Lantas, Sambo membuat rekayasa. Menembak-nembak dinding beberapa kali. Lalu, menempelkan pistol ke tangan Yosua. Mungkin, dengan maksud agar di gagang pistol ada sidik jari Yosua.
Tapi, soal doa Eliezer itu dipertanyakan jaksa di sidang. Tepatnya, jaksa membaca surat dakwaan.
Jaksa: “Saksi Richard Eliezer Pudihang Lumiu naik ke lantai dua, masuk ke kamar ajudan. Namun bukannya berpikir untuk mengurungkan dan menghindarkan diri dari rencana jahat tersebut, saksi Richard Eliezer justru melakukan ritual berdoa berdasarkan keyakinannya, meneguhkan kehendaknya sebelum melakukan perbuatan merampas nyawa Korban Nofriansyah Yosua Hutabarat.”
BACA JUGA: Ijazah Palsu Jokowi dalam Teori Pental Equilibrium
Maksud jaksa, Eliezer malah meneguhkan niat membunuh dengan cara berdoa. Tafsir jaksa ini, unik juga.
Usai sidang, Pengacara Eliezer, Ronny Talapessy, ditanya wartawan, benarkah Eliezer berdoa untuk meneguhkan niatnya membunuh?
Ronny: “O, tidak begitu. Posisi klien kami ketakutan, karena tidak berani menolak perintah komandan. Ia berdoa agar penembakan tidak terjadi.”
Umpama beda pendapat jaksa-pengacara ini dilanjut, bisa masuk ranah SARA.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi