Metode Menyaksikan Bulan (Rukyat)
Melihat bulan dalam hadits penentuan awal puasa dan Hari Raya di atas, ditafsirkan oleh sebagian kalangan dengan beragam metode. Metode yang menggunakan penglihatan langsung adalah Rukyatul Hilal.
Organisasi Masyarakat NU menggunakan metode Rukyatul Hilal atau menyaksikan hilal (bentuk bulan sabit yang menunjukkan pergantian bulan). NU menggunakan metode ini sebagai kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung.
Apabila hilal tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Dalam konteks metode ini, NU menempatkan para pakarnya di berbagai titik di kawasan Nusantara untuk menyaksikan hilal tersebut dengan mata telanjang dan dengan bantuan teleskop. Hasil sidang Itsbat memutuskan bahwa 1 Ramadan bertepatan dengan hari Minggu tanggal 3 April 2022 karena hilal tidak terlihat.
NU dalam konteks penentuan awal Ramadan dan Syawal ini sangat mendepankan tafsir secara tekstual dari hadits Rasulullah tersebut yang menyebutkan hadits untuk melihat bulan secara langsung untuk menentukan awal Ramadan dan Syawal. Meski demikian, NU masih mengakui metode hisab, namun mengedepankan metode Rukyat dalam penentuan awal Ramadan dan Syawalnya.
Metode Penghitungan (Hisab)
Salah satu metode yang cukup berbeda dengan Rukyat atau melihat Bulan adalah metode Hisab atau perhitungan.
Jemaah Aboge di Kabupaten Purbalingga menggunakan satu sistem penghitungan tersendiri dalam menentukan awal bulannya.
Jemaah Aboge adalah pengikut aliran yang diajarkan Raden Sayid Kuning, ulama dari kerajaan Panjang. Lalu perhitungan yang dipakai komunitas Aboge telah digunakan sejak abad ke-14 dan disebarluaskan Raden Rasyid Sayid Kuning.
Aboge merupakan akronim dari Alip-Rebo-Wage, yang merupakan jenis perhitungan kalender Jawa menggunakan sistem satu windu (delapan tahun) untuk menyelesaikan satu periode waktu. Menurut Aboge, satu windu terdiri dari tahun Alip, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jim Akhir.
Sedangkan satu tahun tetaplah dua belas bulan, dan satu bulan terdiri atas 29-30 hari, dengan hari pasaran yang terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing. Terkait sistem pasaran ini, hari pertama pada tahun Alip jatuh pada hari Rebo Wage.
Dalam menentukan 1 Ramadan, hitungan dalam kalender Aboge adalah “romnemro,” bulannya Romadhon (Ramadan) harinya enem (enam). Enam itu menghitungnya dari Rebo sehingga ketemunya adalah hari Senin, untuk pasarannya “ro” artinya loro (dua), hari kedua setelah wage jadi Kliwon sekarang (Ramadan) Senin Kliwon, yang bertepatan dengan bertepatan tanggal 4 April 2022.
Metode hisab lainnya adalah yang digunakan oleh Muhammadiyah. Dalam metode yang dikembangkan, Muhammadiyah sangat mendepankan pengetahuan dalam Astronomi yang telah dikembangkan secara maju dan mapan. Dalam konteks pergerakan benda langit, Muhammadiyah merujuk pada Al Quran Surat yunus ayat 5:
Artinya: ‘’Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui“.
Muhammadiyah memandang bahwa penentuan awal Ramadan dan Syawal dengan hisab atau rukyat adalah strategi, bukan substansi. Menyikapi hadits untuk melihat hilal sebagai peentu awal Ramadan Syawal bisa dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW pada waktu itu menggunakan rukyat dengan pengakuan bahwa pada waktu itu adalah sebagai umat yang umi, tidak tahu perhitungan tahun dan bulan, tahunya bulan itu bisa 29 hari dan 30 hari.
Sehingga, Muhammadiyah menilai, menghadapi kondisi yang demikian Rasulullah sangat bijak yaitu dengan melihat hilal (karena ada ilat). Muhammadiyah menekankan, bahwa sekarang umat sudah tahu perhitungan tahun dan bulan setelah terdorong mempelajari Surat Yunus ayat 5.
Muhammadiyah mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan kepastian jadwal dengan dasar astronomi bermanfaat dalam perencanaan waktu untuk yang akan datang dan penanda hari atas sejarah masa lampau. Dalam hal ini Muhammadiyah memelopori penggunaan jadwal shalat, gerhana matahari, dan gerhana bulan, dan bahkan jadwal rashdul kiblat.
Sehingga, berdasarkan ilmu Aastronomi tersebut, Muhammadiyah telah jauh-jauh hari menetapkan 1 Ramadan pada Sabtu 2 April 2022.
Selanjutnya: Meadukan Rukyat dan Hisab

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi