Senin, 20 April 2026, pukul : 12:20 WIB
Surabaya
--°C

Dan Gila

Catatan AMANG MAWARDI

KEMPALAN : Sore itu, 18 April 2026, saya dihadapkan pada dua pilihan : menghadiri ultah salah satu cucu saya di Sidoarjo, atau mendatangi acara “Beauty of Balai Pemuda Surabaya” yang diadakan oleh Sanggar Merah Putih (SMP).

Acara yang dihelat SMP ini adalah melukis on the spot (OTS) dengan model artis & produser film yang Ketua Umum Parfi 1956 (2022-2027) Marcella Zalianty, dan Arumi Bachsin istri Wakil Gubernur Jatim Dr. Emil Dardak yang dulu dikenal sebagai foto model terkenal.

Setelah rundingan dengan istri, saya direlakan untuk meluncur ke salah satu sentra kesenian dan pariwisata yang ada di jantung kota Surabaya itu.

Di usia yang September nanti 73 tahun dengan kondisi naik-turun antara “sehat dan setengah sehat” — ditemani sobat saya sutradara senior Achmad Zainuri– kami bertolak dari rumah di pinggiran kota Surabaya, kawasan Rungkut, pukul 16.00, dengan taksi online.

Empat puluh menit (dengan sekitar 10 menit macet di kawasan Keputran) sampailah kami di tujuan.

Taksi online yang kami tumpangi berhenti di pinggir Jalan Gubernur Soerjo, di sebelah selatan Balai Pemuda (Balpem).

*

Keluar dari kendaraan angkutan itu saya celingukan, disusul monolog : lho, alun-alun bagian barat kok “sepi”? (Terutama lantaran tak ada deretan UMKM mamin yang biasanya berjejer di depan sekretariat Dewan Kesenian Surabaya dan bekas kantor KNPI).

Lantas kami berdua berjalan ke arah timur di kompleks Balpem ini, sebab di depan Galeri Merah Putih di alun-alun bagian timur Balpem, di situlah OTS tersebut dipusatkan.

Benar saja, setelah sampai di situ, saya lihat orang-orang membeludak. Ada 400-an. Mereka berada di depan Galeri Merah Putih dan sebagian di depan Galeri DKS. Dari jumlahan itu, separuhnya adalah peserta OTS dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur.

Boleh jadi inilah OTS yang pernah saya saksikan yang terbanyak diikuti peserta dan ditonton oleh apresian.

Saya lantas merangsek ke depan dekat baliho acara. Dari sela-sela tubuh penonton di depan saya, tampak Marcella “wanita besi” Zalianty dan Arumi Bachsin “si burung camar”, duduk tenang lantaran sedang dilukis oleh peserta OTS.

Di belakang dua model tersebut, di seperangkat meja tamu bernuansa etnik, duduk Wagub Jatim Dr. Emil Dardak, budayawan Erros Djarot, dan seseorang yang outfit dan sosoknya mencerminkan pejabat. Tidak saya lihat Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Saya membatin, mungkin seseorang tadi pejabat yang mewakili Cak Eri berhalangan hadir.

Sebagaimana poster digital yang diproduksi SMP, acara ini (rencananya) dibuka oleh Wali Kota Surabaya, Wagub Jatim, dan budayawan Erros Djarot.

Libido saya untuk ngobrol dengan Erros Djarot kuat, tetapi saya mencoba realistis. Situasi tidak memungkinkan. Saya sadar diri, apalagi belakangan saya cenderung menghindari menulis strait news yang cenderung “time line”, butuh speed cepat, dan energi berlebih.

Saya akhir-akhir suka menulis feature yang lebih lunak. Mungkin –mungkin ya– ini menyangkut “Faktor U”.

Maka saya pun “Turn U”, memutar tubuh untuk mengambil napas dan menikmati keindahan sore itu.

Saya pun mencoba mengayun langkah — keliling. Dari upaya itu saya ketemu teman-teman seniman dan jurnalis senior, dan menyempatkan ngobrol. Sebentar-sebentar.

Dengan wartawan dan raja gurit Widodo Basuki. Dengan fotografer Leo Arief Budiman. Dengan videografer Anto. Dengan “gembong monolog” Cak Tohir Jokasmo. Dengan jurnalis senior Retno Asri Lestari. Dengan pelukis “angka dalam komposisi garis & warna” Desemba Sagita Titaheluw.

*

Selepas itu saya berjalan memutari “arena”. Di depan Galeri DKS, saya ketemu Heru Budiarto Ketua Bengkel Muda Surabaya, Amir Kiah sutradara teater dan desainer sampul buku. Dilanjut ngobrol.

Sebelum itu sempat bincang-bincang dengan pelukis Fathur Rojib dan Khusnul Bahri. Juga dengan seniman yang guru : Sjaiful Hajar.

Dari jarak beberapa meter saya lihat musisi Mahamuni Paksi putra musisi legend almarhum Naniel Yakin, asyik menikmati suasana sore itu.

Juga ketemu Agus “Bei” Hari salah satu sosok yang akrab dengan kalangan seniman.

Di antara ratusan peserta OTS saya lihat pelukis senior Bagas Karunia Putra dan Budi Bi.

Sekira pukul 17.15, suasana mulai “fade out”. Saya lantas mendekati spot seperangkat kursi etnik tersebut. Erros Djarot dan beberapa orang yang ada di sekitar situ mulai berdiri.

Untuk lebih bisa menarik simpati Erros Djarot agar terjadi obrolan gayeng, saya serahkan salah satu buku karya saya : ” Seperti Obrolan Warung Kopi” (Kumpulan 40 Story Telling) yang diberi pengantar oleh Dr. Dhimam Abror (Ketua Dewan Pakar PWI Pusat). Buku yang terbit tahun 2024 ini berisi ’20 story telling peristiwa’ dan ’20 story telling sosok’, di antara sosok-sosok itu terdapat Erros Djarot.

Sambil berdiri, kami ngobrol tidak lama. Lantas saya ajak Erros Djarot untuk berfoto bersama, ternyata dekat situ ada M Anis — Ketua Sanggar Merah Putih yang juga editor buku “Autobiografi Erros Djarot.”

Lantas saya ajak, “ayo Pak Anis, kita (ber)foto bertiga!”

Selepas ambil pose, saya katakan kepada budayawan jenius ini, “Mas Erros, Pak Anis ini sahabat saya : rendah hati, idealis, berani.”

“Dan gila! ,” Erros Djarot menyahut dengan cepat.

Gila ?

Tentu saja itu adalah ‘kata bersayap’. Pak Anis bagi saya memang “gila” pada tiga elemen ini : rendah hati, idealis, dan berani (*).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.