Pengganti Sultan Hasanuddin, Karaeng Goa Sultan Mohammad Ali juga tidak suka di bawah kekuasaan Arung Palakka. Masih terjadi pertempuran di antara kedua negara itu, walaupun tidak sedahsyat perlawanan Sultan Hasanuddin. Bahkan, meskipun sudah menandatangani Perjanjian Bungaya, Goa masih mengganggu kedaulatan Arung Palakka dengan memprovokasi sejumlah kerajaan tetangga yang lain. Tidak jarang kawan menjadi lawan maupun sebaliknya, loyalitaspun silih berganti, tergantung pada siapa yang sedang naik daun, atau siapa menipu siapa.
Belum lagi, setiap waktu, pasti ada gesekan karena Goa, walaupun menyerah, namun juga berbahaya di masa damai. Setiap permasalahan yang dihadapi oleh Arung Palakka pasca Perjanjian Bungaya, pasti ada Goa dibaliknya. Hal ini merupakan upaya Goa untuk menjadi kerajaan atasan lagi, atau setidaknya setara dengan Bone. Tidak jarang mendadak penguasa Goa datang ke Fort Rotterdam untuk membicarakan tindakan Arung Palakka yang dianggap semena-mena.
Menariknya, mereka yang beraliansi dengan Arung Palakka ketika bertempur dengan Goa juga tidak jarang terkena nasib malang. Demi mempertahankan kekuasaannya, sang Arumpone harus memastikan bahwa semua penguasa di Sulawesi Selatan tunduk kepadanya. Bagi mereka yang melawan, hanya kematian atau pengasingan yang akan dihadapinya.
Peristiwa itu diperparah dengan silih bergantinya presiden VOC di Sulawesi Selatan, sehingga sang pangeran Bugis senantiasa harus menyesuaikan diri dengan setiap kebijakan baru yang dibawa perwakilan Belanda itu. Tidak jarang perselisihan pendapat terjadi di antara dua pihak itu, walaupun Arung Palakka mendapuk dirinya sebagai pengikut setia VOC, namun keduanya harus melakukan sharing power karena baik Belanda maupun Arung Palakka paham bahwa mereka membutuhkan satu sama lain.
Di sela-sela mengisahkan tentang perjuangan Arung Palakka, penulis juga menguraikan tentang sejumlah adat yang ada di Sulawesi Tenggara. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pembaca memahami istilah atau kejadian tertentu. Bahkan di awal buku, ia menuturkan tentang sejumlah kisah-kisah adat yang ada di kawasan itu beserta kerajaan pertamanya, Kerajaan Luwu.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang enak dan rinci, sehingga pembaca serasa diajak dalam pertarungan politik di Sulawesi Selatan pada abad ke-17 dan mengenal para aktor di dalamnya. Tak ayal lagi, tulisan yang ditorehkan oleh Leonard Andaya pasti enak dibaca, karena memiliki alur kepenulisan yang tidak hanya periodik, tapi tematik.
Berbeda dengan kepenulisan biografi lainnya yang mana berfokus pada tokoh lalu peristiwa (meluas), penjelasan Profesor Sejarah dari University of Hawai’i at Manoa itu menceritakan peristiwa yang nantinya membawa kita kepada sang protagonis (terfokus), mulai dari setiap kejadian yang ada di Sulawesi Selatan pada masa itu, pasti ada kaitannya dengan Arung Palakka.
Buku ini juga tidak seperti mayoritas sejarah di Indonesia yang berfokus pada kejadian di Jawa, karena berlatar di Sulawesi Selatan. Dari karya Leonard ini, para pembaca bisa belajar untuk menuliskan sesuatu secara runtut dan menyambung. Bagi kalian yang ingin mempelajari era modern awal dari sejarah Indonesia di luar Jawa, buku ini sangat pas untuk menambah wawasan, apalagi bagi kalian yang ingin menulis biografi, Leonard mengajarkan pada para pembacanya untuk menuliskan apa adanya sesuai fakta, bukan sebuah hagiografi.
Judul buku: Warisan Arung Palakka
Penulis: Leonard Y. Andaya
Penerjemah: Nurhady Sirimorok
Peresensi: Reza Maulana Hikam
Penerbit: Penerbit Ininnawa
Tebal buku: xvi+443 halaman
Tahun terbit: cetakan kedua, 2021
Harga: Rp.185.000. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi