Di Sanglah, Khusnul sempat didatangi relawan asing. Namanyi: April. Warga Swiss. Hanya itu yang dia tahu. Ups… Satu lagi. April itu warga Swiss tapi Tionghoa.
April inilah yang memperjuangkan Khusnul ke Australia. Atas biaya relawan. April pula yang memberi bantuan uang setiap bulan. Tidak banyak tapi bisa untuk tambahan hidup: Rp 250 ribu.
BACA JUGA: Semen Drum
Waktu pun berputar tahun. Nasib buruknyi setelah bom Bali membuat Khusnul ingin bertemu Mukhlas dan Amorzi –dua tokoh utama di balik bom Bali. Mukhlas adalah orang yang dia lihat turun dari mobil untuk membonceng sepeda motor menjauhi lokasi kejadian.
Kepada Mukhlas dan Amorzi, Khusnul ingin menunjukkan betapa susah hidupnyi akibat perbuatan mereka. Juga betapa rusak badannyi terkena bom itu.
Khusnul tahu, dari pemberitaan, bahwa mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Tapi hukuman itu belum dijalankan. Keduanya masih mendekam di penjara Nusakambangan, dekat Cilacap.
Maka Khusnul merencanakan pergi ke Nusakambangan. Ia akan naik bus dari Sidoarjo. Khusnul sudah tetapkan tanggal keberangkatannyi ke sana. Sudah pula dia susun apa saja yang akan dia katakan pada mereka. Dia berani. Dia pesilat Tapak Suci. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi