Sehingga terwujudnya warga jam’iyyah dengan kesungguhan mengikuti arahan dan bimbingan para Kiai bisa dirasakan dan menjadi kekuatan yang tidak dapat terkalahkan.
Oleh: Munib Abd Muchith
KEMPALAN: Ya jabbar, ya qohhar….ya jabbar ya qohhar… asmaul husna ya terus dilafadzkan KH. As’ad Syamsul Arifin yang diperintah oleh KH Cholil Bangkalan dalam perjalanan dari Bangkalan menuju Jombang kediaman KH. Hasyim Asy’ari salah satu pendiri Nahdlatul Ulama, ketika beliau diutus menyerahkan tongkat, dan tasybih sebagai bentuk direstuinya berdiri Nahdlatul Ulama.
Maka, sudah semestinya bacaan tersebut punya azimah dan punya nilai megis terhadap ketangguhan Nahdlatul Ulama sekalipun ditempa dengan berbagai macam cobaan dan dinamika yang terjadi pada Nahdlatul Ulama sejak berdirinya sampai waktu menapaki abad ke dua ini.
Dinamika itu terjadi karena faktor ekternal yang masuk menambah keruetan yang makin memuncak menjadi friksi yang tidak terkendali. Itu karena syahwat politik, menganggap khidmah dalam NU hanya ketika menduduki pengurus struktural, sehingga ambisi kekuasaan menjadi lebih dominan.
Aura Tegang Munas – Kombes
Seperti prediksi penulis sejak awal, ketika ditunjuk menjadi salah satu dari peserta pada Munas-Kombes, kalau akan terjadi sabotase peserta ternyata semua peserta dari Syuriyah tidak mendapat Id.card yang tentunya sangat penting untuk dipakai sebagai tanda masuk menjadi peserta.
Entah, tiba-tiba penulis merasa janggal, sebab ada beberapa pengurus Tanfidziyah PWNU yang tidak terdaftar dalam peserta memakai Id.Card sebagai syarat masuk dalam arena munas-kombes, sementara tempat penginapan untuk transit peserta 1,5 jam dalam perjalanan normal sampai pada lokasi Munas-Kombes, ini namanya Isolasi syuriyah, maka rasa iba penulis lantas mengarahkan syuriyah meninggalkan tempat isolasi untuk lebih dekat dengan tempat Munas-Kombes.
Mungkin kelalaian adminstrasi yang menjadi tupoksi sekretaris Tanfidziyah, tetapi dinamika yang seharusnya dikelola dengan apik dan bisa mendewasakan (suatu) berorganisasi, tetapi menjadi ketegangan menambah friksi yang menguat, karena kelalaian atau kesengajaan.
Sementara kesungguhan dari peserta syuriyah tidak akan mengendorkan usaha pengabdian nya untuk bersama peserta lainya mengikuti satu persatu agenda yang terjadwal, walaupun usaha untuk mencari Id.Card Rois dan katib syuriyah tidak henti beberapa kali telepon pada sekretaris tanpa diangkat dan dijawab.
Tetapi ada pintu lain untuk mendapatkannya dengan pendekatan pada Panitia.
Panggung Politik
Nahdlatul Ulama yang berdiri bertujuan untuk menyatukan kekuatan para Kiai yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dengan madzhab tasufnya Al Ghozali dan Al Junaidi, yang lebih mengedepankan tawadzu’, tawazun, tawsuth, betul-betul sedang dicoba dengan para petualang praktisi politik, untuk menarik NU dalam politik kekuasaan, sehingga friksi itu akan menjadi bara yang akan memecah persatuan, bukan dinamika harmoni.
Para petualang praktisi politik itu sekedar memanfaatkan jam’iyyah Nahdlatul Ulama sebagai tunggangan untuk meraih kekuasaan, sehingga mendorong untuk melakukan berbagai macam cara meraihnya.
Itu terjadi karena dorongan duniawi seperti menduduki jabatan eksekutif dalam pemerintahan (komisioner, dan yang lainnya) atau perusahaan, bahkan berusaha menggiring warga NU untuk sekedar menjadi Biting dalam kontestasi pemilihan, sangat kentara sekali aura ketidakjujuran akan tampak, dan mengakali aturan yang disepakati demi ambisi semata.
Maka, ketika Nahdlatul Ulama sebagai kendaraan untuk ditunggangi sekedar kepentingan semata, aurod yang dibaca oleh KH. As’ad Syamsul Arifin akan menjerat para petualang yang bermain-main dengan NU.
Kalimatul Ikhtitam
Nahdlatul Ulama adalah jam’iyyah pelayanan (khidmah) bukan organisasi politik praktis yang berorentasi pada kekuasaan, sehingga kesiapan dan kesanggupan pengurus untuk melayani warga membela, mengarahkan, dan mendampingi itu bagian yang tidak bisa dilepaskan.
Sehingga terwujudnya warga jam’iyyah dengan kesungguhan mengikuti arahan dan bimbingan para Kiai bisa dirasakan dan menjadi kekuatan yang tidak dapat terkalahkan.
Berbenah dari untuk berbuat lebih baik itu adalah harapan setiap insan, sehingga Otoritas moral yang lama disematkan pada NU dapat dipertahankan.
*) Munib Abd Muchith, Wakil Ketua Katib PWNU Jawa Tengah
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi