
KEMPALAN: Membumikan konsep dan teori komunikasi. Deretan kata ini segera menarik perhatian saya pada buku karya Prof Deddy Mulyana, guru besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran.
Bertahun sebagai praktisi media, saya sering mendapati, banyak sekali masalah besar yang berawal (hanya) dari masalah komunikasi.
Bahkan pada akhirnya, ragam masalah itu menimbulkan chaos, dengan korban nyawa yang tidak sedikit. Juga drama-drama tragis yang mengikis nilai kemanusiaan.
Saya langsung ingat dengan tragedi kecelakaan dua pesawat terbang KLM-4805 dan Panam-1736 yang terjadi di bandara Tenerife North Airport, di Kepulauan Canary, Spanyol pada Maret 1977.
Setelah dilakukan investigasi mendalam, ternyata kecelakaan dipicu oleh faktor miskomunikasi pilot dan petugas air traffic controller (ATC) yang menyampaikan instruksinya menggunakan bahasa inggris dengan logat spanyol yang kental.
Kecelakaan itu menewaskan 583 orang, angka terbesar sebuah kecelakaan pesawat hingga saat ini.
Tragedi ini memicu evaluasi besar-besaran dan standarisasi komunikasi dalam dunia penerbangan internasional.
Dibombardirnya Kota Hiroshima, Jepang oleh Amerika Serikat yang mengakhiri perang dunia kedua juga ditengarai salah satu pemicunya adalah miskomunikasi.
Ini dijelaskan Prof Deddy Mulyana dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar”. Negara Paman Sam itu keliru menerjemahkan kata “mokukatsu” oleh Domei, yang dimaknai “no comment”.
(Hanya) kesalahan pengertian bahasa yang akhirnya menimbulkan serangan bom nuklir yang mengerikan. Hingga kini, masyarakat internasional mengenang tragedi itu sebagai sebuah serangan yang melampaui batas kemanusiaan.
Lack of communication juga sering menjadi penyebab para dokter diadukan pasiennya karena diduga melakukan malpraktek.
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) mengungkapkan, 80 persen dugaan malpraktek pada dokter yang mereka terima adalah akibat gagalnya komunikasi antara dokter dengan pasiennya.
Ujungnya, ada beberapa dokter yang terkena sanksi teguran tertulis, sampai ada juga yang dicabut izin prakteknya.
DRAMA SAMBO
Begitu pentingnya sebuah komunikasi. Karena itulah, adalah sebuah keniscayaan jika keterampilan komunikasi adalah soft skill yang haruslah dimiliki semua orang. Terutama para profesional yang dalam profesinya berhubungan langsung dengan masyarakat (public service).
Dan untuk itulah, konsep dan teori ilmu komunikasi harus membumi.
Inilah yang dilakukan Prof Deddy Mulyana dengan buku ini. Dalam buku setebal 373 halaman ini, ada 67 tulisan dengan topik menarik dan up to date. Judul-judulnya pun relatif singkat, dengan pemilihan kata bergaya populer. Juga berani.
Seperti “Pubertas Politik Arteria Dahlan”, “Fenomenologi Poligami”, “Shakespeare Pun Keliru”, “Free Wife”.
Yang membaca judulnya saja saya sudah langsung tersenyum. Juga ada beberapa tulisan yang menyentil tokoh politik papan atas seperti “Jokowi Pendobrak Mitos” dan “Kebungkaman Megawati”.
Sebagai karya seorang guru besar di universitas ternama, buku ini terasa ringan dan mengasyikkan untuk disantap habis. Lewat buku ini juga, Prof Deddy seakan ingin menularkan keterampilan komunikasi.
Banyak cara untuk menyampaikan pesan. Dan betapa kata-kata bisa dimaknai berbeda. Sebuah kritik pun bisa disampaikan melalui humor. Tidak perlu ada yang tersakiti. Everybody happy…
Dan yang paling fenomenal tentulah tulisan tentang kasus Sambo itu. Meminjam istilah Prof Deddy Mulyana, kasus Sambo ini mungkin paling spektakuer, paling dramatis, sekaligus paling bikin gregetan di negara ini.
Kasus ini menarik karena sarat dengan unsur drama, sensualitas, misteri, ketegangan, dan kekerasan. Apa motif sebenarnya menjadi hal yang menyulut kepo nasional.
Dengan pendekatan keilmuannya, Prof Deddy Mulyana mengingatkan para hakim untuk memiliki kreatifitas berpikir dalam pandangan hukum mereka.
Lewat teori dramaturgi, Prof Deddy Mulyana menjelaskan jika pengadilan ibarat sebuah panggung drama yang sesungguhnya adalah sebuah pertarungan keterampilan komunikasi para “aktor” di dalamnya.
Dan hukum bukan matematika. Jika hukum dipandang dengan kacamata kuda, maka bisa terjadi adalah dihukumnya orang yang tidak bersalah.
Prof Deddy Mulyana mengupas tuntas kasus spektakuler ini lewat beberapa tulisan yang juga dimuat di beberapa media nasional.
Selama ini ada jurang yang lebar antara karya tulis ilmiah dengan karya tulis di media. Lewat tulisan-tulisannya, Prof Deddy telah membuat jurang itu sirna.
Mengutip Dr Gun Gun Heryanto, M.Si dalam kata pengantarnya, Ilmu Komunikasi hendaknya tidak hanya menjadi menara gading yang hanya disajikan di kampus dan komunitas akademisi.
Tapi dalam ranah tertentu, haruslah juga bisa disajikan dan dimaknai oleh masyarakat banyak.
Bukankah filosofi dasar ilmu pengetahuan adalah bermanfaat bagi umat manusia?
Dengan buku ini, Prof Deddy Mulyana sudah melakukan itu. (•)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi