Sejarah telah mengetuk kesadaran kita bahwa nasionalisme tidak berdiri di atas landasan primordialisme yang sempit. Kita tidak ditentukan oleh dari darah mana kita lahir, melainkan oleh komitmen apa yang kita berikan untuk tanah air ini.
Oleh: Hamid Nabhan
KEMPALAN: Nasionalisme Indonesia bukanlah sebuah ikatan yang lahir dari kemurnian genetika atau sekat-sekat silsilah. Ia adalah sebuah kesepakatan agung, sebuah kesadaran kolektif yang tumbuh dari kesamaan nasib, cita-cita, dan ruang hidup yang sama.
Ketika kita menengok kembali lembaran sejarah pergerakan kemerdekaan, kita akan menemukan bahwa batas-batas etnis dan asal-usul garis keturunan terbukti sangat cair dan melebur demi satu nama, Indonesia.
Bukti autentik mengenai hal ini terekam jelas dalam dokumen sejarah yang telah dimuat oleh Koran Mata Hari. Berdasarkan bukti autentisitas fisik dari dokumen tersebut, terdapat catatan tulisan tangan yang dengan jelas menerangkan bahwa koran itu terbit pada hari Rabu, tanggal 3 Maret tahun 1937.
Melalui dokumen pers masa lalu ini, terungkap sebuah fakta penting mengenai bagaimana para tokoh bangsa memandang identitas kebangsaan mereka. Tulisan dalam dokumen itu menjelaskan bahwa tokoh-tokoh besar pergerakan nasional seperti Dr. Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, hingga H.O.S. Tjokroaminoto, memiliki keterkaitan atau garis keturunan Arab.
Melalui kesaksian tertulis tahun 1937 itu, kita diperlihatkan bahwa realitas silsilah tersebut sama sekali tidak menciptakan jarak sosiologis atau membuat mereka merasa berbeda dari kaum bumiputera.
Fakta ini justru menjadi penegas yang kuat bahwa identitas kebangsaan kita tidak pernah ditentukan oleh tetesan darah murni sepihak.
Pengakuan akan adanya garis keturunan Arab pada tokoh sekaliber Dr. Soetomo justru meruntuhkan tembok pembatas genealogis. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada dikotomi yang merendahkan, seperti anggapan bahwa satu golongan memandang golongan lain sebagai pelayan atau jongos.
Namun sebaliknya, hubungan yang terjalin adalah hubungan kesetaraan dalam perjuangan.
Semangat inklusivitas ini juga bersambut gayung dengan kesadaran komunitas Indo-Arab pada masa itu. Melalui peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab tanggal 4 dan 5 Oktober 1934, mereka secara sadar mengikrarkan sebuah sumpah suci yang menyatakan bahwa tanah air mereka adalah Indonesia.
Semangat persatuan inilah yang kemudian mengristal melalui wadah seperti Persatuan Arab Indonesia (PAI), di mana mereka memilih untuk meleburkan diri, mengingatkan kembali akan komitmen kebangsaan, dan berjuang bahu-membahu dengan seluruh elemen rakyat.
Sejarah telah mengetuk kesadaran kita bahwa nasionalisme tidak berdiri di atas landasan primordialisme yang sempit. Kita tidak ditentukan oleh dari darah mana kita lahir, melainkan oleh komitmen apa yang kita berikan untuk tanah air ini.
Dr. Soetomo dan para leluhur bangsa telah memberi teladan nyata, bahwa ketika berbicara tentang Indonesia, yang ada hanyalah satu kesatuan perjuangan yang melampaui segala batas darah.
*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi