JAKARTA-KEMPALAN: Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, mengatakan bahwa saat ini dunia sedang berada di tengah krisis energi global.
Krisis energi tersebut menjadi salah satu tantangan yang dapat mengancam atau menghambat proses pemulihan ekonomi global.
Lonjakan harga komoditas energi tersebut disebabkan oleh perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina sehingga inflasi di berbagai negara terus meningkat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Sri Mulyani dalam acara pembukaan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governor Meeting (FMCBG) G20 Indonesia di Bali pada hari Jumat (15/7/2022).
“Harga komoditas energi meroket. Saya yakin anda semua sebagai menteri keuangan, serta gubernur bank sentral melihat ini sebagai ancaman bagi stabilitas makroekonomi kita, serta lingkungan yang kondusif bagi kita untuk mempertahankan pemulihan,” ungkapnya.
Sri Mulyani mengatakan bahwa minyak mentah diperkirakan oleh Bank Dunia naik sebesar 350 persen dari bulan April 2020 hingga April 2022. Sejak tahun 1997 peningkatan ini merupakan terbesar untuk periode dua tahun.
Harga gas alam di Eropa hanya dalam waktu dua minggu juga mengalami kenaikan sebesar 60 persen pada bulan Juni 2022.
Di seluruh dunia, kelangkaan bahan bakar pun sedang terjadi. Selain itu, implikasi sosial dan politik yang besar di Ghana, Ekuador, Sri Lanka, Peru, dan di tempat lain.
Kelangkaan bahan bakar tersebut benar-benar menjadi masalah yang mengancam pemulihan ekonomi global karena melonjaknya harga gas.
Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa sebanyak 276 juta orang di dunia saat ini sedang menghadapi krisis pangan dan sejak 2019 menyebabkan peningkatan sebesar dua kali lipat. Harga pangan mencapai rekor tertinggi disebabkan oleh pembatasan ekspor yang telah memperburuk dampak pandemi serta meningkatnya risiko ketersediaan pangan yang mengkhawatirkan.
Terdapat urgensi di mana krisis pangan harus ditangani karena meningkatnya harga pangan menyebabkan jutaan orang berada di tengah keadaan kerawanan pangan.
Sri Mulyani berpendapat, untuk memperkuat stabilitas sosial dan keuangan harus segera melakukan persediaan penyebaran mekanisme pembiayaan.
Selain itu, secara fundamental kebijakan ekonomi makro juga penting karena telah membantu negara untuk menghadapi krisis.
Oleh karena itu, Sri Mulyani mengajak bank sentral negara G20 dan para Menteri Keuangan untuk bersama-sama mengatasi permasalahan ini.
“Kita semua menghadapi situasi yang sangat sulit untuk dikelola sebagai menteri keuangan sekaligus gubernur bank sentral,” ucapnya. (Kompas/Ekonomi.bisnis/Suara, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi