2) Teori konflik. Keluarga dan masyarakat adalah tempat konflik antara anggota. Karena kepentingan manusia berbeda-beda.
Di dalam keluarga, kepentingan suami-isteri-anak, berbeda-beda. Semua berharap kepentingan mereka masing-masing paling utama. Harus terpenuhi. Maka, harus ada toleransi. Mengalah.
Di dalam masyarakat, apalagi. Jika tidak ada toleransi bagi anggota masyarakat, maka konflik. Meledak jadi perang.
Contoh, antar saudara kandung. Selalu terjadi cemburu dalam menerima pemberian ortu. Anak yang satu diberi sesuatu, yang lain iri. Kalau semua anak diberi, merata, diam-diam, anak-anak mengaudit. “Aku anak sulung, kok diberi yang sama dengan adik.”
BACA JUGA: PDI-P Ajukan Puan atau Ganjar, Tunggu Mother Instinct
Suami menuntut isteri selalu siap (dalam Bahasa Jawa): Masak, macak, manak. Memasak makanan sehari-hari, bersolek menyenangkan suami, dan melayani hubungan seks suami.
Sebaliknya, istri juga punya standar tuntutan ke suami. Yang, kalau tidak ada toleransi antar individu, terjadilah konflik. Berkembang jadi KDRT.
3) Teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory). Pola interaksi keluarga dan masyarakat, mendorong individu melakukan kekerasan. Semua individu, sejak masih anak-anak, berinteraksi dengan orang di sekitar. Di situlah ia belajar hidup.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi