Selasa, 2 Juni 2026, pukul : 21:55 WIB
Surabaya
--°C

UAS UNESA 2025-2026

Unesa Menyalakan Logika Lewat 35.000 Piring Sarjana

SURABAYA-KEMPALAN: Di senyap pagi yang biasanya hanya diisi degup jantung menjelang ujian, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan interupsi elegan: 35.000 porsi sarapan hangat. Bukan sekadar pemenuhan gizi, inisiatif bertajuk “Sarapan Pagi UAS” ini merupakan manifestasi konkret bahwa logika akademik tak boleh berjalan dalam kondisi perut kosong. Selama periode Ujian Akhir Semester (UAS) yang berlangsung pada 2–12 Juni 2026, kampus ini bertransformasi menjadi rumah makan pengetahuan raksasa yang melayani 13 fakultas—membentang dari denyut urban Kampus 1 Ketintang, Kampus 2 Lidah Wetan, Kampus 3 Moestopo, hingga ke tapal batas Kampus 5 Magetan.

Ketika fajar Surabaya baru saja merekah pukul 05.00 WIB, logistik presisi telah bergerak. Paket-paket nutrisi itu lahir dari dapur Boganesa Catering, entitas kemitraan yang sukses menerjemahkan misi kemanusiaan kampus ke dalam sajian higienis dan bercita rasa. Boganesa tidak sekadar memasok makanan; mereka menjadi arsitek energi bagi para calon intelektual muda. Menampilkan standar konsistensi dan ketepatan distribusi level korporasi, Boganesa memastikan setiap nasi, lauk, dan sayur tersaji dalam kondisi prima di titik-titik gedung perkuliahan.

Widya, Staf Humas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), menegaskan bahwa intervensi ini dirancang agar minim friksi. “Tidak ada antrean panjang yang menambah beban psikologis. Kami letakkan di setiap gedung. Mahasiswa tinggal hadir, mengisi presensi berbasis program studi, lalu menyantap sarapan. Semua serba desentralisasi dan cepat,” ujarnya lirih namun presisi.

BACA JUGA  Polsek Sidoarjo Kota Cek Lahan Jagung di Desa Lebo, Dukung Program Ketahanan Pangan

Secara sosiologis, program ini mendobrak fenomena laten di kalangan mahasiswa: sarapan pagi yang kerap menjadi ritual yang terlupakan di tengah tekanan akademik. Jefta Grasia Putra, mahasiswa PPKn, mengamini hal tersebut. “Siklus belajar kami sering brutal, berakhir larut malam dan langsung menuju ujian di pagi buta. Dalam kondisi zero calorie, otak sulit diajak bernegosiasi dengan soal. Kehadiran makanan ini ibarat software update bagi konsentrasi yang mulai error,” ungkapnya tajam.

Narasi serupa bergema di Kampus Lidah Wetan. Di bawah atap Joglo Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Dekan Syafi’ul Anam merumuskan gerakan ini sebagai diplomasi kelembagaan yang menyentuh langsung bilik-bilik paling fundamental manusia: rasa lapar. “Unesa tidak ingin hadir hanya sebagai menara gading yang mendikte capaian akademik. Kami hadir secara konkret untuk memastikan bahwa sebelum otak mereka bekerja keras, tubuh mereka sudah kami sambut dengan hangat,” tegas Anam.

BACA JUGA  Tokoh dan Ulama di Surabaya Bahas Kondisi Terkini Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Senada dengan itu, Wakil Dekan FBS, Anas, melontarkan aforisme yang mengakar kuat, “Logika tanpa logistik adalah ilusi.” Ia meyakini, saat lambung telah terisi, korteks prefrontal mahasiswa terbebas dari distorsi rasa lapar; mereka bisa lebih rileks, fokus, dan manusiawi dalam membaca setiap butir soal.

Bagi mahasiswa rantau seperti Aulia Ainun dari Kalimantan, mahasiswi Sastra Inggris angkatan 2025, sarapan ini menjelma menjadi pelukan hangat di perantauan. Berangkat dari asrama saat langit masih gelap seringkali membuatnya rela menukar sarapan dengan kecepatan waktu. “Ketika lapar, kita tidak sedang berperang dengan soal, melainkan berperang dengan pikiran sendiri. Melalui program ini, saya merasa bahwa kampus benar-benar memanusiakan mahasiswanya,” tutur Aulia dengan nada haru.

Intervensi nutrisi skala besar ini secara tak langsung menjadi kritik subtil terhadap sistem pendidikan yang kerap mengabaikan kesejahteraan dasar. Unesa, melalui kolaborasi solid bersama Boganesa Catering yang mumpuni di bidang mass catering, membuktikan bahwa perhatian terhadap logistik pangan adalah bagian dari kurikulum peradaban. Ke depan, evaluasi terkait variasi menu dan akurasi jumlah porsi akan terus dioptimalkan agar setiap 35.000 piring itu tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menginspirasi.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.