Seruan Salemba

waktu baca 5 menit
Akademisi membacakan Seruan Salemba 2024 dalam forum ilmiah universitas se-Jabodetabek (*)

KEMPALAN: Sejumlah guru besar dari berbagai universitas di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi bertemu dalam forum ‘’Universitas Memanggil’’ Kamis (14/3), dan mengeluarkan Seruan Salemba 2024. Seruan tersebut menuntut agar pemerintah Jokowi taat terhadap konstitusi, dan  memulihkan hak kewargaan serta peradaban berbangsa. 

Beberapa hari sebelumnya, sejumlah akademisi di Yogyakarta berkumpul dalam forum ‘’Kampus Menggugat’’ dan menyuarakan keprihatinan yang sama terhadap kondisi bangsa. 

Seruan Salemba menegaskan bahwa para akademisi memegang teguh kebebasan akademik dan otonomi keilmuan saat menjalankan fungsi utama ilmu pengetahuan. Mereka tidak berbicara atau berjuang di atas kepentingan kekuasaan dan uang. ‘’Kami bersuara sebagai gerakan moral dan intelektual,” bunyi seruan itu.

Manuver politik Jokowi yang ugal-ugalan membuat para akademisi mendesa supaya Jokowi taat konstitusi yang  mewajibkan Presiden–sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan–untuk berdiri di atas semua golongan tanpa terkecuali. Para akademisi itu melihat amanat konstitusi tidak dilaksanakan karena kepentingan kekuasaan pribadi Jokowi.

Konstitusi mewajibkan Presiden untuk mematuhi hukum dan menjaga kemandirian peradilan. Nyatanya, terjadi penyalahgunaan kekuasaan dengan rekayasa hukum yang makin meruntuhkan demokrasi. 

Para akademisi itu menyoroti maraknya politik gentong babi, pork barrel politics, dalam bentuk instrumentalisasi bantuan sosial berkedok bantuan untuk rakyat miskin, meskipun dalam kenyataannya lebih terlihat sebagai eksploitasi terhadap kemiskinan. 

Selama sepuluh tahun pemerintahan Jokowi telah lahir berbagai kebijakan yang mereduksi substansi pendidikan menjadi urusan administratif belaka. Para pengajar dibebani berbagai borang penilaian, sementara substansi dan profesionalisme pendidik terabaikan. 

Para akademisi mengecam maraknya kekerasan budaya simbolik melalui bahasa, simbol, representasi kekuasaan, bahkan penyalahgunaan ilmu pengetahuan. Tujuannya menyerang kesadaran, nilai dan norma terkait kebaikan, kejujuran, kebenaran, dan keadilan, demi membenarkan tindakan mempertahankan kekuasaan. 

Demokrasi sudah mati. Kata Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam bukunya ‘’How Democracies Die’’ (2018). Dua profesor dari Harvard itu menunjukkan berbagai indikator yang mengarah pada kematian demokrasi. Kampus yang mestinya menjadi penjaga suara demokrasi, sekarang berubah menjadi penjaga kekuasaan.

Peter Fleming (2022) akademisi Amerika menerbitkan buku ‘’Dark Academia: How Universities Die’’. Fleming mengungkap sejumlah fenomena yang menunjukkan bahwa tradisi intelektual kampus sudah mati, dan kampus hanya menjadi puing yang bahkan menara gadingnya pun sudah ambruk.

Di Amerika, kampus-kampus tidak obral gelar kehormatan kepada pejabat negara atau politisi seperti di Indonesia. Tetapi, perubahan kampus–yang sekarang menjadi perusahaan komersial–telah membunuh tradisi intelektual kampus yang selama ini dibanggakan. 

Fleming menganggap kampus sudah mampus dilindas oleh gelombang neoliberalisme yang menjadikan lembaga pendidikan tinggi sebagai mesin penghasil uang daripada penghasil cendekiawan.

Fenomena komersialisasi melanda Amerika, Eropa, dan Australasia. Di Indonesia kampus sudah menjadi lembaga komersial yang dikelola dengan prinsip-prinsip bisnis. Kampus menjadi mesin pencari uang yang dikelola oleh pejabat yang punya keterampilan bisnis dan keuangan. Para ilmuwan dan intelektual–yang seharusnya menjadi ujung tombak kampus–berubah menjadi pegawai yang harus patuh kepada manajer komersial.

Ketika demokrasi Indonesia menghadapi sakaratul maut seperti sekarang para aktis demokrasi berpaling kepada kampus dan mengharapkannya untuk menjadi sumber penyelamat. Tapi, sejauh ini rasanya seperti ‘’ a cry in the dark’’, teriakan dalam kegelapan.

Undang-undang Omnibus Law 2020 semakin membuat kondisi kampus mengenaskan. Kampus menjadi objek investasi yang harus bisa menghasilkan profit dengan upayanya sendiri. Orientasi ekonomi bisnis yang terlalu kuat mengalahkan orientasi intelektualitas yang idealistis. Berbagai program komersial dan investasi dibuka untuk mengeruk profit. 

Kaum intelektual kampus diperlakukan sama saja dengan karyawan perusahaan pabrik panci. Para doktor dan guru besar harus mengisi presensi kehadiran setiap hari. Ada insentif tambahan untuk kehadiran, dan ada denda berupa pemotongan bagi yang mangkir. 

Para pekerja kampus setiap saat sibuk dengan keharusan memenuhi target beban kerja. Meleset dari target beban kerja berarti tunjangan melayang. Atau, lebih buruk lagi, jabatan akan ikut melayang. Yang terjadi kemudian banyak dosen yang menjadi tukang palak intelektual, memalak mahasiswa supaya membuat penelitian ilmiah, lalu sang dosen mendaku dengan menempelkan namanya sebagai ‘’first author’’. Sang dosen masih memaksa para mahasiswa supaya mengutip karya ilmiahnya untuk menaikkan sitasi.

Kematian universitas adalah fenomena internasional akibat neoliberalisme politik dan ekonomi. Peter Fleming menggambarkan suasana kampus yang kelam di Amerika dan Eropa. Tekanan beban kerja yang sangat berat tidak diimbangi dengan remunerasi dan kompensasi yang memadai. 

Di Indonesia belum terdengar ada dosen yang mati bunuh diri karena frustasi oleh kondisi kampus. Tetapi sudah banyak dosen yang meninggal karena tekanan batin yang menyebabkannya mati jantungan. Protes terhadap komersialisasi kampus yang berlebihan sudah banyak disuarakan. Eksploitasi dan perbudakan yang berlebihan oleh jurnal internasional terakreditasi sudah sangat sering disuarakan. Tapi, praktik itu tetap berjalan tanpa ada perbaikan.

Beberapa waktu yang lalu Dr Sulardi, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) viral di media sosial karena menulis artikel ‘’Aku Malu Menjadi Dosen di Indonesia’’. Ia memrotes obral penghargaan guru besar oleh kampus kepada pejabat dan politisi. Sulardi, seorang intelektual yang sangat berintegritas itu, meninggal dunia 2020, kemungkinan karena jantung dan tekanan psikis.

Sulardi malu kepada kolega dan keluarga karena sering ditanya kapan menjadi profesor. Sulardi mengatakan, ia sudah menjadi dosen perguruan tinggi selama 30 tahun lebih dan sudah menghasilkan ratusan karya ilmiah. Tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan Sulardi kecuali mengajar, meneliti, dan menulis. 

Gelar guru besar yang diimpikan tak kunjung datang. Sulardi kian merana dan akhirnya meninggal mengenaskan. Andai Sulardi masih hidup–dan tahu bahwa kampusnya menjadi salah satu pendukung fanatik pasangan Prabowo-Gibran–mungkin ia bisa mati berdiri. 

Oleh: Dhimam Abror Djuraid, founder kempalan.com 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *