SIDOARJO – KEMPALAN : Genderang perang demokrasi di tingkat desa mulai bertalu kencang. Dari 18 kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, sebanyak 80 desa dipastikan akan menggelar Pilkades Serentak pada 24 Mei 2026 mendatang. Namun, perhatian publik kini tersedot ke satu titik panas: Desa Barengkrajan, Kecamatan Krian.
Minggu (1/3), Balai Desa Barengkrajan menjadi saksi bisu penetapan empat putra terbaik sebagai calon pemimpin. Pertarungan ini disebut-sebut sebagai “Ujian Nyali” paling ekstrem bagi pendatang baru. Bagaimana tidak? Tiga dari empat calon adalah tokoh yang sudah “kenyang” makan asam garam birokrasi desa: sang mantan Kades, mantan Sekdes, hingga sang incumbent (petahana) yang masih berkuasa.
Di tengah kepungan tiga raksasa tersebut, muncul satu sosok yang mencuri perhatian publik: Syaiful Arif. Berangkat dari latar belakang profesional sebagai pengadil di lapangan hijau (wasit), pria yang akrab disapa “Sang Pengadil” ini membawa narasi perubahan bagi 7.000 warga yang tersebar di Dusun Badas, Bantengan, Sidorono, dan Barengkrajan.
Misi “Bersih-bersih” Sang Pengadil

Bukan sekadar tampil sebagai pelengkap, Syaiful Arif mengusung visi yang dianggap cukup radikal bagi kemapanan birokrasi lama. Mengusung tagline “Barengkrajan Transparan”, ia berkomitmen melakukan digitalisasi layanan publik untuk memutus rantai pungli.
Berikut adalah detail strategi matang yang diusung Syaiful Arif:
| Aspek | Program Unggulan (Menuju Perubahan) |
|---|---|
| Visi Utama | Barengkrajan Transparan & Sejahtera: Tata kelola desa yang bersih, jujur, dan berpihak pada rakyat kecil tanpa tebang pilih. |
| Layanan Publik | Transformasi Digital: Urus administrasi (surat-menyurat) cukup dari rumah via aplikasi, cepat, dan tanpa biaya tambahan (pungli). |
| Ekonomi | Revitalisasi BUMDes: Optimalisasi potensi lokal di 4 dusun untuk membuka lapangan kerja baru bagi pemuda setempat. |
| Infrastruktur | Pemerataan Proporsional: Memastikan anggaran pembangunan terdistribusi adil di Badas, Bantengan, Sidorono, dan Barengkrajan. |
| Sosial & Perempuan | Pemberdayaan UMKM: Dukungan modal dan pemasaran bagi “Emak-emak” kreatif serta aktivasi Posyandu di tiap dusun. |
Filosofi Nomor Urut 4 dan Simbol Keharmonisan
Meskipun dikepung lawan dengan jaringan birokrasi yang gurita, Syaiful Arif tampak tenang. Mendapatkan Nomor Urut 4, ia memaknainya sebagai tanda alam.
“Saya biasa memimpin 22 pemain di lapangan hijau dengan adil di bawah tekanan ribuan penonton. Di Barengkrajan, saya datang bukan untuk dilayani, tapi untuk meniup peluit perubahan,” tegas Syaiful dengan nada mantap.
Menurutnya, angka 4 adalah representasi dari persatuan empat dusun di Barengkrajan. “Pengalaman lawan memang panjang, tapi niat saya untuk mengabdi jauh lebih dalam. Nomor 4 adalah simbol kebersamaan kita semua,” tambahnya.
Gerakan “Geng Emak-emak” di Garis Depan

Dukungan luar biasa muncul dari akar rumput, terutama barisan kaum perempuan yang menamakan diri “Geng Emak-emak Rempong”. Mereka menyatakan siap menjadi garda terdepan untuk melakukan gerilya door-to-door.
“Kami tidak butuh janji-janji lama yang hanya manis di telinga. Kami butuh wajah baru yang segar dan berani! Pak Syaiful itu pengadil, dia pasti tahu mana yang benar dan salah,” ujar Ika, Ketua Relawan Emak-emak.
Analisis: Kartu Merah bagi Status Quo?
Kini, nasib masa depan Barengkrajan berada di tangan sekitar 7.000 pemilih. Pertanyaannya: Apakah pemilih akan tetap bertahan pada pola kepemimpinan lama, ataukah Sang Pengadil mampu memberikan “Kartu Merah” bagi status quo dan memulai babak baru pembangunan?
Mei mendatang akan menjadi pembuktian, apakah peluit akhir pertandingan akan ditiup untuk kemenangan rakyat atau kemenangan para penguasa lama.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi