Demokrasi yang seharusnya jauh dari sikap bermusuhan, mengalami penistaan dengan suburnya aksi kekerasan, kekerasan yang meliputi kekerasan verbal dan kekerasan fisik.
Aksi unjuk rasa sejatinya aksi moral yang sarat dengan pesan-pesan moral, kini pun juga mengalami pergeseran. Kadang sebagai bagian dari aksi moral itu dibutuhkan penekanan yang kuat, nah kadang cara memilih penekanan inilah disusupi dengan unsur kekerasan.
Kalau melihat aksi kemarin, kalangan mahasiswa dan masyarakat tentu adalah kalangan yang paham konstitusi dan paham berdemokrasi.
BACA JUGA: Dari Yogya Menuju Indonesia
Mereka melaksanakan semua apa yang menjadi ketentuan unjuk rasa sebagai jalan menyampaikan pendapat dan itulah cara berdemokrasi yang sebenarnya.
Namun sayang aksi itu dikotori aksi kekerasan yang tidak berasal dari mereka. Para pengunjuk rasa dari kalangan mahasiswa dan masyarakat, mereka secara tertib melaksanakan itu.
Kedatangan Ade Armando yang selama dianggap sebagai perusak sendi-sendi berdemokrasi dengan narasi-narasi yang sarkastis dan cenderung memecah belah menemukan momentumnya. Kedatangan Ade di kerumunan massa aksi, mendapatkan sambutan kekerasan yang terakumulasi. Sehingga nasib Ade Armando mengalami kekerasan.
Ini patut disesalkan, siapapun tidak boleh melakukan kekerasan. Tapi siapa yang bisa mencegah kekerasan, ketika selama ini mereka diperlakukan dengan keras.
BACA JUGA: Membumikan Visi Gotong Royong Menuju Surabaya Maju, Humanisme dan Berkelanjutan
Pada akhirnya demokrasi kita yang sudah mati suri ini harus dihidupkan kembali. Menjadi demokrasi Pancasila, demokrasi yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan dan moralitas. Demokrasi yang mengedepankan perasaan kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan.
Saatnya Indonesia bangkit dengan mencari pemimpin yang tepat agar bisa menghidupkan kembali demokrasi dengan merawat perbedaan menjadi persatuan, menghadirkan keadilan untuk menciptakan perdamaian. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi