Lalu, siapa yang tak pernah merugi? Persis bunyi ayat di atas. Mereka adalah orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.
Kalkulasi Pelecut
Bagaimana langkah-langkah agar setiap poin capaian pada ayat di atas dapat terlaksana bahkan ditingkatkan? Seringlah bermuhasabah. Supaya beruntung, keraplah berintrospeksi. Saat menghitung diri, bahkan jika perlu, amal baik tak usah kita ingat-ingat. Sebaliknya, hitung-hitunglah secara cermat khilaf, salah, dan dosa kita.
Sungguh, saat bermuhasabah, jika jujur akan banyak “catatan kurang bagus”. Catatan itu, semoga tidak hanya membuat kita prihatin tapi justru bisa menjadi pelecut agar bisa segera tertutupi dengan berbagai kebaikan.
Perhatikanlah hadits ini. “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susulilah sesuatu perbuatan buruk dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya. Dan, bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik” (HR At-Tirmidzi).
Manusia bersifat lemah. Jika tak berhati-hati, bisa berbuat salah tanpa disadari. Terkait ini, ada kisah menarik yang semoga bisa memberi pelajaran berkesan kepada kita. Kisah itu merupakan fragmen dalam kehidupan Imam Syafi’i. Bahwa, pribadi semulia itu pernah mengalami “situasi merugi” hanya karena kemaksiatan yang tak dia sengaja.
Imam Syafi’i diketahui memiliki daya hafal yang luar biasa. Dia sudah hafal Al-Qur’an ketika berumur tujuh tahun dan hafal kitab Al-Muwaththa` karya Imam Malik, sang guru, ketika berumur tujuh belas tahun.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi