Pramoedya bercerita mengenai terbentuknya bangsa Indonesia. Tapi Pram tidak pernah membangun suasana, Umar Kayam jago membuat dan membangun suasana. Hal itu terlihat dari semua cerpen maupun novel Kayam seperti Sri Sumarah Bawuk, Para Priyayi, Jalan Menikung, dan beberapa karya lain.
Ben Anderson melihat media sebagai ‘’Print capitalism’’ yang berperan penting dalam proses pembentukan bagsa. Di sinilah karya Umar Kayam menunjukkan relevansinya. Dalam karya-karyanya Kayam memakai bahasa jurnalistik yang singkat dan padat sangat efisien.
Para penikmat sastra mengaitkan Kayam dengan Hemingway yang mempergunakan bahasa jurnalistik yang pendek dan berisi. Peran media dalam pembentukan bangsa terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Dalam hal inilah karya-karya Kayam punya kontribusi terhadap pembentukan bangsa melalui karya-karya yang punya unsur jurnalisme yang kental.
BACA JUGA: Resensi Buku: Sirikit, The Guardian Angel
Menurut Prof. Faruk, Pramoedya mempunyai kekuatan cerita, tapi Kayam lebih kaya dalam penggambaran suasana yang terlihat dalam dialog budaya yang menimbulkan perspektif khas dalam melihat budaya asing.
Dalam karya Sri Sumarah Bawuk terlihat bagaimana Kayam menggambarkan suasana dari sudut orang-orang biasa. Itulah yang oleh Prof. Faruk disebut sebagai realisme kultutral yang hanya bisa dilakukan oleh seorang antroplog. ‘’Pak Kayam ialah perintis dalam hal ini, ia bercerita dengan nalar Jawa. Kalau dari nalar barat tidak logis, kalau dilihat apa yang dilakukan oleh Sri Sumarah itu tidak nalar, tapi dari Jawa dia realistis’’.
Kayam mengalami perubahan zaman dan perubahan angina politik di Indonesia. Dari anti barat ketika zaman Bung Karno beralih menjadi lebih mendekat ke Barat. Isu jawanisasi muncul di era Pak Harto. Ben Anderson juga bicara mengenai jawanisasi, tetapi Kayam tidak berbicara mengenai jawanisasi tetapi bicara mengenai etnisitas.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi