Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 6 Oktober 2022: Hidup Fanatisme
Ibnu Shonnan
Bah, yang paling bahaya itu fanatisme pada uang. Untuk mendapatkanya menghalalkan segala cara.
Orang jauh
#51 Jadi kalau saya baca berulang-ulang, Menurut Abah DI : Hidup sebagai pohon bukanlah hidup. Tapi perlu diingat ya Bah: “Pohon yg hidup akan banyak menghidupi”. Didalam pohon yang hidup itu, banyak sekali makhluk hidup bergantung padanya. *Kok kata hidupnya jadi banyak
Muin TV
Tapi ada juga fanatisme yang kebablasan. Fanatisme kepada kelompok. Salah benar harus dibela. Walaupun harus melalui rekayasa ala Sambo. Jadi problemnya adalah pintu yang terkunci dan tangga yang terlalu curam. Besok-besok pintunya jangan dikunci dan penonton duduk lesehan saja.
Er Gham
Ada fanatisme jenis baru. Fanatisme abang driver ojek online. Fanatisme terhadap spbu vivo. Walaupun harga lebih mahal dari pertalite, abang abang gojek tetap setia antri. Barusan saya isi juga di spbu vivo. Bisa dikatakan 40 persennya adalah abang gojek. Saya juga bingung, padahal harga bbm vivo ron 89 lebih mahal dari pertalite. Ini fanatisme baru. Mungkin sesuai dengan moto vivo, “Melindungi mesin, jarak lebih jauh, dan pengisian akurat”.
Lukman bin Saleh
Almarhum Stadion Mattoanging begitu lekat di ingatan. Kota2 di Kalimantan dan Sulawesi yg terdekat, lebih jauh dr tempat sy. Dibanding kota2 terdekat d Pulau Jawa. Dg Makasssar misalnya, 485 km (garis lurus). Dg Banjarmasin lebih2, 622 km. Sedang Surabaya hanya 453 km, Malang 436, apalagi Banyuwangi, hanya 243 km. Tp zaman dulu. Kalau urusan sepakbola. Sulawesi itu lebih d kenal d sini. Ini imbas dr siaran langsung sepakbola tempo doeloe. Disiarkan live. Melalui radio. Kita menyaksikan pertandingan sepakbola melalui radio. Mendengar suara pemandu saja. Radio Ujung Pandang (Makassar) sangat rajin menyiarkannya. Mungkin saat itu radio2 d Pulau Jawa melakukan hal yg sama. Tp sinyalnya tdk sampai d sini. Terlalu banyak penghalang. Sinyal Radio Banjarmasin dan Ujung Pandang bisa merambat dg leluasa d atas lautan. Yg dr barat paling banter Radio Denpasar-Bali: Gema Merdeka. Yg suara penyiarnya: Mbak Santi sy ingat sampai sekarang. Itu sebabnya saat Abah menyinggung Stadion Mattoanging. Sejenak terlintas di ingatan akan suara2 pertandingan nan seru dr sana. Dipicu geliat fanatisme yg menggelora. Puluhan tahun yg lalu…
Prast 15
Keinget jaman SMA dl,pak guru PPKn bilang Chauvisme adalah Fanatisme berlebihan yg terkadang malah menjadi Bumerang bagi kita sendiri….

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi