KEMPALAN: Perlu dipahami dulu: tidak semua orang yang suka bohong itu punya Narcissistic Personality Disorder. Tapi pada orang dengan ciri narsistik yang kuat, bohong sering kali bukan cuma buat nutupi fakta. Tujuannya lebih ke menjaga citra diri yang sudah mereka bangun mati-matian.
Poin di atas disampaikan akun TikTok ‘Ratu Hapis’ lewat video yang dapat 171 likes.
Orang kebanyakan kalau ketahuan bohong biasanya malu, minta maaf, lalu beresin masalah. Nah, pada individu dengan pola narsistik, ngaku salah bisa terasa kayak ancaman langsung ke harga diri dan identitas mereka, lanjut ‘Ratu Hapis’.
Akibatnya, mereka cenderung:
- Lebih milih jaga citra daripada ngaku fakta
Terlihat salah buat mereka jauh lebih sakit daripada kehilangan kepercayaan orang lain. Makanya mereka tetap bertahan di cerita yang sudah dibuat, walau bukti bohongnya sudah jelas. - Putarbalikkan cerita biar tetap kelihatan benar
Begitu satu alasan ketahuan tidak masuk akal, mereka bikin alasan baru. Bukan karena logis, tapi buat menghindari posisi sebagai pihak yang bersalah. - Pakai penyangkalan sebagai tameng diri
Dalam psikologi, “denial” adalah mekanisme pertahanan. Sebagian orang dengan sifat narsistik menolak menerima kenyataan yang mengancam cara mereka melihat dirinya sendiri. - Alihkan fokus dari kebohongan ke hal lain
Daripada bahas fakta, mereka bisa ganti topik, menyalahkan orang lain, atau ngungkit kesalahan masa lalu supaya perhatian bergeser. - Anggap ngaku salah = kehilangan kendali
Banyak individu narsistik pengen tetap dominan dalam hubungan. Ngaku salah dirasakan kayak kalah atau kehilangan “kemenangan” dalam konflik. - Tetap bohong meski semua orang sudah tahu
Kadang tujuan bohong bukan lagi bikin orang percaya, tapi mempertahankan versi realitas yang bikin mereka nyaman. Jadi mereka bisa ngulang cerita yang sama walau faktanya sudah diketahui semua orang.
Yang paling bikin bingung, kata ‘Ratu Hapis’, adalah saat kita berpikir: “Dia tahu kalau aku tahu dia bohong. Tapi kenapa masih lanjut?”
Dari sudut psikologi, itu bukan soal nyari kebenaran. Lebih ke soal mempertahankan citra, menghindari rasa malu, dan lepas dari tanggung jawab.
Makanya, menunnukkan lebih banyak bukti ke orang dengan pola NPD tidak selalu bikin mereka ngaku. Yang sering terjadi malah penyangkalan makin keras, muncul alasan baru, atau serangan balik.
Pesan penting dari ‘Ratu Hapis’:
Kalau kamu berhadapan dengan orang yang terus menyangkal fakta jelas, jangan sampai kamu mulai meragukan ingatan, perasaan, atau penilaianmu sendiri.
Lebih baik catat kejadian, cari perspektif dari orang terpercaya, dan jaga batasan yang sehat — daripada terus debat soal kenyataan yang sebenarnya udah jelas.(AM).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi