Pekan lalu, Ganjar tidak diundang pada launching acara ‘’Menang Spektakuler; PDIP Hattrick Juara Tiga Kali Pemilu’’ yang dihadiri Puan Maharani di Semarang. Semua kepala daerah yang berasal dari PDIP diundang pada acara itu. Ganjar yang tidak diundang malah menghadiri acara reuni UGM (Universitas Gadjah Mada) di Jakarta.
Peristiwa ini menjadi kode keras bahwa PDIP sudah tidak menghendaki Ganjar, dan sudah semakin terbuka menyiapkan Puan Maharani sebagai calon presiden. Setidaknya, itulah yang terlihat sampai sekarang. Keputusan akhir, ada di tangan Megawati, yang sampai sekarang masih terlihat gamang. Ganjar tidak dikehendaki, tapi hasil surverinya selalu moncer. Sebaliknya, Puan digadang-gadang, tapi hasil survei jeblok.
BACA JUGA: Ning Imaz
Masih harus dilihat bagaimana reaksi Mega terhadap Dewan Kolonel. Masih harus dilihat apakah Mega merestui atau malah menganggapnya sebagai manuver yang harus dihentikan.
Pendukung Ganjar bergerak terus. Menjawab terbentuknya Dewan Kolonel, loyalis Ganjar yang tergabung dalam ‘’Ganjar Pranowo Mania’’ membentuk ‘’Dewan Kopral’’ yang dikomandani Noel Emmanuel Ebenezer. Kalau Dewan Kolonel terdiri dari elite-elite politik PDIP, maka Dewan Kopral terdiri dari kalangan bawah dan wong cilik di level akar rumput.
Dewan Kopral menjadi antitesa Dewan Kolonel. Dewan Kopral adalah representasi gerakan celeng pendukung Ganjar, dan Dewan Kolonel adalah representasi gerakan banteng pendukung Puan. Menjelang 2024, saling seruduk antara banteng vs celeng kelihatan makin seru. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi