Minggu, 31 Mei 2026, pukul : 02:41 WIB
Surabaya
--°C

Sepak Bola Bukan Tempat Kehilangan Martabat: Jak Mania Jangan Meniru Erick Thohir

Sebuah tindakan barbar yang telah memperlihatkan bagaimana kekuasaan bisa membuat orang rela merusak fasilitas publik hanya demi menjatuhkan lawan politiknya sendiri.

Oleh: Geisz Chalifah

KEMPALAN: Sabtu kemarin pertandingan Persija melawan Persib.

Sebagai alumni MBFA, tentu saja saya mendukung Persija Jakarta. Berharap Persija menang dan kembali merasakan gelar juara seperti pada masa Anies Baswedan menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Kita tentu masih ingat ketika Anies dilarang turun ke lapangan oleh Paspampres Joko Widodo di GBK. Sebuah perlakuan yang terasa janggal bagi banyak orang.

Tetapi Jak Mania dan tim Persija tetap datang ke Balai Kota dan disambut dengan penuh kegembiraan. Anies sendiri memilih tidak memperpanjang polemik dan tidak mengomentari perlakuan yang diterimanya saat itu.

Persija adalah kebanggaan kota ini. Saya menonton mereka sejak masih SD. Dari masa Andi Lala, Sutan Harhara, Anjas Asmara, hingga berbagai momen ketika Persija berkali-kali menjuarai kejuaraan.

BACA JUGA  Membangun 750 Yonif TP Sebagai Strategi TNI Menghadapi Ancaman Baru

Ironisnya, pertandingan sebesar Persija vs Persib justru tidak dimainkan di Jakarta, melainkan dipindahkan ke Kalimantan Timur. Sebuah keputusan yang jelas sangat merugikan Persija sebagai tuan rumah dan menjauhkan pertandingan dari basis suporternya sendiri.

Itulah contoh nyata buruknya tata kelola sepak bola nasional. Liga dikelola tanpa arah yang jelas, tanpa keberpihakan pada fairness kompetisi, dan seringkali telah mengabaikan kepentingan klub maupun supporter.

PSSI terlalu sering memperlihatkan ketidakmampuan mengelola sepak bola secara profesional. Kompetisi kehilangan marwah ketika keputusan-keputusan penting justru terasa tidak masuk akal bagi publik sepakbola itu sendiri.

Tetapi apa pun hasil pertandingan tersebut, saya berharap Jak Mania masih tetap menunjukkan kedewasaan.

Datang dengan semangat. Pulang dengan kehormatan.

Jangan tinggalkan stadion dengan amarah yang melampiaskan diri pada kursi, pagar, atau rumput. Karena supporter besar tidak diukur dari kerasnya teriakan, tetapi dari kemampuannya menjaga martabat kotanya sendiri.

BACA JUGA  TKA 2026 dan Krisis Pembelajaran Nasional: Jalan Menuju Sekolah yang Membahagiakan dan Memanusiakan

Jangan pula meniru perilaku dari Erick Thohir dan gerombolannya yang pernah merusak rumput JIS (Jakarta International Stadium) demi kepentingan politik.

Sebuah tindakan barbar yang telah memperlihatkan bagaimana kekuasaan bisa membuat orang rela merusak fasilitas publik hanya demi menjatuhkan lawan politiknya sendiri.

Publik jangan dibuat lupa bahwa rumput JIS dirusak bukan karena pertandingan sepak bola, tetapi karena kebencian politik yang dibungkus pencitraan.

Karena sepak bola itu seharusnya melahirkan kebanggaan, bukan kedengkian. Melahirkan persaudaraan, bukan kebisingan penuh kebencian.

Menang, rayakan dengan elegan. Kalah, terima dengan bermartabat.

Dan kalau kemarin ada supporter yang mampu pulang tanpa merusak apa pun, tanpa menginjak rumput stadion, tanpa bertingkah barbar, setidaknya mereka telah memperlihatkan akhlak yang bahkan gagal ditunjukkan seorang Erick Thohir.

*) Geisz Chalifah, Aktivis Budaya

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.