Selasa, 23 Juni 2026, pukul : 14:41 WIB
Surabaya
--°C

Penyesalan Panggung

Gianto Kwee

Perumpamaan Pohon dan Mobil kurang pas, Kali ini kalimat penutupnya “Error”: Pohon hidup karena dia terus Tumbuh, Manusia disebut “Hidup” kalau dia juga terus “Tumbuh” Salam

Rihlatul Ulfa

Saya sangat puas saat wartawan meminta kepada kejaksaan untuk membuka masker mereka-tersangka dalam pembunuhan brigadir J. dari bharada E, Sambo sampai Hendra. rasa malu yang memang seharusnya mereka alamai. saya tidak sabar siapa yang akan memimpin persidangan nanti. hakim seperti apa dengan pengalaman seperti apa yg akan ditunjuk. saya akan membolos satu hari dari pekerjaan saya. untuk menonton secara langsung di pengadilan nanti.

Mirza Mirwan

Profesor Tõnu Lehtsaar mendefinisikan fanatisme (fanaticism) sebaga “the pursuit or defence of something in an extreme and passionate way that goes beyond normality.” Guru besar Psikhologi yang pernah dua kali menjadi rektor Tartu University, Estonia, itu menyebutkan beberapa macam fanatisme, satu di antaranya adalah fanatisme politik. Di Indonesia, fanatisme politik itu tidak sekadar pada level “yang paling hebat”, tetapi sudah mencapai level “yang paling benar”. Entah itu fanatisme kepada parpol, atau fanatisme kepada tokohnya. Fanatisme pada parpol/tokoh cenderung mengabaikan norma hukum, kesopanan dan agama. Meminjam kata-kata Bung Donwori “kentut tokoh junjungannya pun dibilang wangi”, sementara parpol/tokoh lainnya tak punya sisi baik blas. Pokoknya serba jelek, salah, bodoh, dsb. Padahal, tidak ada manusia yang sempurna. Setiap tokoh, juga parpol, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yang lebih keji lagi adalah pengikut fanatisme politik itu mudah membuat fitnah. Lalu pemuja tokoh yang difitnah balik membuat fitnah. Jadinya baku fitnah. Apa boleh buat, memang, pengikut fanatisme politik sepertinya memiliki hati yang sempit. Tidak ada ruang untuk mengakui kekurangan parpol/tokoh pujaannya, seraya mengakui kelebihan parpol/tokoh lain. Dan jangan heran, pengikut fanatisme politik itu kebanyakan malah termasuk “well educated”, bukan sekadar lulusan SD/SMP.

BACA JUGA  Tren Novel Online: Menantu versus Mertua

Budi Utomo

Amygdala. Banyak yang menyebutnya sebagai reptilian brain / otak reptil karena manusia dalam perjalanan evolusinya berbagi dengan reptil soal amygdla ini. Konon amygdala lebih terkait dengan emotion. Emotional learning and emotional behavior. Dalam bahasa lain disebut amygdala adalah bagian otak yang terkait dengan naluri fight or flight. Hadapi atau lari. Betul Koh Liang?

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.