Minggu, 19 April 2026, pukul : 20:14 WIB
Surabaya
--°C

Resensi Buku: Sirikit, The Guardian Angel

Judul Buku: Teori dan Filosofi Jurnalistik dalam Praktik
Penulis: Dr. Hernani Sirikit, MA
Penerbit: Graniti
Jumlah Halaman: 128 halaman
Harga: Rp. 65.000 (plus ongkir)
Peresensi: Dhimam Abror Djuraid

KEMPALAN: Membaca kumpulan tulisan Sirikit dalam buku ini serasa mengikuti kuliah jurnalistik semester pertama. Kita dibawa untuk mengulang dan merefresh pemamahan dasar mengenai prinsip-prinsip jurnalistik, seperti penulisan 5W plus 1 H pun diulas oleh Sirikit, kriteria nara sumber, dan news value atau nilai berita.

Bagi kebanyakan praktisi jurnalistik teori-teori itu sudah seperti ‘’sego-jangan’’, nasi dan sayuran, yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Teori itu sudah diamalkan sehari-hari dan menjadi sesuatu yang ‘’taken for granted’’, sesuatu yang sudah dianggap biasa, tanpa perlu dipertantanyakan lagi filosofinya.

Justru hal-hal yang ‘’taken for granted’’ itulah yang selalu digugat dan diingatkan oleh Sirikit. Bagi kebanyakan jurnalis senior, terutama jurnalis-jurnalis old-styled alias jadul, hal itu terasa sebagai sesuatu yang remeh-temeh. Tetapi, bagi Sirikit, prinsip-prinsip dasar itu menjadi semacam ‘’tauhid’’ yang harus dipegang teguh, tidak boleh goyah sedikit pun.

Hal-hal yang taken for granted itu justru sekarang banyak dilupakan oleh jurnalis-jurnalis muda yang menjadi aktivis media digital. Prinsip-prinsip tauhid dasar itu banyak dilupakan, ditinggalkan, atau malah sama sekali belum pernah dipelajari. Banyak pekerja media masa kini yang menjadi jurnalis instan tanpa dibekali pengetahuan jurnalisme yang cukup.

Para jurnalis masa kini itu ibarat (maaf) orang Sunda yang dilepas ke kebun hanya dengan berbekal sambal. Yang terjadi kemudian semua dianggap sebagai lalapan dan dimakan mentah-mentah tanpa perlu dimasak. Orang Sunda bisa hidup sehat dengan makan lalapan, tapi jurnalis yang menyajikan makanan serba mentah, bisa membuat pembaca mules, sakit perut.

Sepanjang karir dan hidupnya, Sirikit tidak pernah lelah dan bosan mengingatkan para praktisi jurnalistik untuk istiqomah, konsisten, memegang tauhid dan rukun iman jurnalistik. Ia teguh memegang prinsip dan tidak pernah takut berdebat untuk mempertahankan prinsipnya. Itulah, mungkin, yang membuat Sirikit kadang terlihat naif.

Tetapi justru disitulah kekuatan Sirikit. Ia menjadi praktisi jurnalistik puluhan tahun, sampai membawanya ke posisi redaksional tertinggi sebagai pemimpin redaksi di koran legendaris Surabaya Post. Ia kemudian menghabiskan waktunya belasan tahun untuk menjadi pengajar jurnalistik di perguruan tinggi.

Jiwa aktivisme yang kental membawanya uintuk mendirikan lembaga pengawas media atau media watch pertama di Jawa Timur. Setiap pekan ia on air di Radio Suara Surabaya membawakan program ‘’Media Watch’’. Ia mengritik ketika ada kesalahan yang dilakukan media-media besar dan kecil. Ia juga tidak segan memuji ketika mendapatkan sajian media yang berkualitas.

Sirikit menjadi manusia yang unik karena bakatnya yang komplet. Tidak banyak orang yang punya bakat selengkap Sirikit. Ia menjadi jurnalis, menjadi aktivis media watch, menjadi pengajar, dan menjadi penulis yang produktif.

Masa mudanya ia habiskan untuk menekuni dunia kesenian melalui keterlibatannya dalam teater Bengkel Muda Surabaya, salah satu grup teater legendaris di Jawa Timur. Bakatnya sebagai penulis ia asah secara formal di jurusan bahasa IKIP Surabaya.

Sirikit penulis yang sangat produktif. Tidak ada hari tanpa menulis. Bahkan, ketika beberapa tahun terakhir ini ia berjuang melawan kanker payudara yang ganas, ia masih terus menulis. Pengalamannya melawan kanker menghasilkan sebuah buku memoar yang menyentuh ‘’Me and My Cancer’’ (2020).

Suasana pandemi yang membosankan–karena semua orang harus dikerangkeng dua tahun di dalam rumah–justru membuat Sirikit makin produktif. Ia menulis biografi masa kecilnya yang penuh warna di Surabaya. Maka lahirlah buku ‘’Memori Jalan Kemuning’’. Ia juga mengumpulkan cerpen-cerpennya menjadi antologi ‘’Laki-Laki dari Masa Lalu’’ (2021).

Sudah banyak kumpulan tulisan jurnalistik Sirikit yang dikumpulkan menjadi buku. Selalu ada benang biru yang terlihat jelas dalam karya-karya Sirikit itu. Ia selalu konsisten menjadi penjaga nilai-nilai agung jurnalisme, grand value of journalism.

Praktik jurnalistik mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Prinsip-prinisp jurnalistik dasar pun harus melakukan penyesuaian dengan perkembangan itu. Ketika media cetak pertama terbit di Amerika pada abad ke-18 formatnya hanya satu lembar kertas, yang berisi berita-berita semacam pengumuman singkat.

Ketika Benjamin Henry Day menerbitkan koran The Sun pada 1889 formatnya sudah berkembang menjadi cikal bakal koran sebagaimana yang kita lihat sekarang. Seiring dengan semakin banyaknya pembaca, para pioneer jurnalistik itu kemudian menciptakan cara-cara supaya berita yang termuat semakin banyak dan bisa dibaca dengan cepat.

Karena keterbatasan space maka para jurnalis kemudian memperkenalkan apa yang sekarang kita kenal sebagai ‘’ekonomi bahasa’’. Dalam menulis berita tidak perlu bertele-tele supaya inti berita bisa segera diketahui oleh publik. Maka kemudian ditemukanlah teori ‘’piramida terbalik’’ untuk memudahkan pembaca mengetahui inti berita yang paling menarik.

Dengan konsep piramida terbalik itu berita yang paling penting ditempatkan pada posisi paling atas, dan semakin ke bawah signifikansinya semakin mengecil. Lalu kemudian ditemukanlah teori menulis ‘’lead’’ atau teras berita. Karena keterbatasan halaman maka lead harus ringkas, padat, dan jelas, bila perlu jangan lebih dari 15 atau 20 kata. Ekonomi bahasa diterapkan secara ketat penuh disiplin.

Dari situlah kemudian muncul formula 5 W plus 1 H. teras berita harus berisi what, who, when, where, why, dan how. Semua isi berita diringkas dalam teras berita yang diharapkan bisa merangsang minat pembaca untuk meneruskan berita sampai tuntas.

Seiring perkembangan zaman teori menulis teras berita semakin bervariasi. Ada lead ringkasan, ada lead yang bercerita, ada juga lead deskriptif, lead yang berisi kutipan, bisa juga lead yang bertanya, dan malah ada pula yang membuat lead dengan teknik ‘’menggoda’’.

Meski ada bermacam jenis dan variasi, tetapi ingredient utama harus tetap berisi 5 W dan 1 H. Para ahli dan praktisi jurnalistik berdebat mengenai hal itu. Ada yang tetap setia dengan ‘’old style’’ dan ada pula yang melakukan inovasi dan variasi.

Dalam perkembangannya, koran kemudian bersaing dengan radio dan televisi yang bisa menyajikan berita saat itu juga, breaking news, dan dilengkapi dengan gambar yang real time. Ketika keesokan harinya koran menyajikan materi berita yang sama dengan sajian 5 W dan 1 H, maka berita koran akan terasa basi.

Para jurnalis kemudian menemukan perpaduan penulisan antara sastra dan jurnalistik. Lahirlah apa yang dikenal sebagai literary journalism atau jurnalisme sastrawi. Jurnalisme sastrawi lebih tepat diterapkan dalam laporan panjang dalam bentuk features atau investigasi. Meski demikian, ada jurnalis yang mengadopsi unsur jurnalisme sastrawi dalam penulisan berita langsung, straight news, sebagai cara untuk menghindari kebasian.

Gaya penulisan jurnalisme sastrawi lebih mirip dengan novel, lengkap dengan plot dan deskripsi tokoh, protagonis maupun antagonis. Yang membedakan jurnalisme sastrawi dan novel adalah disiplin verifikasi yang tetap dijaga dengan ketat dalam penulisan jurnalisme sastrawi.

Dialog yang ada dalam narasi merupakan kutipan langsung dari narasumber. Maka lahirlah karya-karya besar jurnalisme sastrawi legendaris seperi ‘’In a Cold Blood’’ yang ditulis oleh wartawan-sastrawan Truman Capote (1966). Para penggemar bioskop tentu sudah menyaksikan film ‘’Black Hawk Down’’ yang merupakan karya jurnalisme sastrawi wartawan Mark Boden yang ikut ‘’embedded’’ dalam misi tentara Amerika ke Somalia pada 1999.

Jurnalisme sastrawi memengaruhi jurnalisme di Indonesia juga. Majalah Tempo menjadi trend setter jurnalisme sastrawi. Media-media harian pun terpengaruh oleh gaya penulisan sastrawi ala Tempo. Maka cara penulisan teras berita pun mulai banyak yang terpengaruh oleh gaya itu.

Bagi Sirikit, penulisan lead harus tetap disiplin dengan 5 W dan 1 H. Sirikit sendiri adalah seorang novelis, tetapi dalam hal penulisan jurnalistik, dia tetap teguh dengan prinsip-prinisip dasar.

Itulah yang terbaca dalam kumpulan tulisan Sirikit dalam buku ini. Sirikit adalah penjaga dan pelindung ‘’old-grand value’’ nilai-nilai lama yang agung dalam jurnalisme. Ibarat satpol PP Sirikit ketat dalam menjaga ketertiban. Ibarat guardian angel Sirikit menjadi penyelamat nilai-nilai agung, yang oleh banyak orang mungkin dianggap ketinggalan zaman.

Buku ini wajib dibaca oleh para praktisi dan pengajar jurnalistik, maupun oleh siapapun yang tertarik memahami praktik jurnalistik. Sirikit membahas mengenai teknik menulis, teknik wawancara, dan cara mencari nara sumber. Berbagai teori filosofi jurnalistik juga dikupas seperti ‘’fire wall theory’’ teori tembok api yang memisahkan redaksi dengan bisnis.

Sirikit juga mengupas adagium lama ‘’good news is news’’ dan ‘’if it bleeds it leads’’ yang masih tetap menjadi perdebatan menarik sampai sekarang. Isu mengenai ‘’embedded journalism’’ atau ‘’wartawan sepeniduran’’ juga dibahas dengan menarik dalam buku ini.

Di era media digital yang serba tergesa-gesa ini para jurnalis menulis dengan cepat dan sering abai terhadap prinsip-prinsip dasar jurnalisme. Era digital membuat para jurnalis tergoda untuk selalu mengejar click-byte dan mengikuti gerakan algoritma. Maka lahirlah berita-berita yang tidak sesuai dengan standar jurnalistik.

Buku ini akan mengingatkan kita bahwa platform media boleh berubah, tetapi nilai-nilai jurnalisme tetap abadi. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.