Senin, 20 April 2026, pukul : 11:49 WIB
Surabaya
--°C

Di Indonesia, Lailatul Qadar Bisa Empat Kali?

Ilusrasi Lailatul Qadar (foto:ist)

KEMPALAN.COM: Hari Senin, 4 April 2022, adalah hari keempat, ketiga, kedua dan pertama di bulan Ramadan, secara berturut turut, bagi jamaah Tarekat Naqsabandiyah, Muhammadiyah dan An Nadzir, Nahdlatul Ulama (NU), dan Aboge.

Tarekat Naqsabandiyah menetapkan tanggal 1 Ramadan bertepatan dengan hari Jumat 1 April 2022. Muhammadiyah dan Jamaah An Nadzir kebetulan sama menetapkan 1 Ramadannya pada hari Sabtu 2 April 2022. Sedangkan NU dan Jamaah Aboge berturut-turut hari Minggu dan Senin tanggal 3 dan 4 April 2022.

Di Nusantara memang fenomena keislaman yang muncul setiap awal Bulan Ramadan dan Syawal adalah perselisihan penetapan tanggalnya. Perselisihan ini pada umumnya orang mengetahui berujung pangkal pada posisi dua ormas keagamaan Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Namun faktanya ada tiga komunitas Islam lainnya yang juga berbeda.

Perselisihan ini terus diekspos secara massif. Terutama metode yang digunakan NU yang dinilai mewakili posisi keagamaan pemerintah dalam sidang itsbat atau sidang penentuan 1 Ramadan atau 1 Syawal.

Meski boleh jadi memiliki orientasi akhirat yang sama, namun dalam banyak hal, kelimanya memiliki metode beragama yang berbeda. Salah satunya dalam menentukan kalender Hijriah, yang penghitungannya ditentukan oleh pergerakan Bulan.

Bulan merupakan satelit alami bumi. Sebagai satelit yang berputar mengitari Bumi, penampakan bulan berubah tergantung waktu. Dari sama sekali tidak tampak, muncul bulan sabit tipis, kemudian tampak melebar, terus lingkaran penuh atau purnama, kembali mengecil membentuk sabit, sabitnya semakin mengecil, hingga tidak tampak kembali.

Perubahan dari penampakan bulan inilah yang menjadi acuan dalam penanggalan kalender Qamariah. Penampakan hilal atau bulan sabit yang paling tipis menjadi tanda bulan baru telah masuk. Dalam praktiknya, kerap terjadi perbedaan awal bulan terutama Ramadan, Syawal, dan Dzulhijah. Hal tersebut disebabkan perbedaan kriteria teknik pelaksanaan metodenya.

Dalam penentuan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal, NU menetapkan dengan metode Rukyatul Hilal, sedangkan Muhammadiyah dan Aboge menggunakan metode Hisab yang satu sama lain berbeda. Sementara, Tarekat Naqsabandiya dan An-Nadzir memadukan dua model yakni pengamatan alam (bulan dan alam sekitar) dan juga hisab.

Perbedaan tersebut berawal dari pemahaman Hadits Rasulullah SAW, ‘’Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya: Metode Menyaksikan Bulan (Rukyat)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.