebak dalam ruang tertutup dan sekat formalitas, warga Desa Bareng Krajan, Kecamatan Krian, punya cara sendiri yang lebih organik. Mereka tak butuh panggung pidato yang kaku; mereka hanya butuh lapangan terbuka, keringat bersama, dan geliat UMKM untuk menguji siapa yang layak memegang tongkat kepemimpinan.

Minggu sore (19/4/2026), Lapangan Perum Dam V Brawijaya yang masuk wilayah desa Bareng Krajan Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo menjadi saksi bisu sebuah fenomena demokrasi yang unik. Ribuan warga memadati area bukan sekadar untuk senam massal atau menikmati layanan kesehatan gratis, melainkan untuk menjalankan misi besar: Menyeleksi pemimpin melalui uji kepedulian nyata.


Demokrasi Tanpa Sekat


Tokoh masyarakat Bareng Krajan, Slamet Sarjono—yang akrab disapa Edy—menegaskan bahwa pemimpin desa masa depan tidak boleh lahir dari balik meja. Baginya, pemimpin adalah mereka yang berani lebur dalam kerumunan.
“Kami sedang memutus jarak. Senam massal dan bazar UMKM ini adalah simulasi kepemimpinan. Jika untuk turun dan berkeringat bersama warga saja enggan, bagaimana mereka bisa merasakan sesaknya beban ekonomi rakyat? Pemimpin yang amanah harus hadir saat rakyat bergerak, bukan hanya saat butuh suara,” tegas Edy dengan nada tajam.
Senada, Budi, tokoh masyarakat dari Dusun Badas, menilai pola ini sebagai bentuk “intelejen rakyat”. Menurutnya, karakter asli seorang calon pemimpin akan terlihat lebih jujur di tengah keramaian pasar dan kegiatan kolektif daripada di dalam baliho.


Syaiful Arif: Menjawab Mandat UU Desa
Hadir di tengah riuhnya warga, Syaiful Arif, figur yang digadang-gadang bakal memimpin Bareng Krajan, tampak tidak canggung berbaur. Ia melihat gerakan ini sebagai bentuk edukasi politik tingkat tinggi yang jarang ditemukan di level desa.
“Ini adalah implementasi paling jujur dari UU Pemerintahan Desa tentang pemberdayaan. Kehadiran puluhan stan UMKM di sini bukan sekadar pelengkap, tapi simbol kedaulatan ekonomi. Ke depan, Bareng Krajan tidak boleh hanya jadi penonton pembangunan; kita harus menjadi pelaku utama dengan transparansi penuh,” ujar Syaiful Arif mantap.
Efek Domino: Menuju Konsolidasi Empat Dusun


Gerakan di Perum Dam V Brawijaya hanyalah permulaan. Aroma perubahan ini dipastikan akan merambat ke empat dusun utama: Bantengan, Badas, Bareng, dan kembali bermuara di Bareng Krajan.
“Ujian lapangan” ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Sidoarjo: bahwa di Bareng Krajan, legitimasi pemimpin tidak dibeli dengan janji, melainkan diraih melalui kedekatan emosional dan bukti nyata di tengah rakyat. Di sini, kursi kepemimpinan hanya milik mereka yang mampu melewati detak jantung dan peluh keringat warganya sendiri.
(Ambari Taufiq/M Fasicullisan)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.