Johan
Pendapat subyektif dari manusia, kali ini pohon sebagai objek perbandingannya. Kehidupan pohon dianggap sebagai bukan hidup yang sebenarnya. Pohon jelas tidak bisa kita ajak bicara, sehingga kita tidak tahu pendapatnya mengenai hidup. Tapi manfaat dari pohon sering kita rasakan. Itu pasti. Mungkin itulah “hidupnya” yang sebenarnya. Hidup yang bermanfaat untuk alam disekitarnya. Perbandingan semacam itu bisa saya katakan ngawur, tapi dalam beberapa situasi, bisa jadi itu ada benarnya. Semisal pohon durian, dia berbuah, kemudian buahnya dimakan Dahlan Iskan. Hidup macam apa itu? Lebih baik pohon itu mati saja.
Pryadi Satriana
“Kadang mobil ‘harus’ nyenggol pagar.” ‘Mobil’ mereprentasikan ‘manusia’. ‘Harus’ menunjukkan ‘keniscayaan, kepastian’. ‘Nyenggol pagar’ maksudnya ‘melakukan kesalahan’. Pak Dahlan mau mengatakan ini: ‘Mobil yg bergerak’ itu seperti ‘manusia yg beraktifitas’. Manusia itu tak luput dari kesalahan. Namun, dg akal budinya ‘manusia bisa belajar dari kesalahannya’. ‘Mobil harus nyenggol pagar’. Manusia – mau tak mau – karena memang tak luput dari kesalahan, seperti mobil yang ‘harus nyenggol pagar’ supaya bisa belajar dari kesalahannya, supaya ndhak berbuat kesalahan yg fatal. ‘Mobil harus nyenggol pagar, supaya selanjutnya lebih hati-hati, supaya ndhak nabrak orang’. Semoga bermanfaat. Salam. Rahayu.
Pembaca Disway
Salah satu cara mengendalikan fanatisme itu dengan berdoa… Misalnya saya ngefans dengan Disway.. Kalau tiap hari saya cuma memuji-muji Disway, misalnya “Disway paling hebat. Tulisannya bagus semua. Paling rajin terbit, dst..” nanti fanatismenya makin menjadi-jadi. Kalau mendoakan, misalnya “Semoga tulisan pak Dahlan membawa berkah.. Semoga para komentator makin rukun… dst” nanti fanatismenya bisa makin terarah.. Fanatisme itu cinta..

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi