Rabu, 17 Juni 2026, pukul : 12:53 WIB
Surabaya
--°C

Menghidupkan Kembali Demokrasi

OLEH: Isa Ansori (Kolumnis)

KEMPALAN: Demo mahasiswa 11 April 2022 bisa dianggap sebagai salah satu titik pertemuan akumulasi kekecewaan masyarakat prodemokrasi setelah hampir 7 tahun mati suri di bawah kepemimpinan Jokowi.

Demokrasi kita menjadi seolah-olah. Setiap perbedaan pendapat yang dianggap tidak menguntungkan rezim selalu berakhir pada penangkapan dan pemenjaraan.

Irama kehidupan berdemokrasi tidak lagi diatur oleh undang – undang, tapi lebih banyak diorkestrasi oleh buzzer piaraan istana.

Para buzzer bebas mengarahkan narasi publik menurut kehendak tuannya. Sehingga apapapun yang dilakukan oleh tuannya meski melanggar rambu- rambu undang-undang yang mengatur kehidupan berdemokrasi dianggap sebagai bagian dinamika demokrasi.

BACA JUGA: Memilih Presiden yang Tepat

BACA JUGA  Tragis!, Kericuhan Pecah di Jalan Sehat Tahun Baru Islam Pemprov Jatim, Kotak Undian Ditumpahkan Massa

Begitu naif memang, mereka yang tergabung didalam buzzer, mereka berasal kalangan akademisi, LSM dan aktivis yang pernah terlibat dalam aksi penumbangan orde baru, namun sayangnya di tengah perjalanan mereka rela menggadaikan idealismenya demi memberi makan kepada keluarga. Ya karena memang mereka ibarat anjing penjaga, yang hanya bisa melihat majikannya, tanpa bisa menggunakan hati nuraninya.

Freud menyebut sebagai orang yang kehilangan superego, kehilangan kemampuan menggunakan hati nurani.

Demokrasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan seseorang untuk menggunakan hati nuraninya.

Dalam demokrasi manusia dituntun untuk mampu menghadirkan pemahaman bahwa dirinya sedang berada dalam suatu hubungan sosial dengan yang lainnya.

BACA JUGA: Mewaspadai Penumpang Gelap Aksi Mahasiswa 11 April 2022

BACA JUGA  Reformasi Mengusir Rakyat Dari Rumahnya Sendiri

Dalam konteks itu rasa nasionalisme seseorang akan secara sadar menghadirkan perasaan berada bersama orang lain, sehingga akan menghindarkan diri dari konflik kesukuan dan akan mampu menghadirkan konsep persaudaraan manusia untuk menghindari konflik nasional.

Selama 7 tahun ini demokrasi mengalami polarisasi makna. Demokrasi tereduksi secara sistemik dengan jargon saya Indonesia, saya Pancasila. Siapapun yang dipandang berbeda dalam memahami saya Indonesia dan saya Pancasila selalu dianggap tidak nasionalis, oposisi, radikal dan pantas untuk digebug.

Narasi-narasi yang dikembangkan sangat sarkastis, sehingga bangsa menjadi terbelah, kehilangan empati satu sama lain.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.