Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 08:45 WIB
Surabaya
--°C

Khusnul Bomiyah

Jalan raya itu ramai sekali. Dua cafe di dekat Jinggo sudah mulai penuh pengunjung. Sudah pukul 21.00 lebih. Banyak pengunjung bule di situ. Jalan raya macet. Lalu-lintas tertahan oleh sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan, persis di depan penjual Jinggo.

Khusnul pun mendekat ke sepeda nasi Jinggo. Dia memesan enam bungkus. “Tunggu sebentar ya, saya mau bantu dorong mobil mogok itu dulu,” ujar penjual nasi.

Khusnul melihat beberapa orang juga menuju mobil mogok itu. Mereka akan mendorongnya rame-rame. Tapi Khusnul melihat sopir mobil itu baru saja turun. Lalu bergegas naik di boncengan sebuah sepeda motor. Kabur.

BACA JUGA: Saham Sedekah

Saat mereka mulai mendorong mobil itulah, mobil meledak. Dahsyat. Khusnul terpental jatuh. Terkapar. Penuh luka dan darah. Wajahnyi menghitam. Pun tubuhnyi. Seperti terbakar. Bisa dibayangkan bagaimana nasib mereka yang mendorong mobil.

Setelah siuman, Khusnul melihat semuanya gelap. Ia terduduk di situ. Di trotoar. Tidak bisa jalan. Dia lihat ada bule mendekat ke arahnyi. Dia sepak kaki bule itu dengan kaki kanan yang masih bisa digerakkan. Yang kiri terluka berat. “Help me,” katanyi pada bule itu.

Si bule, kata Khusnul, menyalakan korek api. Ia pun bisa melihat Khusnul. Seperti orang terbakar. Ia angkat Khusnul. Ia panggul menuju simpang empat. “Saya ingat bule itu mencegat mobil agar membawa saya ke rumah sakit,” ujar Khusnul. “Saya lihat bule itu menyerahkan dompet ke orang yang ada di mobil. Saya pun dibawa ke RS Sanglah,” ujar Khusnul.

Sampai di situ Khusnul masih mengira yang meledak barusan adalah trafo listrik. Memang dia hafal ada trafo besar di depan kafe yang ramai itu.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.