Rabu, 17 Juni 2026, pukul : 20:56 WIB
Surabaya
--°C

Menjaga Marwah Jam’iyah di Tengah Pusaran Kontestasi Kekuasaan

Oleh : Slamet Sugianto – Pemerhati NU

Identitas Buku

Judul : Akar Konflik dalam Tubuh PBNU
Penulis : H. Ishaq Masykuri
Penerbit : Global Press
Tahun Terbit : 2026
Tebal : 122 Halaman

Tentang Penulis

Nama H. Ishaq Masykuri bukanlah sosok yang asing di kalangan nahdliyin. Ia dikenal sebagai penulis, aktivis Nahdlatul Ulama, dan pemerhati persoalan keumatan yang konsisten menyuarakan pentingnya menjaga khittah, marwah organisasi, serta tradisi keilmuan pesantren. Berbagai pandangannya banyak menyoroti isu kepemimpinan, tata kelola organisasi, pendidikan Islam, dan peran ulama dalam menjawab tantangan zaman.

Secara genealogis, H. Ishaq Masykuri memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan Nahdlatul Ulama. Ia merupakan cucu dari KH. Baidlowi Lasem, ulama kharismatik dari Lasem, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai salah satu ulama generasi awal dan bagian dari para muassis Nahdlatul Ulama. Dari warisan keilmuan dan perjuangan para pendiri NU itulah lahir perspektif kritis yang mewarnai keseluruhan isi buku ini. Karena itu, Akar Konflik dalam Tubuh PBNU bukan sekadar catatan seorang pengamat, melainkan refleksi seorang nahdliyin yang merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap masa depan organisasi yang diwariskan para ulama pendiri bangsa.

Di tengah derasnya arus politik nasional dan meningkatnya keterlibatan organisasi kemasyarakatan dalam berbagai ruang publik, Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan jaringan jutaan warga, ribuan pesantren, dan pengaruh sosial yang luas, setiap dinamika yang terjadi di tubuh NU hampir selalu menjadi perhatian publik. Dalam konteks itulah buku Akar Konflik dalam Tubuh PBNU karya H. Ishaq Masykuri menemukan relevansinya.

Buku ini hadir bukan sekadar sebagai dokumentasi peristiwa, melainkan sebagai ikhtiar intelektual untuk membaca akar persoalan yang melatarbelakangi berbagai konflik yang berkembang di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Melalui serangkaian tulisan yang disusun secara sistematis, penulis berusaha menjelaskan bahwa konflik yang muncul bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan gejala dari persoalan yang lebih mendasar terkait kepemimpinan, tata kelola organisasi, budaya politik, dan komitmen terhadap nilai-nilai dasar jam’iyah.

Sejak halaman-halaman awal, pembaca diajak memahami bahwa NU tidak lahir sebagai organisasi politik kekuasaan. NU didirikan oleh para ulama dengan semangat menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, menguatkan pendidikan umat, serta menjadi benteng moral masyarakat. Karena itu, ketika konflik internal berkembang hingga menjadi konsumsi publik, penulis melihatnya sebagai alarm yang perlu disikapi secara serius. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut siapa yang memimpin organisasi, tetapi juga menyangkut arah perjalanan NU pada abad keduanya.

BACA JUGA  Memahami Ketetapan Allah dan Tanggung Jawab Manusia

Secara substansi, buku ini memuat berbagai pembahasan mengenai dinamika internal PBNU yang mengemuka menjelang Muktamar NU ke-35. Penulis mengulas beragam isu, mulai dari polemik pemecatan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, Musyawarah Kubro Liboyo, relasi antara Rais ‘Aam dan Tanfidziyah, perdebatan mengenai islah, hingga munculnya berbagai manuver politik yang dianggap berpotensi memengaruhi proses regenerasi kepemimpinan NU. Meski tema-temanya beragam, seluruh tulisan memiliki satu benang merah yang kuat, yakni keprihatinan terhadap semakin menguatnya orientasi kekuasaan dalam tubuh organisasi.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberanian penulis mengangkat isu yang selama ini sering dibicarakan secara tertutup di kalangan internal organisasi. Dengan bahasa yang lugas dan argumentasi yang tegas, Ishaq Masykuri mengajak pembaca melihat konflik bukan semata sebagai pertentangan antarfigur, melainkan sebagai konsekuensi dari melemahnya budaya organisasi yang selama ini menjadi fondasi NU. Perspektif tersebut menjadikan buku ini lebih dari sekadar kumpulan kritik terhadap elite organisasi. Ia berubah menjadi refleksi tentang bagaimana sebuah organisasi besar menghadapi godaan kekuasaan dan menjaga integritas kelembagaannya.

Bagian yang paling menonjol dalam buku ini adalah pembahasan mengenai praktik riswah atau politik transaksional dalam proses pemilihan kepemimpinan organisasi. Penulis berupaya menunjukkan bahwa persoalan mendasar yang dihadapi NU bukan hanya konflik antar-kelompok, melainkan potensi bergesernya standar moral dalam proses pengambilan keputusan. Dengan merujuk pada Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab fiqih siyasah, serta pandangan para ulama klasik, penulis menjelaskan bahwa kerusakan dalam proses pemilihan pemimpin pada akhirnya akan berdampak pada melemahnya legitimasi organisasi secara keseluruhan.

Menariknya, buku ini tidak berhenti pada kritik. Penulis juga berusaha menawarkan jalan keluar melalui penguatan mekanisme organisasi, penghormatan terhadap konstitusi jam’iyah, dan pengembalian tradisi musyawarah sebagai instrumen utama penyelesaian perbedaan. Dalam pandangannya, NU akan tetap menjadi kekuatan besar selama mampu menjaga keseimbangan antara tradisi keilmuan, kepemimpinan kolektif, dan ketaatan terhadap aturan organisasi. Sebaliknya, jika organisasi terlalu bergantung pada figur atau kepentingan kelompok tertentu, maka potensi konflik akan terus berulang.

Kelebihan lain buku ini adalah kemampuannya menghubungkan persoalan kontemporer dengan tradisi intelektual Islam. Ishaq Masykuri tidak hanya berbicara mengenai peristiwa aktual, tetapi juga mengajak pembaca menelusuri pandangan para ulama klasik mengenai kepemimpinan, amanah, persatuan umat, dan bahaya perebutan kekuasaan. Kutipan dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Imam Al-Ghazali, Imam Al-Mawardi, hingga Ibnu Khaldun memperkaya argumentasi dan menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi NU hari ini sesungguhnya memiliki dimensi historis yang panjang.

BACA JUGA  Khofifah Buka Jambore Perhutanan Sosial di Madiun, Dorong KUPS Naik Kelas

Namun demikian, buku ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Karena ditulis di tengah konflik yang masih berlangsung, sebagian argumentasi tidak sepenuhnya lepas dari perspektif subjektif penulis. Dalam beberapa bagian, pembaca dapat merasakan keberpihakan tertentu terhadap kelompok atau pandangan tertentu. Ruang bagi argumentasi pihak yang berbeda tidak selalu memperoleh porsi yang seimbang. Dari sudut pandang akademik, hal ini tentu dapat menjadi bahan kritik tersendiri.

Akan tetapi, justru di situlah letak nilai penting buku ini. Sebagai karya yang lahir dari dalam lingkungan NU, buku ini memberikan gambaran autentik mengenai kegelisahan sebagian warga nahdliyin terhadap arah organisasi mereka. Ia menjadi dokumen sejarah yang merekam bagaimana konflik dipahami, ditafsirkan, dan diperdebatkan oleh para pelaku maupun saksi yang berada di dalamnya. Dalam kajian sejarah organisasi, sumber-sumber semacam ini memiliki nilai yang tidak kecil.

Lebih jauh lagi, buku ini mengingatkan bahwa organisasi besar tidak runtuh karena adanya perbedaan pendapat. Sebaliknya, organisasi justru berkembang melalui dialektika gagasan dan perbedaan pandangan. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan tersebut tidak lagi dikelola melalui mekanisme yang disepakati bersama. Dalam konteks itu, kritik yang disampaikan penulis sesungguhnya dapat dibaca sebagai bentuk kecintaan terhadap organisasi, bukan semata-mata ekspresi ketidakpuasan terhadap kepemimpinan tertentu.

Pada akhirnya, Akar Konflik dalam Tubuh PBNU bukan hanya berbicara tentang PBNU. Buku ini berbicara tentang hubungan antara moralitas dan kekuasaan, antara amanah dan kepentingan, serta antara organisasi dan cita-cita yang melatarbelakangi kelahirannya. Melalui refleksi yang tajam dan argumentasi yang dibangun dari pengalaman langsung, H. Ishaq Masykuri mengajak warga NU untuk kembali menengok nilai-nilai yang diwariskan para muassis: keikhlasan, musyawarah, ukhuwah, dan pengabdian kepada umat.

Menjelang satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama, buku ini hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan terbesar NU bukan terletak pada besarnya jumlah pengikut atau luasnya pengaruh politik, melainkan pada kemampuan menjaga tradisi keilmuan, adab, dan persatuan. Sebab sebagaimana ditunjukkan sejarah, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari konflik, melainkan organisasi yang mampu mengelola konflik dengan bijaksana tanpa kehilangan jati dirinya. []

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.