Selasa, 30 Juni 2026, pukul : 10:11 WIB
Surabaya
--°C

Laut Itu Dalam dan Gelap, Dokter Hisnindarsyah Menerangi dengan Literasi

KEMPALAN : Konon, lingkup kesenian membentuk manusia dengan ciri khas: perasaannya halus, mudah berempati, tulus, dan sejumlah sifat lain yang boleh jadi lebih banyak dikendalikan oleh otak kanan.

Saya pertama kali mengenal sosok ini sekitar 25-30 tahun lalu, saat masih menjadi wartawan lepas.

Di komunitas seni Bengkel Muda Surabaya (BMS) yang bermarkas di kompleks Balai Pemuda, Surabaya, saya sering menjumpainya. Kedatangan saya ke sana selain untuk liputan, juga untuk menyapa kawan-kawan lama yang biasa nongkrong sambil berdiskusi informal tentang kehidupan sehari-hari dan dunia kreativitas seni.

Seorang perwira muda berseragam biru muda di bagian atas dan biru tua di bagian bawah, dengan pangkat di pundak, jika tidak salah Letnan Satu atau Kapten, beberapa kali saya temui di sana. Seperti tipikal militer pada umumnya yang berpostur tenang, kokoh, dan pendiam, sosok ini juga tenang dan kokoh. Namun, ia tidak pendiam. Ia cukup talkative dan murah senyum.

Kadang ia datang ke markas seniman itu sendirian. Sesekali ia didampingi seorang gadis cantik yang saya duga istri atau kekasihnya.

Dibanding kedekatan aktivis BMS seperti Amir Kiah, Heroe Budiarto, dan sejumlah nama lain dengan dirinya, kedekatan saya dengannya tidak seakrab itu. Jika bertemu di markas BMS, kami sebatas saling melempar senyum, lalu mengangguk sebagai tanda saling menghormati, atau sekadar say hello. Tak ada percakapan lanjutan. Mungkin karena kebiasaan saya saat itu yang tidak pernah berlama-lama di BMS. Bisa jadi karena saya harus segera menemui narasumber atau mengurus keperluan lain terkait EO pameran lukisan yang saat itu saya geluti.

Sekitar 6-7 tahun lalu, kami dipertemukan kembali di Facebook. Dialah yang pertama kali menyapa, dengan nama akun Hisnindarsyah Dokter.

Saya pun mencoba merangkai kepingan memori. Jika 25-30 tahun lalu ia berseragam biru muda dan biru tua, maka 6-7 tahun lalu ia berseragam loreng dengan tiga melati di pundak. “Wow, sekarang sudah Kolonel,” batin saya.

BACA JUGA  Tekan Konsumsi BBM, Pemkot Surabaya Beralih ke Kendaraan Listrik

Saya lantas mengingat-ingat: saat sering bertemu di markas seniman itu, ia memang sudah menyandang gelar dokter, namun pangkatnya masih Letnan Satu atau Kapten. Yang juga berbeda, dulu posturnya tinggi semampai, kini tampak lebih kokoh dan berotot. Namun, senyum ramahnya tetap sama: meneduhkan.

Dari say hello di Facebook, obrolan kami berlanjut secara daring dan mengerucut ke dunia literasi. Dari sana saya menyimpulkan: sosok ekstrover ini adalah penulis esai kesehatan yang jernih. Ia juga pembelajar yang luar biasa ulet, bahkan lintas sektoral. Terbukti, gelar akademiknya tidak hanya dokter, melainkan juga doktor bidang manajemen dan sejumlah gelar lain, termasuk dari kolegium profesi. Jika ditulis lengkap, kira-kira begini, semoga saya tidak salah: Dr. dr. Hisnindarsyah, S.E., M.Kes., M.H., Sp.KL., Subsp.KT(K), S.F.E.M.

Esai-esainya yang dimuat di Jawa Pos, Suara Merdeka, koran-koran terkemuka, serta sejumlah portal berita, sering ia pampang di beranda Facebook. Cara ia memaparkan masalah sekaligus strategi solusinya begitu jernih dan analitis.

Semula saya mengira bukunya hanya Perang Melawan Corona. Ternyata lebih banyak lagi. Artinya, ada beberapa yang tidak ia informasikan di Facebook, atau mungkin saya yang terlewat membaca, seperti: Aku dan Setengah Kematianku, Peranan Terapi Oksigen Hiperbarik, Pendidikan Karakter Berbasis Ketahanan Nasional, Bunga Rampai Budaya Maritim, dan Manajemen Rumah Sakit.

Enam hari lalu, dr. Hisnindarsyah memposting esainya di beranda Facebook: “Sudahkah Pendidikan Dokter Memanusiakan Dokter?”, yang dimuat di halaman Opini Jawa Pos 24 Juni lalu. “Begitu menggetarkan,” monolog saya seusai membaca esai itu. Kurang lebih, narasinya menggambarkan kegelisahan seorang dokter militer senior yang menggugat sistem pendidikan kedokteran yang terlalu fokus mencetak “otak kiri”.

Baginya, lulus dari Fakultas Kedokteran bukan garis finis, melainkan “titik awal maraton” menuju manusia seutuhnya.

BACA JUGA  Polsek Balongbendo Dukung Swasembada Pangan, Optimalkan Perkembangan Tanaman Jagung Hibrida

Ini bukan sekadar esai, melainkan manifesto jenius. Ia membongkar mitos: dokter dengan IPK 4.0 yang jenius tapi gagal membangun koneksi, versus dokter biasa yang justru membuat pasien merasa didengar. Muatannya adalah dikotomi retoris yang menohok: kita butuh diagnosis medis, tetapi masyarakat lebih butuh kehadiran dan sentuhan kemanusiaan.

Solusinya pun anti-mainstream: bukan menambah SKS, melainkan mengirim calon dokter untuk memahami jiwa Pramuka, mencintai lingkungan hidup, dan berolahraga beregu.

Baginya, karakter, empati, dan ketahanan mental justru ditempa di alam terbuka, bukan semata di ruang kuliah.

Cermati kalimat penutupnya: “Bukan cara masuk FK yang penting, tapi bagaimana cara mendidik manusia seutuhnya.” Sebab, jika sudah menjadi manusia utuh, apa pun profesinya akan membawa keberkahan.

Esai ini menjadi bukti penting: TNI AL memiliki intelektual yang tidak hanya ahli medis dan militer, tetapi juga piawai menulis dan memikirkan peradaban. Hisnindarsyah mengisi ruang kosong itu dengan humanisme. Lewat media arus utama, ia menegaskan bahwa ukuran sukses seorang dokter bukan IPK, melainkan kemanfaatan dan ketulusan yang ia bawa ke dunia.

Jika di TNI AD ada sosok dengan kemampuan menulis ekstra seperti Nugroho Notosusanto, Hario Ketjik, dan Trisnoyuwono; di TNI AU tercatat nama Atmadji Sumarkidjo dan Firman Wirayuda; di Polri terukir nama Anton Tabah, Ibrahim Sattah, dan Ismoe Rianto; maka di TNI AL mencuat nama dr. Hisnindarsyah. Ada juga Suryo Wiranto, A.B. Lapian, dan sejumlah sosok lain.

Laut itu dalam dan gelap. Namun, Kolonel dr. Hisnindarsyah, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin dan Fakultas Kedokteran Unair, justru meneranginya dengan literasi.

Dokter hiperbarik TNI AL yang lahir pada 1971 dan biasa menyembuhkan penyelam dari “penyakit kedalaman” ini, kini mengobati dahaga publik lewat esai-esainya di media massa dan buku-bukunya.(Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.