Presiden: “Gak enak gimana? Gak enak, ndasmu? Saya ini Presiden RI. Raja Indonesia. Masa’ harus tunduk pada Raja Solo yang dinilai OCCRP sebagai Presiden Terkorup sedunia saat menjabat Presiden sebelum saya.”
Oleh: Mochamad Toha
KEMPALAN: Akhirnya penangguhan penahanan Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma dikabulkan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Keduanya, Senin sore (22/6/2026) bisa menghirup udara segar kembali.
Upaya permohonan penangguhan penahanan atas tersangka Roy Suryo dan Tifa di Polda Metro Jaya sebelumnya ditolak. Maka, sebelum mereka dipindahkan ke Kejari Jaksel, Tim Kuasa Hukumnya mengajukan penangguhan penahanan kepada Kejari Jaksel.
Apa yang terjadi di balik semua itu? Berikut ini dialog imajinatif antara Presiden dengan Kapolri. Petikannya:
Presiden: “Mas Sigit (Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo), gimana tuh berita Roy Suryo dan Tifa (Tifauzia Tyassuma) sampai bawa-bawa nama anak saya Didit (Didit Prabowo)? Dia gak tahu apa-apa koq akhirnya rame juga di media…”
Kapolri: “Siap Bapak! Maaf Pak Presiden (Prabowo Subianto), saya juga tidak tahu beritanya koq jadinya mengarah ke sana. Coba nanti saya cek ke Kapolda Metro Jaya (Irjen Asep Edi Suheri). Emangnya Mas Didit menghadap ke Raja Jawa di Solo itu bawa pesan apa dari Bapak Presiden?”
Presiden: “Itu bukan urusan Mas Sigit. Mau tahu saja kamu itu…. Rahasia dong…”
Kapolri: “Maksud saya, biasanya kan Bapak Presiden langsung, tidak pernah utus orang lain. Tapi kemarin sebelum penangkapan Roy Suryo dan Tifa koq Bapak gak datang sendiri…?”
Presiden: “Kamu ngledek ya? Kamu mau saya pecat dari jabatan Kapolri? Mau jadi petani saja? Kamu gak bisa terima kasih. Sudah saya undur usia pensiun di atas 60 tahun, dan bisa diperpanjang kalau saya masih perlu kamu, koq malah ngledek… Mau saya cabut keputusan usia pensiun pati Polri kembali di bawah 60 tahun?”
Kapolri: “Siap Bapak Presiden. Siap salah!”
Presiden: “Tuh, gimana ceritanya koq main tangkap Roy Suryo dan Tifa? Tuduhan fitnah ijazah Jokowi palsu itu di mana? Apa sudah terbukti kalau ijazah Raja Jawa itu asli? Bukannya sudah pernah disidangkan dalam kasus Bambang Tri dan Gus Nur yang lalu, Raja Jawa itu tidak pernah mau menunjukkan ijazah yang diakuinya asli? Di mana letak tudingan fitnahnya?”
Kapolri: “Siap Bapak Presiden. Penangkapan itu sudah sesuai prosedur….”
Presiden: “Sesuai prosedur ndasmu ya? Coba lihat komentar rakyat. Ada yang sampai menuding proses penangkapannya mirip film PKI. Polisi sampai masuk kamar Roy Suryo yang masih bersama istrinya… Apa ini sesuai prosedur? Roy Suryo itu apa teroris sehingga ditangkap seperti itu. Prosedur ndasmu!”
Kapolri: “Siap Jenderal. Kami salah! Segera saya tegur Kapolda!”
Presiden: “Terus gimana kelanjutannya? Ada banyak tokoh nasional yang akan menjamin Roy Suryo dan Tifa. Pengacaranya juga mengajukan penangguhan penahanan. Apa mau dikabulkan?”
Kapolri: “Siap Bapak Presiden. Biar Kejaksaan saja yang mengatur penangguhan itu. Karena Senin, 22 Juni 2026 mereka diserahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Berkas perkaranya sudah P21. Jadi, Roy Suryo dan Tifa juga diserahkan ke Kejaksaan.”
Presiden: “Oh, begitu ya? Trus gimana dengan Raja Jawa, apakah nanti Mas Sigit juga akan periksa terkait dengan ijazah yang dipersoalkan rakyat itu?”
Kapolri: “Siap Bapak Presiden. Kita lihat perkembangannya dulu. Jujur saja, saya takut sama Raja Jawa itu. Soalnya, saya dulu kan sama-sama pernah jabat di Solo saat beliau jadi Walikota. Saya saat itu jadi Kapolres Solo. Gak enak nanti kalau saya harus periksa beliau.”
Presiden: “Gak enak gimana? Gak enak, ndasmu? Saya ini Presiden RI. Raja Indonesia. Masa’ harus tunduk pada Raja Solo yang dinilai OCCRC sebagai Presiden Terkorup sedunia saat menjabat Presiden sebelum saya.”
Perlu dicatat bahwa nama Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, masuk sebagai salah satu finalis tokoh atau pemimpin terkorup di dunia versi Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP).
Kapolri: “Siap, Jenderal! Saya akan konsultasikan dulu dengan Raja Jawa itu. Apakah beliau bersedia diperiksa Polri.”
Presiden: “Nah, begitu dong?! Masa’ Jenderal takut sama Raja Jawa yang tidak punya Mahkota itu? Gelar Raja Jawa itu kan untuk nakut-nakutin rakyat yang disematkan oleh si Bahlul, eh salah, maksud saya si Bahlil (Bahlil Lahadalia) yang sudah saya beri jabatan Menteri ESDM yang sering ngrepotin saya dan nyusahin rakyat. Sering bikin aturan sendiri. Terakhir Bahlil malah naikin Pertamax diam-diam ketika rakyat sedang tidur nyenyak. Kurang ajar memang si Bahlil ini.”
Kapolri: “Siap Bapak Presiden! Laksanakan! Gimana nanti kalau Raja Jawa bilang, Bowo itu gak bisa terima kasih. Sudah dibantu jadi presiden sampai korbanin anak saya, Gibran Rakabuming Raka, dampingi Bapak sebagai Cawapres ketika Pilpres 2024 lalu.”
Presiden: “Bilang saja, bodoh amat. Dia itu pembohong, penipu rakyat. Sekarang ini dia kena tipu juga. Itu memang strategi saya. Kalau saya dulu gak masuk jadi Menteri Pertahanan, mungkin saya gak pernah tahu siapa-siapa saja pengkhianat negeri ini. Tidak tahu para maling yang sekarang ini panik semua karena adanya kebijakan yang saya terapkan. Misalnya, SDA yang dicolong para maling itu.”
Kapolri: “Izin tanya, Bapak. Apa penangguhan penahanan Roy Suryo dan Tifa itu atas perintah Bapak Presiden? Koq kesannya cepat banget?”
Presiden: “Kalau emang atas perintah saya kepada Jaksa Agung (ST Burhanuddin), kenape? Mas Sigit gak terima? Jaksa Agung kan masih mau dengar perintah saya ketimbang kamu…”
Kapolri: “Maksud Bapak Presiden?”
Presiden: “Saya sudah siapkan Reformasi Kepolisian, eh kamu bikin tandingannya. Berarti kamu kan tidak mau mendengar perintah saya? Jadi, jangan kaget kalau nanti kasus Roy Suryo dan Tifa tiba-tiba dihentikan Jaksa. Yang sedang disidang saja bisa saya suruh hentikan, apalagi yang belum masuk pengadilan. Contohnya Tom Lembong dan Hasto Kristianto yang dihentikan saat disidang.”
Kapolri: “Siap Jenderal, saya masih ingat.”
*) Mochamad Toha, Wartawan
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi