KEMPALAN: “HAJI adalah Arafah”. Maka, pada 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) semua jamaah haji wajib melaksanakan wukuf di Arafah. Wukuf adalah nama ibadah yaitu bagian dari Rukun Haji. Sementara, Arafah adalah nama tempat di mana wukuf harus dikerjakan.
Mengacu kepada kata Arafah yang bermakna mengenal, maka wukuf di Arafah adalah aktifitas berdiam diri dalam waktu tertentu yang bertujuan untuk (lebih) mengenal Allah. Di saat para jamaah haji itu berefleksi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, pada saat yang sama dapat dipastikan bahwa mereka juga akan bermuhasabah (berintrospeksi). Misalnya; sudah benarkah saya dalam menjalankan amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi ini? Sudah berusahakah saya mengikuti semua syariat Allah seperti yang telah diatur-Nya lewat Al-Qur’an dan Hadits?
Waktu Itu
Muhasabah atau refleksi tak hanya perlu dilakukan oleh umat Islam yang sedang berhaji dan sedang wukuf di Arafah. Tetapi, segenap umat Islam yang di tahun ini belum berkesempatan berhaji bisa melakukan hal yang sama. Intinya, siapapun bisa mengambil hikmah lewat muhasabah.
Mari menunduk. Hayatilah, bahwa waktu—suka atau tidak—terus berlalu. Waktu, diisi amaliyah bermakna atau tidak, terus bergerak. Maka, jangan menjadi pihak yang merugi sebagaimana yang Allah ingatkan sedari awal. Untuk itu, selalulah bermuhasabah; berintrospeksi, menghitung diri.
Allah bersumpah, dalam Surah ini: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS Al-’Ashr [103]: 1-3).
Jika Allah bersumpah dengan menyebut sesuatu, setidaknya ada tiga aspek penting yang harus kita perhatikan. Pertama, lewat sumpah, Allah bermaksud menarik perhatian kita agar menyimak pelajaran dari-Nya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi