KEMPALAN: Nama Arung Palakka pasti menggema bagi orang Bugis, terutama yang hidup di Bone. Ia adalah penguasa seluruh Sulawesi Selatan pada abad ke-17 yang bersama VOC berhasil menumbangkan dominasi Goa-Tallo di bawah Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin. Ada yang menganggap Arung Palakka adalah pengkhianat karena bekerja sama dengan penjajah, namun ia lakukan itu bukan agar Belanda menjajah wilayahnya, tapi untuk membebaskan orang Bugis dari penindasan yang dilakukan Makassar.
Walaupun Bugis dan Makassar adalah etnis yang bersebelahan, namun mereka layaknya dua saudara yang sering bertengkar. Menariknya, masalah Arung Palakka tidak bisa sekedar dipandang sebagai perseteruan antar dua etnis itu, melainkan lebih seperti Game of Thrones di Sulawesi, antara Gowa-Tallo dan Bone. Aliansi antar pihak tidak jarang ditemui, ada orang Bugis yang berjuang dipihak Gowa, sebaliknya, adapula orang Makassar yang berkoalisi dengan Bone. Semua masalah supremasi di kawasan tersebut.
Bahkan, kerja sama Belanda dan Arung Palakka tidak serta merta mulus, sang pangeran harus membuktikan loyalitas-nya kepada VOC dengan diturunkan bahu-membahu memadamkan pemberontakan Minangkabau di Sumatera bersama Kapitan Jonker dari Maluku. Semua demi Sirri na Pase orang Bugis dan upaya membebaskan mereka. Pembuktian loyalitas ini menghasilkan buah berupa bantuan kompeni terhadap Arung Palakka yang kembali ke Sulawesi Selatan bersama armada kuat untuk mengalahkan Sultan Hasanuddin.
Leonard menjelaskan secara rinci apa saja yang terjadi selama peperangan sebelum Perjanjian Bungaya dan kejatuhan benteng Somba Opu. Dalam pertempuran itu, VOC menurunkan Corneli Speelman yang menjadi mitra pertempuran Arung Palakka. Speelman sendiri menilai bahwa sang pangeran Bugis beberapa kali bertindak serampangan, namun dia adalah sekutu yang penting karena sangat patuh kepada kompeni dan mendongkrak semangat pasukan Bugis. Speelman selalu berusaha untuk membantu Arung Palakka dengan kepala dingin, namun semangat berkobar pejuang karena penindasan Gowa tidak bisa dipadamkan.
Walaupun berakhir dengan kekalahan Kesultanan Goa dan meninggalnya Sultan Hasanuddin karena sakit, tapi dinamika politik tidak berhenti di sana. Arung Palakka, yang menjadi Arumpone (Raja Bone) mulai menonjolkan dirinya sebagai penguasa atasan di seluruh Sulawesi Selatan. Semua pihak yang ada di kawasan itu diminta untuk tunduk kepadanya, mulai dari Luwu, Wajo, Soppeng, Ajattapareng, bahkan Goa-Tallo sekalipun.
Pengganti Sultan Hasanuddin…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi