Di ruang tamu. Rizky bertanya ke N, mau ke mana? N tetap menangis. Rizky bertanya ke KPC, seperti biasa: Ogah komunikasi dengan ayah.
Golok di kolong meja diambil Rizky. Dibacokkan berkali-kali ke KPC. Menurut polisi, beberapa kena kepala, leher, jari kedua tangan putus semua, tumbang ke lantai. Darah ambyar memuncrat deras.
Saat N histeris, dia dihajar golok juga. “Rincian luka masih diperiksa,” kata Kombes Imran.
BACA JUGA: Berdendang dalam Studi Kerumunan Massa
Kejadian itu dilihat adik kandung Rizky, inisial S yang tinggal di lantai dua. S turun tangga, melihat itu. Tapi, takut lalu naik lagi.
Rizky, masih pegang golok, mengambil bayinya. Digendong keluar rumah. Tangan kiri menggendong, tangan kanan pegang golok berlumuran darah.
Muncul tetangga, bernama Misan. Pelan-pelan, Misan mengajak Rizky kembali masuk rumah. “Enggak enak dilihat tetangga,” ujar Misan.
Misan diwawancarai pers, mengatakan: “Saya berusaha menahan, supaya Rizky tidak kabur. Saya lihat darah di mana-mana. Istri dan anaknya, kayaknya mati tergeletak.”
Misan meminta golok yang dipegang Rizky. Diberikan. Lalu diajak ngobrol. Para tetangga berdatangan. Merebut bayi yang digendong Rizky. Sampai tim polisi datang, mendapat laporan warga.
Misan: “Kami warga tidak berani menolong korban, karena itu nanti urusan polisi.”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi