Gas Air Mata untuk apa? Perang dan Pengendalian Massa Atau Tidak untuk Keduanya?

waktu baca 3 menit
Foto Ilustrasi : auroranews.id

KEMPALAN: GAS air mata kini menjadi sorotan sehubungan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, pasca laga Arema melawan persebaya pada sabtu (1/10/2022). Dengan dalih untuk meredam kerusuhan massa, polisi menggunakan gas air mata di dalam stadion, walaupun sebenarnya hal ini sangat bertentangan dengan aturan FIFA.

Lalu, sebenarnya kegunaan gas air mata itu untuk apa? Dilansir dari Kompas.com The verge, pada 31 agustus 2020 menuliskan, bahwa gas air mata secara khusus dikembangkan sebagai cara untuk memaksa tentara lawan keluar dari parit dan ke lapangan tebuka agar mereka bisa dibunuh.

Selama periode 1920-an, Layanan Perang Kimia Angkatan Darat AS, yang dipimpin oleh mayor Jenderal Amos Fries, berkampanye ke departemen kepolisian di seluruh AS untuk menggunakan gas air mata sebagai tindakan pengendalian massa.

BACA JUGA: Jarang Mematikan tapi Membunuh

Gas air mata di klaim dan dikampanyekan sebagai cara yang lebih manusiawi untuk membubarkan massa yang tidak patuh, dengan alasan orang tidak akan mati walaupun sudah terpapar gasnya. Ada pula alasan yang menyebutkan alasannya murah, menurut Anna Feigenbaum, penulis buku Tear Gas: From the Battlefields of World War I to The Street of Today.

“Murah untuk diproduksi dan murah untuk dibeli. Dan tidak perlu banyak pelatihan untuk menggunakannya, jadi mereka dapat menyebarkannya dengan cepat,” jelasnya.

Sejak itu, gas air mata sudah menjadi alat kepolisian di seluruh dunia untuk mengendalikan pengunjuk rasa atau demonstran. Terdapat banyak bentuk gas yang berbeda, tetapi mungkin jenis yang paling umum digunakan saat ini terbuat dari senyawa chlorobenzylidene malonitrile (CS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *