Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 13:04 WIB
Surabaya
--°C

Memilih Presiden yang Tepat

OLEH: Isa Ansori (Kolumnis)

KEMPALAN: Dalam sebuah video pengajian yang beredar di media sosial, terlihat bagaimana Cak Nun memberikan tausiah kepada warga besar PDIP. Tampak hadir dalam pengajian itu Hasto Kristianto, Sekjen PDIP dan Puan Maharani, Ketua DPP dan sekaligus juga Ketua DPR RI.

Dalam ceramahnya, Cak Nun mengatakan bahwa kita ini bangsa yang besar, agar kita bisa jadi besar mari kita mulai merevolusi diri kita masing – masing untuk bisa memulai menjadi bangsa yang besar. Sayangnya kita saat ini, punya presiden, tapi belum tepat untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar.

Cak Nun berharap sebelum dan sesudah tahun 2024, mari kita siapkan diri kita untuk mempersiapkan masing-masing agar bisa melahirkan diri menjadi pribadi yang siap melahirkan bangsa yang besar melalui kepemimpinan yang tepat.

Begitulah kira- kira yang bisa dipahami dari sekelumit penggajian Cak Nun di markas PDIP yang beredar melalui video di media sosial.

Lalu presiden yang tepat itu seperti apa? Untuk memahami kita mesti harus memahami apa pengertian tepat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pengertian tepat adalah betul lurus sesuai dengan tujuan. Tepat juga bisa diartikan sebagai tindakan yang mengarah pada tujuan yang mau dicapai. Kata tepat biasanya erat sekali dengan efektif dan efisien.

Pengertian efektif adalah suatu kondisi di mana metode dan cara tertentu berhasil mendatangkan output akhir sesuai target. Dapat dikatakan bahwa efektivitas berhubungan dengan akibat, pengaruh atau efek.

BACA JUGA: Mewaspadai Penumpang Gelap Aksi Mahasiswa 11 April 2022

Sedangkan efisien menitikberatkan pada penggunaan sumber daya untuk mencapai hasil tertentu. Sumber daya tersebut dapat berupa tenaga kerja, uang, dan segala sesuatu yang dikeluarkan demi mencapai target. Semakin sedikit daya dan usaha, semakin efisien proses kerja.

Bangsa ini dibangun dengan konsep matang hasil perdebatan para founding fathers. Hasil dari perdebatan itu tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyatnya agar menjadi bangsa yang merdeka.

Pada awal – awal Kemerdekaan, Bung Karno membawa bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka, sejajar dengan bangsa – bangsa lain yang ada di dunia, lalu untuk itu Soekarno menggagas adanya KTT tingkat tinggi di antara negara negara non block tahun 1955 dengan nama Konferensi Bandung. Dalam konteks menuju tujuan memerdekakan dan mensejajarkan dengan bangsa-bangsa di dunia, maka Soekarno adalah presiden yang tepat.

Pasca 24 tahun Reformasi menjelang tahun 2024, sebelum pemilihan presiden, bangsa Indonesia ditantang untuk menghadirkan presiden yang tepat untuk menjawab tantangan masa depan Indonesia.

BACA JUGA: Dari Yogya Menuju Indonesia

Tantangan kita saat ini adalah dengan sumber daya alam yang begitu luas tapi kita belum bisa memberi kesejahteraan dan kemakmuran kepada rakyat Indonesia, bahkan sumber daya alam kita banyak dikuasai oleh mafia dan asing. Rakyat hanya menjadi penonton dan buruh di negerinya sendiri.

Terlebih lagi ditengah keterpurukan itu, bangsa ini juga terancam terjadi perpecahan, keadilan susah dicari, kedamaian hanya ilusi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.