Iran yang telah diisolir selama 47 tahun dan dengan nilai tukar mata uangnya (dibanding dolar AS) terendah di dunia, tentulah sepele di mata AS dan Israel. Karenanya Trump percaya, dalam 4 hari serangan massif, Iran akan bertekuk lutut.
Oleh: DR. Masri Sitanggang
KEMPALAN: (Dalam bentuk narasi, artikel ini dihapus oleh YouTube).
Peta politik dan kekuatan militer global berubah. Amerika Serikat dan Israel kehilangan daya tawar, apalagi kekuatan memaksa. Dunia Islam bergeliat, tapi Pemerintah Indonesia kehilangan muka.
AS dan Israel shock berat. Dikira, dengan membunuh pemimpin tertinggi, Ali Khamenei, dan sejumlah petinggi militer melalui operasi Epic Fury (AS) dan Lion’s Roar (Israel) yang dilancarkan – Sabtu pagi 28 Pebruari 2026 pukul 09.40, itu akan melumpuhkan Iran. Donald Trump sesumbar mengatakan, dalam 4 hari Iran akan bertekuk lutut.
Ternyata salah besar. Tidak sampai 12 jam setelah operasi massif militer gabungan AS-Israel itu, Iran langsung merespon dengan gelombang serangan yang tidak terduga.
Ribuan drone dan rudal diluncurkan ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer Amerika di Timur Tengah.
Iran memenuhi sumpahnya, yakni: akan menghancurkan semua pangkalan militer Amerika di Timur Tengah jika AS menyerang Iran. Iran bahkan siap untuk perang jangka panjang.
Rantai kepemimpinan dan sistem komando di Iran ternyata sudah kokoh. Maka, tewasnya Ali Khamenei tidak berarti apa-apa kecuali menambah bahan bakar melawan aggressor.
Inilah pengalaman terpahit dalam Sejarah AS sebagai negara Super Power. Belasan instalasi militernya – yang di Kuwait, Qatar, Saudi Arabia, Oman, Uni Emirat Arab, Yordan, Iraq – yang selama ini menjadi simbol dominasi dalam mengendalikan dunia, khususnya di Timur Tengah, hancur bersamaan dalam bilangan menit.
Bersama dengan itu pula setidaknya ada 560 tentara tewas atau terluka. Yang sangat menyakitkan lagi, itu cuma dilakukan oleh satu negara: Iran. Negara “miskin” yang telah diembargo total selama 47 tahun.
Iran melancarkan serangan balasan – yang disebutnya sebagai Operasi Janji Sejati 4 (Operation True Promise 4), gelombang demi gelombang dengan intesitas dan kualitas yang terus meningkat.
Hingga Senin 6 April 2026 (38 hari perang), sudah 98 gelombang ditunaikan. Pusat Komando dan Kendali Utama Angkatan Udara Israel di menara IAF, diratakan dengan tanah.
Markas Besar Mossad Hancur dan menewaskan Kepala Mossad, David Barnea. Bungker-bungker, termasuk bungker terkokoh tempat persembunyian para petinggi Israel serta bungker pusat intelijen di kawasan Glilot yang selama ini sangat rahasia dan paling aman, jebol dan mengubur seribuan jasad personel intelijen di dalamnya.
Kemudian fasilitas nuklir Dimona juga dihujani rudal dan drone menimbulkan kerusakan gedung pemerintahan dan pembangkit listrik, fasilitas minyak dan gas hancur berantakan. Israel darurat enegi.
Kilang minyak di Haifa, yang menyuplai 60 persen kebutuhan energi dalam negeri, hangus terbakar. Begitu juga kilang minyak Ashdod. Pada awal April ini, Iran menghancurkan pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi yang juga terhubung dengan kawasan industri strategis di Israel.
Kota megah dan indah Tel Aviv, yang tidak pernah sepi dari berbagai aktivitas, kini menjadi belantara puing-puing gedung.
Penghuninya kini juga sudah merasakan pedihnya penderitaan rakyat di Gaza: tidak ada rumah tempat berteduh, tidak ada air untuk cuci-mandi dan minum, tidak ada penerangan dan tidak ada makanan.
Bungker-bungker yang masih tersisa, tempat mereka bersembunyi, sudah beraroma busuk karena tumpukan limbah manusia.
Singkatnya, tidak ada lagi tempat yang aman di Israel. Rakyat berbondong-bondong mengungsi ke perbukitan, bukan lagi ke bungker. Banyak pula yang lari ke Cyprus dan negara lain dengan kapal laut. Bukan lagi dengan pesawat, karena bandara-bandara di Israel juga kopak-kapik dibuat Iran.
Bandara terbesar milik Israel, Ben Gurion, misalnya, hancur dihantam rudal Khaibar Shekan, menewaskan 4 ribu pasukan. Sebagian besarnya adalah pasukan Amerika yang baru mendarat untuk penempatan membantu Israel.
Instalasi-instalasi canggih militer AS di Israel berubah jadi barang rongsokan. Beberapa kantor kedutaannya di Timur Tengah luluh lantak. Pasukan yang masih hidup terpaksa diungsikan ke Jerman.
Radar-radar canggih yang menjadikan Amerika selama ini penguasa di udara hancur tak berguna lagi.
Di antaranya yaitu: Radar AN/TPY-2 – radar yang khusus dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan mengklasifikasi rudal balistik musuh dengan tingkat akurasi sangat tinggi, berbiaya lebih $300 juta – di Yordania hancur; radar Early-Warning AN/FPS-132 – merupakan tulang punggung pertahanan rudal global Amerika senilai $1 miliar, di Pangkalan Al-Udeid, Qatar, kopak-kapik.
Kapal-kapal perangnya pun, termasuk Kapal Induk Abraham Lincoln – yang jadi simbol kejayaan AS di laut, USS Gerald Ford – kapal induk nuklir terbesar di dunia berharga triliunan dolar AS, terpaksa melarikan diri karena terbakar dihantam rudal dan Drone Kamikaze.
Terbaru, Kapal Induk USS Tripoli dirudal Iran pada gelombang ke-98. Selain itu, setidaknya tiga kapal tanker rusak/tenggelam dan beberapa kapal kargo dan kontainer lainnya terbakar di beberapa lokasi.
Di Udara, sedikitnya 20 unit pesawat AS dari berbagai jenis, di tembak jatuh atau hancur. Ini merupakan penyumbang kerugian terbesar bagi pasukan koalisi AS-Israel.
Yang hampir tidak bisa dipercaya, Iran mampu merudal jet tempur F-35 –pesawat siluman andalan AS yang belum ada tandingannya di dunia. Ini betul-betul pukulan besar.
Belum pernah ada negara yang melakukan hal semacam ini terhadap AS kecuali Iran. Dikabarkan pula, sedikitnya sudah 173 tentara Amerika yang menginfiltarisi untuk serangan darat, ditawan pasukan penjaga perbatasan Iran.
Kesombongan AS dan Israel memang sudah berada di luar akal sehat. Mereka meremehkan semua negara di dunia kecuali, mungkin, China dan Rusia.
Sejak Amerika menjatuhkan bom Atom di Hirosima-Nagasaki, tahun 1945, dan Israel berdiri tahun 1948, “koalisi” dua negera ini bebas melakukan apa saja terhadap negara lain: menginvasi dan menguasai, mengganti pemimpin dan merampok kekayaan alamnya.
Tidak kurang dari 15 negara yang sudah mereka perlakukan seperti itu, termasuk di dalamnya Iraq, Libya dan terakhir – dengan mengerahkan Delta Force, menculik Presiden Venuzela, Nicolás Maduro, dengan tuduhan terlibat narkoterorisme international. Tak ada kekuatan yang menghalangi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun tak berdaya sementara negara-negara Eropa ada di bawah pengaruhnya.
Iran yang telah diisolir selama 47 tahun dan dengan nilai tukar mata uangnya (dibanding dolar AS) terendah di dunia, tentulah sepele di mata AS dan Israel. Karenanya Trump percaya, dalam 4 hari serangan massif, Iran akan bertekuk lutut.
Sistem pertahanan rudal mereka – Patriot, Arrow, Iron Dome dan juga sistem radar canggih – diyakini akan mudah menangkal rudal Iran. Tapi salah besar. Iran ternyaa telah memroduksi rudal super canggih yang kemampuannya jauh melampaui sistem pertahanan rudal andalan Amerika-Israel itu. (Bersambung Bag-2)
*) DR. Masri Sitanggang, Cendekiawan Muslim

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi