Pada akhirnya, saat pengusaha-pengusaha MBG legowo, relawan-relawan begitu mulia menerima penghentian MBG, tapi murid-murid jejeritan, maka ini menjadi masalah kita bersama.
Oleh: Tere Liye
KEMPALAN: Seperti yang telah kami perkirakan sebelumnya, keputusan BGN menghentikan MBG saat libur sekolah telah memicu gelombang protes anak-anak di seluruh Indonesia.
Mulai dari Aceh sampai Papua, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote.
Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri protes ini, Si Agus misalnya, kelas 3 SD, guling-guling di lapangan minta MBG diteruskan.
Si Bambang, kelas 1 SMP, berteriak histeris di dalam WC sekolah minta agar ompreng kembali dikirim ke sekolah-sekolah saat liburan.
Bahkan Si Joko, anak kelas 6 SD, naik tiang bendera sekolah, mengancam tidak akan turun-turun jika tidak ada lagi makan bergizi di sekolahnya.
Guru-guru yang kami temui juga menunjukkan wajah kecewa yang mendalam. “Anak-anak itu sangat bersemangat sekolah karena MBG, kalau sudah begini, salah siapa?” Demikian kata Bu Tuti, kepsek SD.
“MBG itu penting banget bagi pertumbuhan anak-anak kami. Bagaimana kalau tinggi badan anak-anak kami memendek? Bagaimanaaa?” Teriak Bu Puteri, salah-satu orang tua murid.
Dihentikannya MBG saat libur sekolah telah menjadi keprihatinan luar biasa di berbagai tempat. Sebagai generasi penerus, nasib Indonesia di masa depan sangat terancam.
“Hentikan Saja Libur Sekolahnya Daripada MBG Berhenti!” Demikian teriak Joko dari atas tiang bendera.
Bu Tuti sangat berharap jeritan pilu murid-murid sekolahnya didengarkan oleh Presiden, betapa sangat stratehis dan dibutuhkan MBG ini.
“Bagaimana kalau Joko tetap di tiang bendera sampai sekolah masuk lagi, upacara bendera tiap hari Senin akan terganggu, karena tiangnya masih dinaiki si Joko.”
Pada akhirnya, saat pengusaha-pengusaha MBG legowo, relawan-relawan begitu mulia menerima penghentian MBG, tapi murid-murid jejeritan, maka ini menjadi masalah kita bersama.
Siapa sih yang sangat membutuhkan MBG ini? Tentulah anak-anak yang jejeritan ini.
Terakhir, jika kalian mau menggalang dana pembelian tiang bendera baru, bisa kirimkan donasi ke sekolah Bu Tuti.
“Tidak apalah Joko masih di atasnya, kalau ada tiang baru, kami bisa terus upacara bendera.” Tandas Bu Kepsek, “Semoga kalau ompreng kembali datang, Joko mau turun dari tiang bendera itu.”
*) Tere Liye, Penulis dan Akuntan Berkebangsaan Indonesia

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi