Sebaliknya, Rizky menganggap dirinya pegang kendali. Terhadap isteri dan anak. Bukti, pengakuan ia ke polisi soal anak yang dibunuh: “Dia (KPC) sudah saya sekolahkan, saya didik, dengan pengajian, dan les, tapi selalu tidak nurut.”
Rizky meneguhkan dirinya sebagai bos di rumah. Bukan mitra isteri. Maka, semua orang harus nurut bos. Kalau tidak…. tau sendiri.
Tapi, mengutip teori Walker, Rizky sangat mencintai isteri dan anak. Tidak mungkin tidak. Kalau tidak, anak tidak mungkin diberi apa-apa oleh bos.
BACA JUGA: Polemik Perkara Sambo, Motif dan Rencana Bunuh
Maka, ketika N bawa koper, siap pergi, yang sudah dikatakan minta cerai, Rizky beranggapan, segera kehilangan orang yang dicintai. Orang yang selalu rela melayani hubungan seks suami-isteri. Bakal hilang.
Daripada orang yang dicintai pergi, lalu menikah lagi dengan pria lain, lebih baik… terjadi tragedi itu. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi