Di samping penguatan lini militer, Teheran juga sangat memahami adanya suatu pergeseran pola konfrontasi dari yang kini bergeser memanfaatkan instrumen perang ekonomi setelah menghadapi kebuntuan di sektor pertahanan militer.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Diplomasi pemimpin kita sering terlihat seperti lebih sibuk mencari tepuk tangan internasional, foto bersama pemimpin dunia, jauh dari diplomasi yang lebih substansial. Sekarang diplomasi juga bagian dari konten, yang dapat dikendalikan dengan algoritma
Ingin berperan dalam sebuah penyelesaian sengketa antar Negara, negara tidak menyadari lemah kekuatan militernya, itu hanya akan pamer sebagai diplomasi asal berjalan. Tidak mungkin akan bisa membatasi perilaku kekuatan besar, selain hanya mengikuti arusnya.
Mondar-mandir kesana-kemari diplomasi tanpa kapasitas kekuatan strategis yang hanya akan menjadi “teater sopan santun”. Yang terjadi hanya diplomasi repetitif, bukan diplomasi yang lebih substansial.
Pada Selasa (26/5/2026), Presiden Prabowo Subianto tiba di Bandara Orly, Paris, Perancis, sekitar pukul 09.50 waktu setempat. Ketibaan Prabowo di Bandara Orly disambut oleh Menteri Tenaga Kerja dan Solidaritas Prancis Jean-Pierre Farandou dan regu jajar kehormatan.
Di hotel tempat Kepala Negara menginap, Prabowo juga disambut penuh antusias ratusan warga negara Indonesia yang telah menunggu sejak pagi hari. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengatakan kunjungan ke Perancis ini untuk memenuhi undangan otoritas pemerintah setempat.
Itulah contoh kunjungan Presiden Prabowo di saat ummat Islam merayakan Idul Adha 1447 Hijriah di tanah air.
“Saat ini, Indonesia memiliki banyak kerja sama super strategis dengan Perancis, dan state visit ini diharapkan makin memperkuat posisi Indonesia di Eropa, khususnya Perancis,” kata Sekkab Teddy.
Bahwa dalam rivalitas kekuatan besar, hukum internasional seringkali kehilangan suatu eksistensinya jika tidak ditopang oleh kekuatan pertahanan militernya.
Belajarlah dari Iran untuk mengantisipasi musuh-musuh regional yang terus mau mengakuisisi persenjataan canggih, pemerintah Iran berkomitmen menggenjot pembaruan teknologi tempur dalam negeri.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengintegrasikan angkatan bersenjata Iran dengan lembaga universitas, pusat riset sains, dan perusahaan berbasis science (pengetahuan) guna melahirkan inovasi militernya
Bagi Iran, itu memperkuat posisi tawar mereka dengan menunjukkan diplomasi mereka bernegosiasi dari posisi kekuatan militer bukan dengan teater sopan santun karena kelemahannya.
Budaya militer Iran yang berakar pada konsep “muqawamah” atau perlawanan atau resistensi membuat Iran tidak dipandang sebelah mata. Langkah modernisasi pertahanan Iran dirancang agar Teheran mampu dalam persaingan keunggulan teknologi taktis di wilayah chokepoint global.
Di samping penguatan lini militer, Teheran juga sangat memahami adanya suatu pergeseran pola konfrontasi dari yang kini bergeser memanfaatkan instrumen perang ekonomi setelah menghadapi kebuntuan di sektor pertahanan militer.
Kalau Iran kalah dengan Amerika maka tidak akan ada lagi negara yang berani melawan keangkuhan kekuatan militer Amerika dan Israel yang di back up fuul Amerika.
Bagaimana dengan Indonesia, fakta politik dengan kapasitas kekuatan militer dan ekonomi yang lemah terlihat ketika Presiden Prabowo Subianto menandatangani Board of Peace (BoP) Charter pada Kamis, 22 Januari 2026, di Davos, Swiss, pada sela‑sela World Economic Forum 2026, dengan segala dampaknya seperti boneka hanya mengikuti arusnya bosnya.
Apakah hanya ingin mencari tepuk tangan internasional, foto bersama pemimpin dunia dan hanya berberbasis algoritma. Wallua’lam.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi