Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 01:55 WIB
Surabaya
--°C

Benarkah Orang Surabaya Suka Menggertak?

KEMPALAN : Sebetulnya ini termasuk late post, atau late news. Tapi berhubung ujung-ujungnya masuk kategori universal –cerita yang (mudah-mudahan) berlaku abadi– akhirnya saya tulis di sini.

Kejadiannya pas ‘malam tirakatan’ tanggal 16 Agustus lalu.
Hampir setiap peringatan Tujuh-Belasan di RT kami, selalu ada cerita tentang nostalgia.

Kalau sebelum-sebelumnya pelaku cerita adalah orang-orang sepuh yang mengalami peristiwa perang kemerdekaan, kali ini tidak. Saya pastikan, karena yang mengalami peristiwa heroik itu sudah meninggal semua, setidaknya di lingkungan RT kami.

Malam itu saya jejer, duduk berdua, dengan Eddy Dwi Rochadi mantan ketua RT kami yang menjabat seputar tahun 1980-an.

Di depan kami, di hadapan segenap warga RT, sedang berbicara sesepuh dan mantan ketua RT yaitu Pak H. Soeparno –saya biasa menyebut Gus NO karena guru ngaji saya– tentang siapa-siapa yang pernah jadi ketua RT. Kalau tidak salah ada delapan orang, hingga ketua yang sekarang ini yang dijabat Pak Yudi. Tentu saja saya kenal sosok-sosok mereka, tapi saya lupa urutan periode menjabat, kendati saya pernah menjadi sekretaris RT saat dijabat Pak Sutawi –Al Fatihah– dosen D3 Pariwisata Unair.

Setelah Gus No bercerita nostalgia tentang para ketua RT dengan berbagai romantika unik masing-masing, lantas diadakan kuis sehubungan dengan hal itu. Yang bisa menebak dengan benar diberi hadiah.

Berkaitan dengan nostalgia tadi, saya bercerita kepada Pak Eddy yang juga dikenal sebagai kader lingkungan hidup di kecamatan kami tinggal, tentang pengalaman saat saya (dan keluarga)
baru pindah, tepatnya tahun 1984. Saat itu Pak Eddy yang menjadi ketua RT.

BACA JUGA  Dekade Baru Ashuma: Revolusi Sport Science dan Pemulihan Atlet Nasional Berpusat di Sidoarjo

Cerita saya kepada Pak Eddy bahwa pagi hari saat berangkat ke kantor dengan mobil saya Daihatsu “Ceketer” 550 cc, sesudah Jl. Kyai Abdul Karim, mobil saya belokkan ke arah kanan, arah urara, ke Jl. Raya Rungkut Menanggal. Saat itu jika hendak ke arah utara ke pusat kota Surabaya, kami harus jalan memutar, karena di bagian utara persis perumahan kami tinggal, masih berupa rawa-rawa. Belum dibangun real estate.

Sehabis belok kanan kok terdengar suara brak! dan terasa bemper belakang “Ceketer” saya ada yang nabrak. Saat itu, tidak mungkin saya memberhentikan mobil di pertigaan yang ramai itu. Mobil tetap saya jalankan hingga saya dapat tempat parkir yang aman.

Sementara itu, mobil yang nabrak saya pun berhenti untuk parkir. Saya turun dari mobil dan berjalan balik ke arah mobil penabrak.

Saya lihat sekilas jarak sekitar 15 meter dari mobil yang nabrak, sopirnya turun lantas berjalan ke arah saya. Naluri saya segera menyatakan, seandainya orang ini menggertak, akan saya gertak balik. Dalam persepsi saya, orang Surabaya suka menggertak — salah atau benar.

Sopir yang nabrak saya itu posturnya atletis, agak mirip orang Arab.

Dia menyunggingkan senyum dan langsung menyalami saya, lantas mengatakan : Maaf pak, saya yang salah.

Tak ada klimaks. Yang ada anti-klimaks. Saya tak menyangka seperti itu. Saat beliau menunjukkan KTP-nya lha kok tetangga sendiri, hanya beda blok, sama-sama menempati tipe rumah paling kecil.

BACA JUGA  Misi Emas Porprov X: Skuad Voli Putra Surabaya Mulai Terbentuk

Setelah dia menunjukkan bengkel langganannya untuk memperbaiki mobil saya, kami makin akrab. Bahkan sekian tahun kemudian, satu kepengurusan RT saat dijabat Pak Sutawi. Seperti tadi saya sebutkan, saya sekretaris RT. Dan Pak Hafid yang tak sengaja menabrak itu sebagai Wakil Ketua RT Bidang Pembangunan.

Yang bikin surprised saya, Pak Hafid ini ternyata putra mantan walikota lejen Kotapraja Surabaya : Doel Arnowo.

Sejak proklamasi kemerdekaan, ada 17 walikota, tapi yang lejen (setidaknya menurut saya) ada dua orang, yaitu selain Pak Doel Arnowo, satunya lagi Pak Morstadjab. Dua (mantan) walikota ini namanya diabadikan untuk nama jalan, yaitu Jl. Genteng Arnowo dan Jl. Walikota Moestadjab.

Soal walikota lejen, tentu tidak sama bagi warga kota Surabaya. Menurut saya yang lejen ya Doel Arnowo dan Moestadjab Soemiwidagdo. Tapi bagi generasi 15-25 tahun di bawah saya, mungkin R. Soekotjo atau Tri Rismaharini satu-satunya walikota Surabaya yang pernah dijabat seorang wanita.

Pak Hafid almarhum (Al Fatihah) pernah studi tentang grafika di Jerman.

Jadi soal orang Surabaya suka nggedak (menggertak), ternyata cuma mitos. Apalagi di zaman global ini, etika yang menyangkut nilai-nilai kebaikan dan keburukan, rasanya sudah seragam. Mungkin karena kaidah-kaidah hukumnya juga seragam sesuai KUHAP. Hanya kebiasaan-kebiasaan yang menyangkut budaya suku-suku yang bejibun yang tersebar di Indonesia nan maha luas ini yang berbeda-beda. Amang Mawardi

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.