Begitulah kisah terbaru negeri +62. Dadan turun, Nanik naik, netizen kembali bekerja lembur tanpa dibayar, mengomentari politik nasional dari warung kopi sampai kolom komentar.
Oleh: Rosadi Jamani
KEMPALAN: Kita lanjutkan kisah BGN. Isu-isu lain untuk sementara, menepi dulu ya. Soalnya, nusantara pecah. Kang Dadan diganti Nanik, saya kira reaksi netizen, pas itu. Ternyata, reaksinya “sami mawon.” Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Begitu kabar Dadan Hindayana dicopot dari kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) beredar, timeline langsung berguncang seperti kasur kos-kosan yang dipakai lompat ramai-ramai. Banyak yang bersorak. Banyak yang mengira babak baru akan dimulai. Banyak pula yang sudah siap menyalakan petasan imajiner.
Kemudian keluar nama penggantinya, Nanik S. Deyang.
Mendadak suasana berubah. Netizen yang tadinya tersenyum lebar langsung mengernyit. Ada yang berkomentar, “Ah sami mawon.” Ada yang bilang, “Lho, ini malah lebih tak nyambung.” Ada pula yang bertanya sambil memandang langit, “Jurnalis ngurus gizi? Apa berikutnya ahli tambal ban jadi Menteri Kelautan?”
Begitulah Indonesia. Negeri yang kadang alur ceritanya membuat penulis sinetron tepuk tangan sambil berkata, “Wah, saya kalah kreatif.”
Mari berkenalan dengan Nanik Sudaryati Deyang, perempuan kelahiran Madiun, 3 Januari 1968. Anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Sarwo Deyang, pensiunan tentara yang ikut mendirikan Kodam Brawijaya.
Pendidikan beliau sebenarnya tidak main-main. Sarjana Biologi dari UNSOED Purwokerto dan Magister Kehutanan dari UGM Jogjakarta.
Namun kariernya bukan di laboratorium gizi, bukan pula di dapur pengolahan makanan sehat. Beliau lebih dikenal sebagai wartawati Tabloid Bangkit milik Kompas Gramedia, kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Femme, Direktur Utama Tabloid Info Kecantikan, hingga komisaris di sejumlah media.
Singkatnya, kalau ada lomba membuat berita, mungkin beliau jago. Tapi kalau lomba menghitung kadar protein ikan teri, publik masih mencari referensinya.
Nama Nanik mulai benar-benar dikenal pada 2018 dalam kasus hoaks Ratna Sarumpaet. Saat itu ia diketahui menyebarkan foto Ratna di Facebook, dengan menyebarkan kronologi penganiayaan palsu melalui WA, dan bahkan membawa Ratna bertemu Prabowo Subianto.
Ketika kasus itu terbukti sebagai kebohongan nasional, Nanik diperiksa polisi dua kali dan menjadi saksi dalam persidangan.
Kalau ini film, penonton pasti mengira karier politiknya tamat. Ternyata tidak.
Justru pada Pilpres 2019, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.
Di Indonesia, kadang jalan menuju jabatan tak lurus seperti penggaris, melainkan seperti mi instan yang baru diseduh.
Kariernya terus melesat. Setelah Prabowo menjadi presiden, Nanik dipercaya menjadi Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan periode 2024-2029.
Kemudian datang September 2025. Ia dilantik sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Belum lama duduk di kursi itu, program Makan Bergizi Gratis diterjang badai keracunan massal. Data per 21 September 2025 mencatat 6.452 anak menjadi korban.
Dalam konferensi pers 26 September 2025, Nanik tampil menangis. Air matanya mengalir, suaranya bergetar. Ia meminta maaf atas nama BGN dan seluruh SPPG di Indonesia.
Kalimatnya viral ke mana-mana.
Sebagian rakyat terharu. Sebagian lagi merasa bingung. Sebagian lainnya sibuk menghitung apakah jumlah air mata yang menetes itu berbanding lurus dengan kualitas pengawasan makanan.
Namun, pada saat yang sama, ia juga aktif menyerang para pengkritik program MBG di media sosial. Jadilah drama nasional paket lengkap. Ada tangisan, ada kritik, ada balasan kritik, ada netizen yang lupa mandi karena mengikuti episode demi episode.
Anehnya, badai tidak menghentikan kapal kariernya. Pada Juni 2025 ia menjadi Komisaris Independen PT Pertamina. Ia juga dipercaya sebagai Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi MBG.
Akhirnya, pada 2 Juni 2026, Prabowo resmi mengangkatnya menjadi Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana.
Kini Nanik memimpin lembaga yang mengurus makanan puluhan juta anak-anak Indonesia.
Di sinilah perdebatan publik meledak seperti petasan tujuh hari tujuh malam. Sebab yang banyak dipertanyakan bukan loyalitasnya, melainkan kompetensinya. Publik sulit menemukan rekam jejak di bidang gizi maupun keamanan pangan. Yang paling jelas terlihat justru loyalitas politiknya sejak 2018 hingga sekarang.
Maka rakyat pun terbelah. Satu kubu berkata, “Yang penting dipercaya Presiden.”
Kubu lain menjawab, “Kalau Harun Masiku dipercaya, jangan langsung disuruh memimpin KPK.”
Begitulah kisah terbaru negeri +62. Dadan turun, Nanik naik, netizen kembali bekerja lembur tanpa dibayar, mengomentari politik nasional dari warung kopi sampai kolom komentar.
Karena di Indonesia, yang paling bergizi kadang bukan makanannya, melainkan perdebatan setelahnya.
*) Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi