Empat Awalan Ramadan, Empat Kali Lailaltul Qadar?
Salah satu aspek menarik di Indonesia dalam penentuan awal Ramadan ini tentu adalah saat dikaitkan dengan Lailatul Qadar. Seperti tertulis dalam Al Quran surat Al Qadar, Lailatul Qadar merupakan satu malam yang bernilai pahala sebanyak seribu bulan. Pada malam itu semua amalan kebaikan bernilai pahala amalan yang dilaksanakan sebanyak seribu bulan.
Lantas, mencermati fenomena perbedaan penentuan awal Ramadan di atas, tentunya menarik untuk disimak. Implikasi dari perbedaan awal Ramadan tentu secara logis akan mengarahkan orang untuk berfikir bahwa akan ada empat kali perisitiwa dahsyat tersebut. Ini karena asumsi yang dikembangkan dari Hadits Rasulullah SAW menekankan bahwa Lailatul Qadar akan dating pada 27 Ramadan.
Sebagian orang menyangka bahwa malam lailatul qadar adalah pada malam ke-27, termasuk empat jamaah tersebut di atas berdasarkan beberapa hadits yang menyebut malam lailatul qadar adalah malam ke-27. Semisal hadits dari Sahabat Ubay bin Ka’ab. Beliau pernah bersumpah dan berkata,
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ
Artinya: ”Demi Allah aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh” (HR Muslim)
Demikian juga beberapa hadits serupa lainnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Dengan adanya penguat dari dalil di atas, banyak orang memercayai bahwa peristiwa Lailatul Qadar pada malam ke-27. Namun dengan fakta perbedaan awal Ramadan akan mengarahan adanya empat kali tanggal 27 Ramadan.
Lalu pertanyaannya adalah apa betul peristiwa Lailatul Qadar di Indonesia bisa sampai empat kali?
Tidak ada dalil yang menguatkan bahwa peristiwa Lailatul Qadar itu terjadi lebih dari satu kali. Tidak ada dalam riwayat Rasulullah yang menegaskan teresebut. Peristiwa Lailatul Qadar adalah terjadi sekali dalam bulan Ramadan, lebih khusus pada 10 hari terakhir.
Beberapa dalil menunjukkan malam lailatul qadar itu secara umum ada di antara 10 malam terakhir, tidak harus malam ke-27. Semisal hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التمسوها في العشر الأواخر فإن ضعف أحدكم فلا يغلبن على السبع البواقى
Artinya: ”Carilah di sepuluh malam terakhir, apabila tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh malam tersisa.” (HR Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى
Artiya: ”Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pada malam kedua puluh sembilan, kedua puluh tujuh, kedua puluh lima”.
Kompromi dari dalil-dalil tersebut adalah malam ke-27 merupakan malam yang paling diharapkan jatuhnya malam lailatul qadar dan bisa jadi mayoritasnya ada pada malam ke-27.
Syaikh Muhammah bin Shalih Al-‘Ustaimin menjelaskan, ‘’Malam ke-27 adalah malam yang paling diharapkan sebagai malam lailatul qadar, sebagaimana pada hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu”.
Inilah pendapat pertengahan yang mengkompromikan berbagai dalil, karena malam lailatul qadar itu berpindah-pindah setiap tahunnya.
Al Imam An-Nawawi berkata,
. ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘِّﻘُﻮﻥَ : ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﺗَﻨْﺘَﻘِﻞ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥ ﻓِﻲ ﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺳَﺒْﻊ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ ، ﻭَﻓِﻲ ﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺛَﻠَﺎﺙ ، ﻭَﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺇِﺣْﺪَﻯ ، ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺃَﻇْﻬَﺮ . ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺟَﻤْﻊ ﺑَﻴْﻦ ﺍﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳﺚ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﻠِﻔَﺔ ﻓِﻴﻬَﺎ
“Menurut para ulama peneliti: lailatul qadar itu berpindah-pindah setiap tahunnya. Terkadang pada satu tahun terjadi pada malam ke-27, terkadang pada malam ke-23, atau pada malam ke-21, atau di malam lainnya. Inilah pendapat yang lebih kuat karena mengkompromikan berbagai hadits-hadits yang ada.”
Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, ‘’Pendapat terkuat bahwa lailatul qadar pada malam ganjil 10 hari terakhir dan berpindah-pindah.
Dengan berbagai pendapat tersebut, tentunya selaku kaum beriman yang melaksanakan perintah menjalankan puasa Ramadan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, tentunya tidak kemudian mematok hanya pada satu malam, yakni malam ke-27. Tetapi, 10 hari terakhir dimanfaatkan sebaik mungkin. Atau, bahkan dari hari pertama hingga dari terakhir Ramadan adalah hari beribadah dan bisa dipastikan akan mendapatkan Lailatul Qadar yang didambakan kaum Muslimin terlepas mulainya lebih dulu atau belakangan penentuan awal Ramadannya. (*)
Penulis: Kumara Adji Kusuma (Redaktur kempalan.com, dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan Sekretaris Takmir Masjid Annur Sidoarjo)
Editor: Kumara Adji kusuma

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi