Kamis, 21 Mei 2026, pukul : 12:40 WIB
Surabaya
--°C

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Warisan Abadi Umar Kayam

Ditanya, mengapa tidak ada yang menulis dalam bahasa Jawa saja, termasuk Pram. Menurut Prof. Faruk, sastra modern dikenal melalui bahasa Indonesia. Ada mitos yang mengatakan bahwa bahasa daerah tidak bisa masuk ke dalam karya sastra modern. ‘’Itu mitos karena banyak sastra daerah yang menjadi karya sastra yang bagus,’’ kata Prof. Faruk.

Indonesia dibangun oleh para elite. Pada Sumpah Pemuda pada 1928 ada Jong Java, Jong Ambon, dan lain-lain. Mereka semua orang-orang elite dan terdidik. Modernitas tercermin melalui bahasa Belanda atau bahasa Melayu. ‘’Orang-orang elite yang terdidik itu tidak mudah menjadi Jawa kembali. Sehingga kemudian untuk kembali ke bahasa Jawa agak susah’’.

BACA JUGA: Napak Tilas Kehidupan Arung Palakka: Harga Diri dan Kekuasaan di Sulawesi Selatan

Soal stratifikasi bahasa yang njelimet dengan bahasa ngoko atau kromo tingkat tinggi menjadi penghalang yang serius karena para penulis takut salah. Itulah yang membuat susah menulis dalam bahasa daerah termasuk bahasa Jawa oleh seorang Pram maupun Kayam.

Cerpen kunang-kunang memang mengangkat nama Kayam sebagai sastrawan. Karya Kayam yang juga fenomenal adalah Sri Sumarah dan Bawuk. Ini cerpen tapi panjang, cerita mengenai masa PKI di Jawa, ditulis dalam awal-awal Orde Baru, tetapi ada flashback ke belakang. Dua tokoh ini terlibat dalam pergulatan masa-masa PKI. Bawuk lebih berani sementara Sri Sumarah lebih santun. Bawuk dari keluarga priyayi dan Sri Sumarah dari keluarga yang lebih rendah. Keduanya punya cara berbeda dalam menghadapi gejolak masa PKI.

Secara intelektual Sri Sumarah juga lebih matang dalam perspektif Umar Kayam. Kisah yang sebenarnya berat di tangan Kayam menjadi ringan. Cara penulisan yang rileks dan dialogis itu sangat berpengaruh di Indonesia. Bakdi Sumanto terpengaruh oleh Kayam meskipun gayanya lebih absurd. Kayam juga memengaruhi penulis yang lebih muda seperti Linus Suryadi dengan karya kontroversial ‘’Pengakuan Pariyem’’.

Kayam bukan pendukung Bung Karno, tapi kata Zsa Zsa Yushar Yahya Kayam sangat handsome karena itu pantas di film ‘’G 30 S’’ berperan sebagai Bung Karno. Dia diminta oleh Sutradara Arifin C. Noer untuk menjadi Bung Karno, dia hanya rileks dan apa yang dia lakukan sangat rileks dan santai tanpa pretensi politik.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.