Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 11:46 WIB
Surabaya
--°C

Demo Masak

Bahasa dan relasi kekuasaan terjadi sepanjang zaman. Di era Jokowi bahasa adalah identitas untuk menjunjukkan siapa yang ada di pihak kita dan siapa di pihak mereka. Pada 2014 dalam pemilihan presiden muncul semboyan “Jokowi adalah kita”.

Jargon ini dikotomis dan digunakan untuk mendapatkan dukungan dan rasa simpati masyarakat luas terhadap Jokowi sebagai calon presiden RI. Pemilihan kata ‘’kita’’ menyiratkan adanya kesamaan, kebersamaan, dan kelekatan figur Jokowi dengan masyarakat sebagai calon pemilihnya.

Hal yang sama terulang lagi menjelang akhir masa jabatan Jokowi di 2024. Ketika isu penundaan pemilu makin gencar dan perlawanan terhadap isu itu juga semakin kuat maka muncullah jargon ‘’2024 Ikut Jokowi’’. Jargon ini juga dikotomis, memisahkan antara kita dan mereka.

BACA JUGA  Reformasi Kepemimpinan Sekolah Sidoarjo: Bebas Transaksi, Berbasis Domisili

BACA JUGA: Juragan99

Relasi kekuasaan dalam pertarungan politik diwujudkan melalui penggunaan kata-kata yang menunjukkan perlawanan satu pihak dengan pihak lainnya dengan cara mendiskreditkan pihak lawan labelling dan stereotyping.

Pelabelan muncul untuk menunjukkan relasi kekuasaan yang berkaitan dengan identitas kelompok. Pelabelan ini bertujuan membuat perbedaan atau pemisahan, misalnya intoleransi versus toleransi, kebinekaan versus radikal, Pancasila versus anti-Pancasila.

Maka muncullah cebong lawan kampret dan kemudian kadrun lawan cebong. Labelisasi itu menjadi garis demarkasi yang memisahkan satu front dengan front lainnya, dalam perang terbuka yang berkepanjangan.

BACA JUGA: Bang Toyib

Relasi kuasa itu terlihat pada dua peristiwa di Patung Kuda dan di Lenteng Agung. Dua-duanya adalah demonstrasi, tetapi konotasinya berseberangan dan bertolak belakang. Demonstrasi yang dilakukan anak-anak mahasiswa itu adalah oposisi yang tidak abash. Karena itu mereka diisolasi dan disingkirkan.

BACA JUGA  UAS UNESA 2025-2026

Demonstrasi yang dilakukan para elite PDIP itu adalah demonstrasi dukungan terhadap kekuasaan.  Demo ini dianggap lebih absah dan legitimate. Demonstrasi sebagai bagian dari ekspresi demokrasi telah mengalami degradasi dan pelecehan menjadi demonstrasi panci dan masak-memasak. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.