Sabtu, 13 Juni 2026, pukul : 16:28 WIB
Surabaya
--°C

Titian Persatuan: Saat Jembatan Menyatukan yang Terpisah

Ini adalah aksi bersama anak-anak muda yang menolak menjadi generasi hipokrit dan oportunis; generasi yang mengaku mewakili masa depan, tetapi miskin gagasan dan terlalu gemar menjilat kekuasaan.

Oleh: Geisz Chalifah

KEMPALAN: Saat sebagian orang sibuk mencibir, ada yang diam-diam membangun Jalan Harapan: Jembatan Titian Persatuan.

Untuk kesekian kalinya, Anies Rasyid Baswedan meresmikan Jembatan Titian Persatuan. Kali ini di kawasan perbatasan Bandung Barat dan Cianjur, melalui Jembatan Cilojami yang menghubungkan dua kampung yang lama dipisahkan medan alam.

Sebelumnya, jembatan serupa telah hadir di Lebak dan Karanganyar. Di Karanganyar, jembatan itu menghubungkan Dusun Gembreng dengan Kampung Klotok.

Di Lebak, ia membuka jalur penting bagi warga pedesaan yang bertahun-tahun hidup dengan akses terbatas.

Apa arti sebuah jembatan? Bagi mereka yang terbiasa hidup nyaman di balik layar gawai, mungkin tak lebih dari bahan olok-olok dan ruang sinis di kolom komentar.

BACA JUGA  Pemberdayaan Masyarakat Madani

Namun bagi warga yang setiap hari harus menyeberang sungai demi sekolah, berobat, atau menjual hasil kebun, jembatan adalah perubahan nyata.

Nama Titian Persatuan terasa tepat. Ia bukan sekadar rangka baja atau papan pijakan, melainkan penghubung harapan. Menyatukan dua tepi yang lama berjauhan; menyambungkan kebutuhan rakyat dengan kepedulian mereka yang mau bekerja.

Akan selalu ada kelompok yang lebih rajin mencari cela daripada melihat manfaat. Mereka sibuk menghitung siapa yang datang meresmikan, tetapi lupa menghitung berapa anak kini bisa pergi ke sekolah dengan aman.

Mereka gemar mencibir nama seseorang, tetapi tak pernah bertanya berapa warga yang kini lebih mudah menuju puskesmas atau pasar.

Memang begitulah watak sebagian orang: ketika tak mampu membangun, yang bisa dilakukan hanyalah meremehkan bangunan orang lain. Ketika tak sanggup menghadirkan solusi, yang dipilih adalah mengejek mereka yang bekerja.

BACA JUGA  Gerakan Sekolah Bahagia dan Kemandirian Belajar Anak

Ini bukan kerja elektoral. Sebab kerja elektoral yang lazim justru sering memakai bantuan sosial sebagai alat pengaruh, menggunakan tekanan kekuasaan kepada warga juga kepala desa dengan memanfaatkan ketakutan warga demi suara. Itu jalan pintas yang kerap dipilih mereka yang miskin gagasan.

Yang terjadi di sini berbeda. Ini adalah kerja anak-anak muda yang memilih aksi nyata; kerja gotong-royong yang konkret.

Bukan kerja pendengung politik yang hidup dari kebisingan, menyerang siapa pun demi kepentingan sesaat, lalu menjadikan hinaan sebagai cara bernapas.

Ini adalah aksi bersama anak-anak muda yang menolak menjadi generasi hipokrit dan oportunis; generasi yang mengaku mewakili masa depan, tetapi miskin gagasan dan terlalu gemar menjilat kekuasaan.

Pada akhirnya, jembatan akan tetap berdiri; sementara cemoohan akan hanyut bersama arus sungai.

*) Geisz Chalifah, Aktivis Budaya

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.