Jumat, 12 Juni 2026, pukul : 11:21 WIB
Surabaya
--°C

NU METAL, Bukan Pengurus

Bagi pengurus NU yang pandai memanfaatkan jabatan, maka bisa saja hal ini dipergunakan untuk dapat proyek, mulai dari pihak swasta, atau proyek dari pemerintah, bahkan proyek dari asing dan aseng.

Oleh: Luthfi Bashori

KEMPALAN: NU METAL adalah istilah plesetan dari kalimat berbahasa Jawa yaitu NU MElok TAhliL (NU bagian ikut Tahlilan). Saat ini, saya termasuk salah satu dari jutaan anggota NU METAL.

NU METAL itu jumlahnya bisa-bisa banyaknya 70x lipat dari jumlah pengurus resmi di dalam keorganisasian ke-NU-an sekalipun jika diakumulasi dari jumlah pengurus Pusat hingga pengurus Daerah.

Penyandang status NU METAL itu sendiri terdiri dari jutaan para ulama pengasuh pesantren, majelis ta’lim, ahli bahtsul masail, juru dakwah, cendekiawan, santri, jama’ah majelis, kalangan profesional, konglomerat, bahkan pejabat negara, PNS, advokat, dokter, bos-bos pebisnis, pedagang swalayan, pedagang pasar, pedagang asongan, petani, nelayan, buruh kerja, dosen, mahasiswa, pelajar, dan hampir di seluruh jajaran status sosial di tengah masyarakat itu ada saja orang NU METAL-nya.

BACA JUGA  Laka Kereta: Rel Pertama, Palang Terakhir

Mayoritas NU METAL itu adalah orang Islam yang baik-baik dan shalih, walapun tentu ada juga yang tidak baik dan berperilaku buruk. Mereka ini tiada lain adalah kalangan warga NU Kultural.

Sebagian mereka itu ada yang sangat peduli terhadap kemaslahatan organisasi NU, sekalipun ada pula yang bersikap cuek-cuek saja, yang penting masih bisa ikut Tahlilan.

Tentu berbeda dengan kondisi para Pengurus NU, mulai dari Pusat hingga Daerah, yang mana sebagian dari mereka murni niat berkhidmat lillahi ta’ala ke organisasi demi kemashlahat Jam’iyyah NU, Alhamdulillah saya punya pengalaman selama dua periode bersama kalangan ini, dan tentunya jumlah kalangan ini cukup banyak.

Tapi sebagian lagi ada juga pengurus yang syarat dengan kepentingan terhadap organisasi. Ada pengurus yang dengan sengaja memanfaatkan organisasi untuk kepentingan pribadi dan keluarganya dalam banyak hal.

Namun yang paling ngeri dan miris itu, ada oknum pengurus NU yang tujuannya sengaja berebut jabatan, bahkan terkadang demi ambisi meraih sebuah jabatan yang diinginkan, mereka berani melakukan Risywah (sogok-menyogok) Haram, yang dilakukan di antara para pengurus golongan ini, mulai urusan dukung mendukung, hingga urusan “Wani Piro?” (berani bayar berapa?), terutama saat waktunya pemilihan kepengurusan.

BACA JUGA  Mahasiswa Ultimatum Presiden

Pada saat ini pula bermunculan bohir-bohir berpengaruh yang ikut bermain dan mereka berebut kepentingan serta pengaruh terhadap calon pemimpin NU.

Bagi pengurus NU yang pandai memanfaatkan jabatan, maka bisa saja hal ini dipergunakan untuk dapat proyek, mulai dari pihak swasta, atau proyek dari pemerintah, bahkan proyek dari asing dan aseng.

Terkadang, tanda tangan seorang pengurus NU “yang kreatif”, bisa berubah jadi proyek Tambang, Kuota Haji, Komisaris BUMN, jabatan kementerian, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan, sekalipun harus menabrak aturan AD/ART dari organisasi, bahkan melanggar aturan Syariat Islam.

Wallahu a’lam.

*) Luthfi Bashori, Pengasuh Pesantren Ilmu Al-Quran dan Pesantren Ribath Almurtadla, Singosari – Malang, Mantan Pengurus NU Dua Periode

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.