Suatu ketika, Imam Syafi’i merasa berkurang daya hafalannya. Beliau lalu datang ke gurunya yaitu Waki` bin Jarrah, seorang ahli hadits, untuk mengadukan masalahnya.
Lalu, sang guru menanyakan kemungkinan Imam Syafi’i melakukan maksiat. Maka, setelah mengingat-ingat, Imam Syafi’i menyatakan bahwa pernah secara tak sengaja melihat tumit seorang perempuan yang ada di depannya.
Selepas berdialog dengan sang guru, menulislah Imam Syafi’i sebuah syair yang hingga kini terkenal dan dikutip di banyak kitab:
Aku bertanya pada seorang perihal buruknya ingatanku.
Maka dia menunjukkan kepadaku agar meninggalkan maksiat.
Dia menyampaikan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya.
Dan cahaya Allah tidak akan menunjuki kepada orang yang bermaksiat.
Fragmen dan syair Imam Syafi’i itu jelas mengajarkan sejumlah hal. Pertama, agar kita selalu berhati-hati sebab sebagai makhluk yang lemah relatif mudah kita tergelincir berbuat salah, baik disengaja atau pun tidak.
Kedua, kita harus sering bermuhasabah.
Ketiga, jika dari hasil muhasabah itu ada yang kita rasa “tak beres”, segera mintalah nasihat kepada orang yang kita percaya karena keshalihannya. Mohonlah nasihat, untuk ditunjuki jalan yang benar.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi