Selasa, 28 April 2026, pukul : 12:16 WIB
Surabaya
--°C

Lenon Machali: Berimajinasi Bisa Kurangi Gelisah Hati

Oleh: Aming Aminoedhin

KEMPALAN: Lelaki yang agak pendiam dan santun bicara itu, yang saya ingat adalah ketika mau latihan teater untuk pementasan naskah Akhudiat berjudul Sekolah Skandal 2011 lalu; beliaunya selalu datang paling awal bersama istrinya tercinta. Padahal secara lokasi rumahnya cukup jauh, yaitu Gresik, dan harus latihan di Surabaya. Sementara itu, saya datang dari Mojokerto, terkadang juga terlambat untuk berlatih. Tapi beliau tak pernah terlambat. Dan ketika gelaran pentasnya, sungguh mengagumkan bagi penontonnya. Apik dan menarik!
Ketika itu para pemainnya di antaranya ada nama: Wina Bojonegoro, Desemba, Aming Aminoedhin, Lenon Machali, Deny Tri Aryanti, Sri Wahyuni (istri Lenon).

Kenangan yang tak kalah seru, saat tampil menggarap lakon “Ludruk Puisi” di Rumah Budaya Tembi Yogyakarta, beliaunya juga cukup bikin ramainya pertunjukan menawan itu. Kala itu, dalangnya R. Giryadi dan pengendangnya Widodo Basuki. Tidak hanya itu, di Rumah Budaya Kalimasada Blitar, beliaunya juga kerap hadir bersama istrinya. Pasangan serasi yang suka dan doyan seni. Tokoh lelaki itu adalah yang kita catat untuk tokoh sastra Minggu.

Tokoh sastra minggu kali adalah almarhum Lenon Machali, lahir Gresik, 13 Maret 1953. Istrinya, Sri Wahyuni, yang akrab dipanggil Uyun, lahir di Bangkalan Madura 11 November 1981. Ia, Uyun berprofesi sebagai guru swasta. Mereka di karuniai dua anak laki-laki, Kalam Jauhari yang lahir pada tahun 1983, dan Wahyu Lazuardi, lahir 1987 keduanya lahir di Gresik. Laki-laki muslim yang lebih dikenal dengan nama Lenon itu, bertempat tinggal di Jalan Dr. Sutomo XII/07 Gresik bersama keluarganya.

Sebagai penulis, Lenon memperoleh inspirasi dan terpacu dalam menulis didasari hobi ditambah membaca buku-buku kesastraan, serta berkumpul dengan komunitas seniman dan para tokoh kesenian. Ia pun memanfaatkan simbolisme dalam mengekspresikan imajinasinya, di samping realitas kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ia merasa lebih bebas dan merasa ada tantangan dalam menyampaikan idealismenya.

Lenon, merasakan bahwa berimajinasi merupakan cara untuk mengurangi kegelisahan hati. Baginya, puisi merupakan pengejawantahan beban kegelisahan yang diungkapkan lewat kata-kata dan dituangkan dalam sebuah tulisan. Ia juga merefleksikan peristiwa-peristiwa yang menyentuh nuraninya ke dalam karya sastra.

Lenon memiliki beranggapan sastra Indonesia masih eksklusif dibandingkan karya seni yang lain, karena sastra merupakan kebutuhan masyarakat yang terbatas. Namun ia mengakui bahwa sastra Indonesia, dari yang pop sampai yang fine art selalu hadir sepanjang tahun. Ia pun barharap agar sastra dapat menjadi bahan mata pelajaran di sekolah dengan jatah waktu yang lebih dari enam jam. Di samping itu, ia berharap agar apresiasi sastra secara kontinyu diselenggarakan di sekolah dengan materi dan sarana pendukung yang bervariasi.

Lenon yang malang melintang di dunia kesenian teater kota Gresik ini, dulu sebagai guru kesenian di SMA Muhamadiyah Gresik sejak tahun 1990. Di samping itu, ia juga memiliki pengalaman kerja yang cukup beragam. Pada tahun 1970—1975, ia bekerja wiraswasta di Gresik. Kemudian tahun 1975—1976, ia menjadi karyawan lepas di sebuah perusahaan swasta di Gresik. Tahun 1976—1990, ia berwiraswasta lagi, dan tahun 1990—2003. Saat ini ia bekerja sebagai penyiar radio El-Bayu Gresik di samping profesi utamanya sebagai guru.

Laki-laki penulis yang dibesarkan di kota Gresik itu termasuk aktif mengikuti beberapa organisasi. Tahun 1978—1979, ia menjabat sebagai wakil ketua BKKNI di Gresik. Tahun 1985—1990, ia tercatat sebagai ketua biro teater, dan tahun 1995, mendirikan dan memimpin kelompok musik Limbah. Tahun 1996—2000, ia bekerja di Litbang DKG (Dewan Kesenian Gresik). Kegiatan lain yang pernah ia lakukan antara lain sebagai pemateri dalam loka karya teater, dan ikut dalam Tim Kurator Teater Umum FSS 2004.

Sri Wahyuni (istri Lenon) ketika akting latihan Sekolah Sekandal-nya Akhudiat.

Cak Lenon, demikian biasanya dipanggil, menghasilkan puisinya termuat buku sastra yang telah dipublikasikan dalam kumpulan puisi Semangat Tanjung Perak (Penyair Surabaya dan Jawa Timur, 1992), Kota Malam (Panitia Parade Seni WR Supratman’95, 1992), Gelondong (Kelompok Seni Rupa Bermain, 1995), Hujan Keringat Tawar (Lingkar Sastra Junok, 1998), Barisan Malam (Dewan Kesenian Lamongan, 2004), dan “Rumah Keong” dalam Duka Aceh Duka Bersama (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2005), dan banyak lagi. Terakhir buku puisinya bertajuk “Pesisir Sang Kekasih” (2012). Ikut juga puisinya termuat di kumpulan Malsasa (Malam Sastra Surabaya) berkali-kali, dan juga Malsabaru (Malam Sastra Bagi Guru, 2011), Gresla Mamoso (bersama: R. Giryadi, Herry Lamongan, Aming Aminoedhin, dan Tengsoe Tjahjono), atau buku-buku terbitan Rumah Budaya Kalimasada Blitar, di antaranya: Kata Cookies Pada Musim.
Cak Lenon Machali meninggal dunia, Juli 2016, dan sebulan kemudian penyair komunitas seniman Rumah Budaya Kalimasada, menggelar acara dengan membuat buku bertajuk “Menanam Ingatan” puisi-puisi persembahan buat Sang Lenon Machali. Acaranya digelarpentaskan di RB Kalimasada Blitar. Kini mumpung bulan Ramadhan, kita doakan almarhum Lenon Machali husnul khatimah. Diterima semua amalannya dan diampuni segala dosa-khilafnya. Al-Fatihah! (Aming Aminoedhin).

PUISI-PUISI MINGGU INI: KARYA LENON MACHALI
Melengkapi ulasan tokoh sastra minggu ini, saya muatkan beerpa puisi tokoh kita Lenon Machali yang pernah termuat di buku Malsasa (Malam Sastra Surabaya) beberapa tahun yang lalu. Lenon sangat aktif ikut tampilan gelaran malam sastra Surabaya di Dewan Kesenian Surabaya, Taman Budaya Surabaya atau Balai Pemuda Surabaya. (AmAm).**

Lenon Machali
PASAR LOAK

di Teater ini
kutemukan muara
komedi dan tragedi
hidup di kota

orang dan barang
sama lusuhnya
sama-sama bekasnya

orang dan barang
saling curiga
saling tertutup kejujurannya

orang dan barang
sia-sia dirusaknya

        Jalan Demak, 1991

Lenon Machali
DI WILAYAH SEGITIGA

malam biru beratus ribu cahaya gelisah
gedung-gedung dingin bersilangan rasa curiga
bau parfum diri sendiri memental bola
dalam kaca sepanjang jalan roda karet siap
menggusur waktu
menguak nasib secepat mimpi orang-orang
lalu-lalang memasuki pintu-pintu
atau lorong kian menganga
berpasang tanah galian lengket pada angka berasap
deru knalpot mengucap salam pada rembulan menepi
larut malam temaram

pada siang sisa cahaya lampion nampak coreng moreng
tiap jendela nampak wajah birahi melapisi
rasa was-was menguap mimpi menjelma ruas-ruas
murka hasrat menggusurnya
ketegaran masa lalu jadi hantu pada diri menagih janji
kesetiaan perjuangan bersemayam dalam
warna topeng badut sandiwara harus digelar
demi pawang tetap tenang dalam dupa komat-kamit
mengucap mantra segala yang ada di surabaya
agar terpugar dan tersulap menjadi wilayah segitiga
bebas peri dan kursi-kursi busa bagi punggung tua senantiasa
sadar ketika masing-masing asyik berlupa

senjahari berpapasan tak peduli rasa ngeri
suara sepi tanpa burung-burung bernyanyi
selain deru baja yang terluka sejak dinihari

        Surabaya, 1991

Lenon Machali
PRAHARA

Pelajarilah kebencian orang-orang
Yang bergerak lamban di jalanan
Karena kesabaran yang kau hadang
Sepanjang usus kelalaianmu

Tak ada takaran yang seimbang
Di otak pemabok jamur-biru
Menekan muatan kedalam palka
Kapal oleng perlahan karam

Maka pilahan tinggal penderitaan
Bertahan hidup dengan pelampung
Atau tercatat nama di lautan
Sebagai korban kesalahan nahkoda

Inilah kemenangan di atas aib
Penumpuk sampah yang serakah
Orang-orang bertruh dalam lapar
Sampai pulau pulau terbelah-belah

2006

Lenon Machali
DINDING PENGADILAN GOYAH

Kau yang mengirim
Signal ke kamarku
Berobah nada meraung
Kesakitan seperti doa

Orang-orang tertindih
Bukitkan batu kapur
Longsor pedel , lumpur

Dan suara-suara menderu
Berdebam menggetarkan
Dinding pengadilan goyah
Tanah retak memanjang
Dari pucuk tali sepatu
Yang kau tarik semaumu

Kau yang menenteng lampu
Merah hitam berkedipan
Merebut mata orang-orang
Menatap Dalam ketegangan
Gaduh segalanya menggemuruh
Lantas senyap suara kelam

Signal yang kau kirimkan
Nada meraung berkepanjangan

(2006)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.