Ngabalin dan Wali Songo dari China

waktu baca 6 menit
Foto: kilat.com

KEMPALAN: Video lama itu beredar lagi, menjadin viral, dan mendapat respons ramai dari netizen. Ali Mochtar Ngabalin, tenaga ahli KSP (Kantor Staf Kepresidenan) sudah agak lama tidak membuat kontroversi. Rupanya banyak yang kangen sehingga mengunggah kembali video Ngabalin yang antara lain menyatakan bahwa Wali Songo berasal dari China.

Video itu diambil pada 2020 dan ketika itu sudah memantik perdebatan ramai di kalangan netizen. Ngabalin memberikan pernyataan itu pada 9 Maret 2020 ketika diundang menjadi salah satu narasumber di Sekolah Tinggi Agama Budha (STAB) Samantabadra-NSI di Jakarta Selatan.

Rupanya banyak yang kangen kepada Ngabalin sehingga video itu diunggah ulang di Twitter dan Instagram sehingga menimbulkan perdebatan ramai. Mungkin video ini di-repost dalam rangka menyambut tahun baru Imlek tahun ini.

Pada potongan video yang beredar Ngabalin mengatakan bahwa Wali Songo yang diyakini sebagai penyebar Islam di Nusantara itu berasal dari China. ‘’Baca itu itu sejarah Wali Songo yang dipuja-puji umat Islam itu. Bangsa apa mereka? Bangsa China.’’ Begitu kata Ngabalin. Lalu Ngabalin melanjutkan ucapannya, ‘’My father is China, my mother is China’’.

Netizen cepat merespons. Ada yang mengatakan bahwa Ngabalin salah persepsi dan tidak bisa membedakan antara Wali Songo dan Sembilan Naga. Dua-duanya sama-sama berjumlah songo atau sembilan. Bedanya, Wali Songo menyebarkan Islam di Nusantara, Nogo Songo atau sembilan naga menyebarkan investasi di ibu kota Nusantara.

Pembicaraan Ngabalin hanya dipotong pendek sehingga tidak jelas konteksnya. Mungkin Ngabalin ingin mengatakan bahwa etnis China di Indonesia mempunyai peran yang penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Salah satu buktinya adalah Wali Songo yang mempunyai garis keturunan dari China.

BACA JUGA: Jebloknya Indeks Korupsi Indonesia

Debat mengenai asal-usul penyebaran Islam di Indonesia sudah berlangsung lama. Ada yang berpendapat bahwa penyebar Islam pertama adalah para pedagang Gujarat, India. Salah satu di antara wali songo adalah Maulana Malik Ibrahim.

Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik adalah guru bagi para wali lainnya dan dianggap sebagai ulama pionir yang menyebarkan Islam di Jawa. Asal-usul Sunan Gresik masih diperdebatkan. Berbagai sumber menyatakan ia dilahirkan di Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah pada awal abad ke-14. Pendapat lain mengatakan bahwa sang wali berasal dari Arab, kemudian hijrah ke Gujarat, India, lalu berkelana ke Malaka hingga sampai di Pulau Jawa.

Ada penelitian sejarah yang menyatakan bahwa di antara para wali itu ada yang keturunan China. Salah satu yang paling terkenal ialah Sunan Ampel di Surabaya yang dikenal sebagai Raden Rahmat, dan mempunyai garis keturunan China dari ibunya yang berasal dari bangsawan kerajaan Champa.

Dalam catatan Kronik Tiongkok dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel mempunyai nama China Bong Swi Hoo, yang merupakan cucu dari Haji Bong Tak Keng seorang Tionghoa suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi, yang ditugaskan menjadi pemimpin komunitas Tionghoa di Champa oleh Sam Po Bo.

Sebuah disertasi yang ditulis oleh Dr. Tan Ta Sen dari Universitas Indonesia (UI) diterbitkan menjadi buku berjudul ‘’Cheng Ho’’ oleh penerbit Kompas (2010). Disebutkan bahwa ekspedisi Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15 ke Nusantara membawa misi budaya, dagang, dan agama. Laksamana Cheng Ho beragama Islam dan karena itu ekspedisi itu pun membawa misi penyebaran Islam.

BACA JUGA: Anies-Sandi, dari Dwitunggal Jadi Dwitanggal

Dr Tan Ta Sen ialah presiden International Cheng He Society yang juga direktur Cheng Ho Cultural Museum, Malaka. Disertasi doktoralnya dibimbing oleh Prof. Abdullah Dahana yang dikenal sebagai ahli sejarah China terkemuka di Indonesia.

Cheng Ho melakukan ekspedisi besar sebanyak 7 kali berkeliling Samudera Barat sejak 1405 sampai 1433. Armada Cheng Ho yang membawa belasan kapal dengan awak ribuan orang mengelilingi 33 negara di Asia dan Afrika. Wilayah-wilayah penting di Asia Tenggara yang disinggahi Cheng Ho adalah Champa, Zhenla, Siam, Malaka, Jawa, Palembang, Samudra, Aru, Pahang, Kelantan, dan Sulu.

Dalam ekspedisi ini Cheng Ho biasanya meninggalkan anak buahnya di beberapa tempat lokal untuk tinggal dan bermukim di sana. Sebagai jenderal yang beragama Islam, Cheng Ho diyakini membawa banyak anak buahnya yang beragama Islam. Di beberapa wilayah Nusantara anak buah Cheng Ho berkawin mawin dengan perempuan lokal dan menyebarkan Islam di lingkungan baru mereka.

Dari hasil disertasi Dr. Tan Ta Sen ini terlihat adanya dimensi baru dalam penyebaran awal Islam Indonesia di Nusantara. Jejak pengaruh Islam dari China sangat jelas terlihat di Jawa dan Sumatera. Almahrhum K.H Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pun mengaku bahwa ia punya darah keturunan China, dari garis leluhur yang menyambung sampai ke para wali keturunan China itu.

Di sisi lain, Prof Dr. Hamka percaya bahwa jalur penyebaran Islam di Nusantara datang langsung dari Mekah, yang berarti ‘’mutawatir’’ langsung bersambung kepada Rasulullah. Hamka mengungkapkan, berdasarkan naskah kuno Tiongkok, sekitar 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatra Barat di daerah Barus. Marcopolo—seorang penjelajah dari Venesia—saat singgah di Pasai pada 1292 M mengungkapkan, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam di Nusantara.

BACA JUGA: Anies dan Resafel Rabu Pon

Perkembangan Islam di Nusantara semakin pesat pada abad ke-16 M. Islam telah menyebar secara merata ke seluruh wilayah Nusantara. Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua sejak abad ke-17 M.

Studi Hamka diperkuat oleh Prof. Azyumardi Azra yang melakukan studi ekstensif mengenai perkembangan Islam di Nusantara dan Asia Tenggara. Studi Azyumardi ini dianggap paling otoritatif karena ruang lingkup penelitiannya yang sangat luas.

Menurut Azyumardi para penyebar awal Islam di Nusantara adalah para ulama yang langsung dididik di Mekah dan Madinah dan mendapatkan ijazah yang langsung bersambung ke Rasulullah. Para ulama seperti Al Raniri dan Al Sinkili di Aceh, Syech Yusuf Al Makassari di Makasar, dan Al Bantani di Banten adalah lulusan langsung dari Mekah dan Madinah yang kemudian menyebarkan Islam ke Nusantara dan Asia Tenggara.

Jejak China di penyebaran Islam Indonesia menjadi bagian dari sejarah. Tetapi hal itu tidak perlu dipolitisasi untuk membenarkan kebijakan pro-China yang dilakukan oleh pemerintah Jokowi. Jejak dakwah Islam dari China di Indonesia tidak banyak membantu asimilasi dan integrasi etnis China dengan pribumi Indonesia.

BACA JUGA: Jokowi dan ASEAN

Karena politik belah bambu penjajah Belanda, etnis China di Indonesia tidak menyatu dengan pribumi dan menjadi ekslusif bersama masyarakat Eropa. Etnis China Indonesia juga tidak memeluk Islam, dan lebih banyak memeluk Kristen, Katolik, Budha, dan Konghucu.

Hal ini menghalangi integrasi dan asimiliasi. Di Filipina dan Thailand etnis China menyatu dengan pribumi karena memeluk agama mayoritas pribumi. Ketegangan dan kerusuhan rasial nyaris tidak ada di kedua negara itu.

Di Indonesia polarisasi itu terlihat makin mencolok dalam beberapa tahun terakhir ini. Ketegangan rasial ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan kalau tidak mau Menjadi api dalam sekam yang setiap saat bisa membakar. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *