SURABAYA-KEMPALAN :Detak darurat pendidikan di kawasan Surabaya Raya mulai menemukan denyut solusi. Di tengah ancaman kekosongan ruang kelas akibat gelombang pensiun massal dan kebuntuan rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) secara berani mengambil inisiatif strategis. Kampus yang dijuluki “Rumah Para Juara” ini siap membantu Dinas Pendidikan Wilayah Surabaya Raya. Sebanyak 614 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) siap diterjunkan untuk langsung mengisi ruang-ruang belajar yang terancam kehilangan mentor.
Langkah taktis yang dibingkai dalam Program Pengalaman Lapangan (PPL) Mandiri ini menjadi respons konkret terhadap kondisi genting yang membayangi kawasan penyangga ekonomi Jawa Timur tersebut. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota Surabaya, sebanyak 360 guru memasuki masa pensiun setiap tahunnya , sementara formasi baru yang tersedia hanya mampu menutup sebagian kecil dari kebutuhan riil. Akumulasi kekosongan dalam beberapa tahun terakhir menciptakan defisit hingga 1.500 tenaga pendidik yang harus segera diisi .
“Ini bukan sekadar program penyerapan tenaga kerja. Ini adalah misi pengabdian intelektual untuk memastikan tidak ada satu pun ruang kelas yang kehilangan figur pendidik berkualitas,” tegas Kepala Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) Unesa, Dr. Fatkur Rohman Kafrawi, M.Pd., dalam wawancara eksklusif di kampus setempat, Senin (22/6).
Menjemput Darurat, Bukan Menunggu Instruksi

Unesa tidak menunggu birokrasi panjang yang kerap melambatkan respons krisis. Melalui skema PPL Mandiri, para mahasiswa PPG semester dua diterjunkan secara presisi ke sekolah-sekolah yang mengajukan kebutuhan mendesak di jenjang SD dan SMP. Mereka akan menjalani praktik mengajar di bawah bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing lapangan—sebuah model pembelajaran yang sekaligus menjadi solusi darurat atas kelangkaan tenaga pendidik.
“Ini adalah mata rantai yang selama ini putus. Sekolah kekurangan guru, sementara calon pendidik membutuhkan ruang belajar nyata. Unesa menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya,” ujar Dr. Fatkur Rohman Kafrawi M.Pd.
Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Tri Endang Kustianingsih, mengonfirmasi bahwa keberadaan mahasiswa PPG menjadi bagian vital dari solusi atas kompleksitas persoalan—mulai dari pensiun, mutasi, penambahan rombongan belajar, hingga kebutuhan guru pada mata pelajaran tertentu yang langka peminatnya.
“Kami menyambut baik inisiatif Unesa. Ini bentuk sinergi yang selama ini kami nantikan, di mana perguruan tinggi tidak hanya mencetak lulusan tetapi juga turun tangan langsung menyelesaikan persoalan di lapangan,” ungkap Tri Endang .
Bukan Sekadar Kuantitas, Melainkan Kualitas Adaptif

Di tengah tekanan kuantitas, Unesa menegaskan komitmennya pada mutu. Dalam Diklat Orientasi Akademik yang diikuti 614 peserta, Dr. Fatkur Rohman Kafrawi menekankan bahwa setiap calon pendidik yang diterjunkan adalah lulusan pilihan yang telah lolos seleksi ketat di tingkat nasional .
“Kekosongan ruang kelas tidak boleh sekadar diisi demi memenuhi angka. Kita menghadapi generasi yang tumbuh di era disrupsi informasi. Guru yang dikirimkan harus memiliki kapasitas intelektual dan pedagogik di atas rata-rata,” tegasnya.
Unesa, yang tercatat sebagai salah satu dari tiga besar LPTK dengan kuota PPG nasional terbanyak , mengintegrasikan penguatan literasi digital, penguasaan materi mendalam, serta ketahanan mental di lapangan. Para mahasiswa juga dibekali pemahaman tentang tantangan kompetensi, etika profesi, dan kesejahteraan yang dihadapi guru masa kini—termasuk kemampuan mengatasi siswa yang mudah mengeluh dan menyerah di tengah gempuran budaya instan.
Skala Darurat yang Lebih Luas

Aksi cepat Unesa ini tidak berdiri sendiri. Secara nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat total kekurangan guru mencapai 498.000 formasi . Pemerintah pun menargetkan penuntasan sertifikasi bagi guru yang belum tersertifikasi. Unesa, melalui BPPG, telah memfasilitasi ribuan guru bersertifikat—sebuah angka yang menegaskan posisinya sebagai tulang punggung pemenuhan kebutuhan guru nasional .
Kota Surabaya sendiri, dengan APBD yang tergolong besar, sebenarnya memiliki kapasitas anggaran untuk memenuhi kebutuhan guru . Namun, regulasi pemerintah pusat yang belum fleksibel kerap menjadi penghalang birokratis. Di sinilah peran strategis Unesa sebagai problem solver—hadir di tengah celah kebijakan dengan solusi akademik yang aplikatif dan terukur.
Menjaga Roda Literasi Tanpa Interupsi

Dengan penerjunan 614 mahasiswa PPG, Unesa memproyeksikan mampu mereduksi disparitas mutu pendidikan antara pusat kota dan wilayah suburban secara signifikan. Melalui sinergi kokoh bersama pemerintah daerah, institusi ini menegaskan komitmennya: menjaga agar roda literasi dan numerasi bangsa tetap berputar tanpa interupsi, bahkan di tengah krisis.
“Pengabdian ini adalah bukti bahwa Unesa hadir bukan sekadar sebagai institusi pendidikan, melainkan sebagai penjaga gerbang masa depan generasi Surabaya Raya. Melalui program PPG yang adaptif, kami menjamin lulusan yang diterjunkan adalah para profesional yang siap menjadi penggerak perubahan, bukan penonton krisis,” pungkas Dr. Fatkur Rohman Kafrawi M.Pd.(Ambari Taufiq M Fasichullisan).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi